Dampak Ekonomi MotoGP Mandalika Capai Rp4,7 Triliun, Bappenas Susun Desain Besar Industri Olahraga

0
78
Foto: Kemenpora

(Vibizmedia – Jakarta) Penyelenggaraan Pertamina Grand Prix of Indonesia atau MotoGP Mandalika 2025 diperkirakan memberikan dampak ekonomi sebesar Rp2,7 triliun hingga Rp4,7 triliun. Temuan tersebut menjadi salah satu dasar pemerintah untuk memperkuat pengembangan sport tourism sekaligus menyusun arah industri olahraga nasional.

Hasil kajian tersebut dituangkan dalam Buku MotoGP Mandalika 2025: Akselerasi Ekonomi, Citra, dan Pariwisata yang diluncurkan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) di Gedung Bappenas, Jakarta, Rabu (30/9/2026).

Pada kesempatan yang sama, pemerintah memulai penyusunan Desain Besar Pengembangan Industri Olahraga Nasional sebagai kerangka bersama untuk mengembangkan ekosistem olahraga yang lebih terintegrasi.

Kajian buku tersebut merupakan hasil kolaborasi Kementerian PPN/Bappenas dengan PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) dan Mandalika Grand Prix Association (MGPA), yang merupakan bagian dari Holding BUMN Aviasi dan Pariwisata PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney.

Penyusunan kajian juga melibatkan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian Pariwisata, Kementerian Pemuda dan Olahraga, Kementerian Sekretariat Negara, Badan Pusat Statistik (BPS), serta Bank Indonesia.

MotoGP Beri Dampak Ekonomi dan Promosi

Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy mengatakan pengalaman penyelenggaraan MotoGP Mandalika memperlihatkan pentingnya membangun ekosistem industri olahraga secara terpadu.

Menurutnya, potensi industri olahraga Indonesia masih belum sepenuhnya dikonversi menjadi nilai tambah ekonomi, investasi, dan penciptaan lapangan kerja. Kondisi tersebut antara lain dipengaruhi oleh ekosistem yang masih terfragmentasi, baik dalam hal data, produk, industri, sumber daya manusia, maupun pemanfaatan infrastruktur olahraga.

“Pembelajaran dari MotoGP Mandalika menunjukkan pentingnya pengembangan ekosistem industri olahraga yang terpadu. Potensi industri olahraga belum sepenuhnya terkonversi menjadi nilai tambah, investasi, dan lapangan kerja di dalam negeri. Ekosistemnya masih terfragmentasi, mulai dari data, produk, industri, dan sumber daya manusia hingga pemanfaatan infrastruktur olahraga,” ujar Rachmat.

Kajian tersebut menghitung dampak ekonomi MotoGP dari berbagai sisi, mulai dari dampak langsung hingga dampak tidak langsung dan dampak lanjutan (induced impact).

Penyelenggaraan ajang balap motor internasional itu juga berkontribusi terhadap penciptaan puluhan ribu kesempatan kerja selama tahap persiapan hingga pelaksanaan. Manfaat ekonominya dirasakan oleh berbagai sektor, termasuk pariwisata, UMKM, transportasi, akomodasi, ekonomi kreatif, serta masyarakat di Nusa Tenggara Barat (NTB).

Selain dampak ekonomi, MotoGP Mandalika memberikan nilai promosi bagi Indonesia. Eksposur media internasional yang dihasilkan ajang tersebut tercatat memiliki Advertising Value Equivalency (AVE) sebesar 361,6 juta euro atau sekitar Rp6,9 triliun.

Pengalaman Wisatawan Jadi Modal Pengembangan

Untuk mengukur dampak penyelenggaraan secara lebih luas, Kementerian PPN/Bappenas bersama ITDC melakukan survei selama MotoGP Mandalika 2025.

Survei melibatkan lebih dari 1.800 responden yang terdiri atas penonton domestik, wisatawan mancanegara, pelaku UMKM, tenaga kerja, dan sponsor. Hasilnya menunjukkan skor pengalaman penonton atau brand equity sebesar 5,07 dari skala 6.

Kajian juga menemukan adanya potensi peningkatan kunjungan wisatawan seiring semakin kuatnya eksposur Mandalika. Dengan dukungan promosi destinasi yang terintegrasi, kunjungan wisatawan diperkirakan dapat meningkat sekitar 11 persen.

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan MotoGP Mandalika memperlihatkan bahwa event olahraga internasional dapat memberikan dampak lebih luas daripada sekadar penyelenggaraan kompetisi.

“MotoGP Mandalika telah memperlihatkan bagaimana sebuah event olahraga kelas dunia mampu memperkuat daya tarik destinasi, meningkatkan kunjungan wisatawan, memperpanjang lama tinggal wisatawan, serta menggerakkan ekonomi lokal. Sinergi sektor pariwisata dengan olahraga akan terus diperkuat sebagai bagian dari pengembangan sport tourism Indonesia,” kata Widiyanti.

