Bawang Merah Brebes Menembus Thailand, Dari Lumbung Nasional Menuju Pasar Global

0
63
Foto: Kemenko Pangan

(Vibizmedia – Brebes, Jawa Tengah) Produksi bawang merah Indonesia terus menunjukkan perkembangan positif. Setelah mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik, komoditas hortikultura tersebut mulai diarahkan untuk memperluas pasar ke mancanegara. Salah satu langkah terbaru ditandai dengan pelepasan ekspor bawang merah asal Brebes, Jawa Tengah, ke Thailand dari fasilitas Controlled Atmosphere Storage (CAS), Sabtu (12/9/2026).

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan ekspor tersebut menjadi bukti bahwa produksi bawang merah nasional tidak hanya semakin kuat dalam memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia, tetapi juga memiliki peluang untuk bersaing di pasar regional.

“Kita bersyukur kebutuhan bawang merah dalam negeri sudah terpenuhi. Sekarang kita dorong agar produksi terus meningkat sehingga petani mendapatkan pasar yang lebih luas dan harga yang lebih baik, termasuk pasar ekspor,” ujar Zulkifli Hasan.

Langkah ini sekaligus memperlihatkan perubahan orientasi pengembangan bawang merah nasional. Komoditas yang selama ini identik dengan kebutuhan dapur masyarakat dan pengendalian inflasi mulai diposisikan sebagai produk pertanian yang memiliki potensi perdagangan lintas negara.

Brebes, Lumbung Bawang Merah Indonesia

Brebes memiliki posisi strategis dalam peta produksi bawang merah nasional. Kabupaten di pesisir utara Jawa Tengah tersebut telah lama dikenal sebagai salah satu sentra terbesar bawang merah Indonesia.

Data Pemerintah Kabupaten Brebes menunjukkan produksi bawang merah pada 2024 mencapai sekitar 409.107 ton. Secara historis, Brebes memberikan kontribusi sekitar 20 persen terhadap produksi bawang merah nasional dan sekitar 60 persen terhadap produksi Jawa Tengah.

Wilayah sentra bawang merah Brebes tersebar di sejumlah kecamatan, terutama Larangan, Wanasari, Bulakamba dan Brebes. Luas tanam komoditas ini secara rutin berada di kisaran puluhan ribu hektare setiap tahun.

Skala produksi tersebut menjadikan bawang merah bukan sekadar komoditas pertanian, tetapi bagian penting dari struktur ekonomi masyarakat Brebes. Aktivitas budidaya, perdagangan, distribusi, pengolahan hingga pemasaran melibatkan banyak pelaku ekonomi dari tingkat petani hingga industri.

Karena itu, perkembangan pasar bawang merah memiliki dampak langsung terhadap pendapatan petani sekaligus perekonomian daerah.

Dari Pasar Domestik ke Pasar Asia Tenggara

Peluang ekspor bawang merah Brebes sebenarnya bukan hal baru. Komoditas ini sebelumnya telah dikirim ke sejumlah negara Asia Tenggara, termasuk Thailand, Vietnam, Malaysia dan Singapura.

Pada 2025, misalnya, Brebes mencatat ekspor bawang merah sebanyak 11.800 ton dengan tujuan Thailand, Singapura dan Vietnam. Pemerintah daerah ketika itu juga menargetkan peningkatan volume ekspor hingga 20.000 ton.

Thailand menjadi salah satu pasar penting karena kebutuhan dan permintaan bawang merah di kawasan Asia Tenggara cukup besar. Penetrasi ke pasar tersebut juga memberikan peluang bagi Indonesia untuk memperkuat posisi sebagai pemasok komoditas hortikultura regional.

Ekspor tidak hanya berarti tambahan devisa. Bagi petani, terbukanya pasar luar negeri dapat menjadi salah satu mekanisme untuk menyerap kelebihan produksi ketika pasokan domestik meningkat.

Dengan demikian, ekspor dapat berfungsi sebagai katup pengaman ketika terjadi panen raya sekaligus menjaga agar peningkatan produksi tidak berujung pada tekanan harga di tingkat petani.

CAS Menjawab Tantangan Pascapanen

Salah satu tantangan utama komoditas hortikultura adalah menjaga kualitas setelah panen. Bawang merah memiliki karakteristik produk yang membutuhkan penanganan pascapanen secara baik agar kualitasnya tetap terjaga selama proses penyimpanan dan distribusi.

Keberadaan Controlled Atmosphere Storage (CAS) menjadi bagian penting dalam rantai pasok tersebut. Teknologi penyimpanan dengan pengaturan kondisi atmosfer dapat membantu memperpanjang masa simpan dan menjaga kualitas produk sebelum didistribusikan ke pasar.

Bagi komoditas ekspor, aspek ini menjadi semakin penting. Produk yang dikirim ke luar negeri harus mampu mempertahankan mutu sejak dari sentra produksi hingga sampai di negara tujuan.

Karena itu, pembangunan infrastruktur pascapanen seperti fasilitas penyimpanan, sortasi, pengemasan dan distribusi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari strategi meningkatkan daya saing bawang merah Indonesia.

Menjaga Produksi Sekaligus Melindungi Pasar Dalam Negeri

Pemerintah menghadapi tantangan untuk menjaga keseimbangan antara kepentingan ekspor dan kebutuhan domestik.

Zulkifli Hasan menegaskan bahwa peningkatan ekspor tidak boleh mengurangi ketersediaan bawang merah bagi masyarakat Indonesia. Produksi harus terus ditingkatkan sehingga kebutuhan domestik tetap aman sekaligus menyediakan volume yang cukup untuk pasar luar negeri.

“Jangan sampai petani sudah produksi banyak, tetapi pasarnya tidak ada. Karena itu pemerintah hadir memastikan ada pasar, baik di dalam negeri maupun luar negeri,” katanya.

Pendekatan tersebut penting karena bawang merah merupakan salah satu komoditas yang berpengaruh terhadap stabilitas harga pangan dan inflasi. Ketika produksi terganggu atau pasokan berkurang, perubahan harga bawang merah dapat segera dirasakan konsumen.

Sebaliknya, ketika produksi melimpah tanpa diikuti pasar yang memadai, harga di tingkat petani dapat mengalami tekanan.

Karena itu, perluasan pasar ekspor dapat berjalan beriringan dengan penguatan pasar domestik.

MBG Menjadi Potensi Pasar Baru

Selain ekspor, pemerintah juga melihat program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai salah satu peluang memperkuat penyerapan produk pertanian domestik.

Menko Pangan mendorong agar produksi bawang merah petani dapat diserap untuk kebutuhan program MBG melalui Badan Gizi Nasional (BGN).

Langkah tersebut memiliki dua manfaat sekaligus. Di satu sisi, program pemerintah dapat menjadi pasar bagi produk pertanian lokal. Di sisi lain, petani memperoleh kepastian tambahan mengenai saluran pemasaran hasil panennya.

Jika dikembangkan dengan sistem pengadaan yang terencana, kebutuhan bahan pangan untuk program berskala nasional seperti MBG dapat menciptakan rantai permintaan yang lebih stabil bagi petani dan pelaku usaha pangan.

Dengan demikian, strategi pengembangan bawang merah tidak hanya bertumpu pada ekspor, tetapi juga memperkuat pasar domestik melalui berbagai program pemerintah.

Perbenihan Jadi Kunci Daya Saing

Tantangan berikutnya adalah meningkatkan produktivitas sekaligus kualitas bawang merah.

Pemerintah mendorong penguatan sistem perbenihan agar petani memiliki akses terhadap benih berkualitas. Upaya ini penting untuk meningkatkan produktivitas, keseragaman hasil, ketahanan terhadap penyakit serta kualitas produk yang dibutuhkan pasar ekspor.

Pengembangan benih juga menjadi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap sumber benih dari luar negeri.

Ketersediaan benih berkualitas di dalam negeri pada akhirnya akan memperkuat fondasi industri bawang merah dari hulu. Jika produktivitas meningkat dan kualitas lebih konsisten, daya tawar Indonesia di pasar internasional juga semakin besar.

Hilirisasi Membuka Nilai Tambah

Potensi bawang merah Brebes sebenarnya tidak berhenti pada produk segar. Pengembangan industri pengolahan membuka peluang nilai tambah yang lebih besar.

Bawang merah dapat diolah menjadi bawang goreng, pasta bawang, bumbu dan berbagai produk pangan lainnya. Pemerintah Kabupaten Brebes sebelumnya mencatat bahwa produk olahan bawang merah bahkan telah memiliki pasar ekspor, termasuk pasta bawang yang dikirim ke Arab Saudi.

Hilirisasi menjadi penting karena memberikan pilihan pasar yang lebih beragam bagi petani dan pelaku usaha. Ketika harga bawang merah segar mengalami tekanan akibat produksi melimpah, sebagian hasil dapat diarahkan ke industri pengolahan.

Dengan demikian, ekosistem bawang merah tidak hanya menghasilkan komoditas primer, tetapi juga menciptakan industri pengolahan, lapangan kerja dan peluang usaha baru.

Dari Kebanggaan Daerah Menjadi Komoditas Global

Perjalanan bawang merah Brebes memperlihatkan bagaimana komoditas lokal dapat berkembang menjadi bagian dari strategi perdagangan pertanian nasional.

Brebes memiliki modal kuat berupa basis produksi, pengalaman petani, jaringan perdagangan serta reputasi sebagai salah satu sentra bawang merah terbesar di Indonesia. Tantangannya kini adalah bagaimana seluruh keunggulan tersebut diubah menjadi daya saing yang berkelanjutan.

Pemerintah perlu memastikan tiga mata rantai utama berjalan secara bersamaan: produksi yang produktif, pasar yang pasti dan tata kelola pascapanen yang kuat.

Jika ketiganya diperkuat, ekspor tidak hanya menjadi aktivitas perdagangan sesaat ketika produksi berlebih, tetapi dapat berkembang menjadi pasar yang berkelanjutan.

Bagi petani Brebes, pasar ekspor berarti peluang memperoleh pasar yang lebih luas. Bagi Indonesia, ekspor bawang merah menjadi bukti bahwa komoditas hortikultura nasional memiliki kemampuan untuk bersaing di kawasan.

Dari lahan-lahan pertanian di Brebes, bawang merah kini memiliki peluang untuk membawa nama Indonesia semakin jauh ke pasar Asia. Tantangan berikutnya adalah memastikan pertumbuhan tersebut benar-benar kembali kepada petani dalam bentuk produktivitas yang lebih tinggi, harga yang lebih baik dan kesejahteraan yang semakin kuat.