Dampak terhadap ekonomi masyarakat juga terlihat melalui keterlibatan UMKM, meningkatnya aktivitas usaha, dan penciptaan lapangan kerja. Survei mencatat kepuasan tenaga kerja dan relawan berada pada level 5,51 dari skala 6. Sementara kepuasan pelaku UMKM dan tenant secara keseluruhan mencapai 5,23.

Dukungan Pemerintah Daerah

Keberhasilan penyelenggaraan MotoGP Mandalika juga didukung pemerintah daerah. Pemerintah Provinsi NTB bersama pemerintah kabupaten/kota memberikan dukungan dalam berbagai aspek, mulai dari anggaran penyelenggaraan dan promosi pariwisata hingga pelayanan kesehatan, pengamanan, peningkatan infrastruktur, dan kegiatan pendukung lainnya.

Wakil Gubernur NTB Indah Dhamayanti Putri turut hadir dalam acara tersebut. Menurutnya, Mandalika merupakan salah satu aset strategis daerah yang perlu dikembangkan secara berkelanjutan.

Keberhasilan MotoGP, kata dia, tidak semata-mata diukur dari jumlah penonton, tetapi juga dari peningkatan citra Mandalika, kualitas pengalaman wisatawan, dan kontribusinya terhadap perekonomian daerah dalam jangka panjang.

“MotoGP Mandalika menunjukkan bahwa event olahraga internasional dapat menjadi katalis bagi pengembangan kawasan secara berkelanjutan,” ujar Indah.

Dari Event-Based Economy Menuju Event-Led Development

ITDC melihat penyelenggaraan MotoGP sebagai momentum untuk mengembangkan manfaat kawasan yang tidak berhenti ketika event berakhir.

Perusahaan menilai pendekatan event-based economy perlu dikembangkan menjadi event-led development, sehingga kegiatan olahraga dapat menjadi penggerak pembangunan kawasan sekaligus menghasilkan manfaat ekonomi dan sosial secara berkelanjutan.

Dengan pengalaman lebih dari 52 tahun, ITDC terus memperkuat perannya sebagai Master Developer dan Asset Manager. Upaya tersebut dilakukan melalui pengembangan infrastruktur, fasilitas, dan layanan yang terintegrasi, disertai kolaborasi dengan pelaku industri dan masyarakat sekitar kawasan.

“Upaya ini menjadi bagian dari komitmen ITDC untuk memperkuat The Mandalika sebagai destinasi sport tourism berkelas dunia yang memberikan nilai tambah berkelanjutan bagi kawasan dan masyarakat,” ujar Plt. Direktur Utama ITDC Ahmad Fajar.

Bappenas Mulai Susun Desain Besar Industri Olahraga

Pengalaman MotoGP Mandalika kemudian menjadi salah satu pembelajaran dalam penyusunan kebijakan industri olahraga nasional.

Kementerian PPN/Bappenas secara resmi memulai penyusunan Desain Besar Pengembangan Industri Olahraga Nasional. Dokumen tersebut nantinya menjadi acuan lintas sektor untuk menentukan arah, fokus, target, serta pembagian peran dalam pengembangan industri olahraga.

“Kementerian PPN/Bappenas memulai penyusunan Desain Besar Pengembangan Industri Olahraga Nasional sebagai acuan bersama yang menetapkan arah, fokus, target, serta pembagian peran lintas sektor,” ujar Rachmat.

Desain besar tersebut diarahkan untuk membangun ekosistem industri olahraga yang berkelanjutan. Di dalamnya termasuk penguatan koordinasi pemerintah pusat dan daerah, pembagian peran antarpemangku kepentingan, serta sistem pemantauan dan evaluasi.

Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir menilai pengembangan industri olahraga membutuhkan keterlibatan berbagai sektor.

“Pengembangan industri olahraga harus menjadi gerakan bersama. Prestasi olahraga, industri olahraga, dan penyelenggaraan event internasional saling memperkuat. Kolaborasi lintas kementerian menjadi fondasi agar Indonesia semakin mampu menjadi tuan rumah berbagai ajang olahraga dunia yang profesional, berkelanjutan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Erick.

Pemerintah berharap hasil kajian MotoGP Mandalika dapat menjadi salah satu referensi dalam merumuskan kebijakan sport tourism dan industri olahraga, sekaligus mendukung sasaran pembangunan nasional dalam RPJMN 2025–2029.

“Pada akhirnya, yang ingin kita bangun bukan hanya semakin banyak event olahraga, tetapi ekosistem industri olahraga Indonesia yang semakin kuat, berdaya saing, dan mampu memberikan nilai tambah bagi perekonomian serta kesejahteraan masyarakat,” pungkas Rachmat.