Surplus Dagang Indonesia Melonjak, Hilirisasi Jadi Penggerak Ekspor

0
63
Ilustrasi Kontainer (Foto: Kemenhub)

(Vibizmedia – Economy & Business) Neraca perdagangan Agustus 2026 surplus USD3,55 miliar, melonjak dibandingkan surplus Juli yang hanya USD0,12 miliar. Dengan capaian tersebut, surplus perdagangan kumulatif Januari–Agustus 2026 mencapai USD7,25 miliar. Kinerja perdagangan Indonesia kembali mencatatkan penguatan.

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan, surplus Agustus terutama ditopang kinerja perdagangan nonmigas yang mencatat surplus USD6,09 miliar, meski sektor migas masih mengalami defisit USD2,54 miliar.

Tiga kelompok komoditas menjadi penyumbang surplus nonmigas terbesar pada Agustus, yaitu lemak dan minyak hewani atau nabati (HS 15) sebesar USD3,95 miliar, bahan bakar mineral (HS 27) USD2,45 miliar, serta besi dan baja (HS 72) USD1,78 miliar.

Dari sisi negara mitra, Amerika Serikat menyumbang surplus terbesar senilai USD2,41 miliar, disusul India USD1,19 miliar dan Malaysia USD0,83 miliar.

Penguatan perdagangan tersebut tidak terlepas dari kinerja ekspor. Pada Agustus 2026, ekspor Indonesia mencapai USD26,61 miliar, tumbuh 6,72 persen dibandingkan Agustus 2025. Secara kumulatif, ekspor Januari–Agustus mencapai USD193,64 miliar atau tumbuh 4,74 persen.

Industri pengolahan menjadi motor utama ekspor nasional. Nilai ekspor sektor ini mencapai USD159,55 miliar atau sekitar 82,40 persen dari total ekspor Januari–Agustus, dengan pertumbuhan 7,87 persen. Beberapa komoditas yang mencatat peningkatan signifikan antara lain aluminium dan barang daripadanya, nikel dan barang daripadanya, serta tembaga dan barang daripadanya.

Mendag menilai capaian tersebut menunjukkan proses hilirisasi semakin memperkuat struktur ekspor Indonesia dengan mendorong produk bernilai tambah lebih tinggi.

Aktivitas manufaktur dan ekspansi ekonomi domestic, berdampak pada impor Januari–Agustus 2026 yang mencapai USD186,39 miliar, tumbuh 19,84 persen. Kenaikan terutama berasal dari bahan baku dan penolong yang meningkat 20,67 persen serta barang modal 18,82 persen.

Dengan ekspor yang terus bertumbuh dan industri pengolahan menjadi kontributor utama, kinerja perdagangan Indonesia menunjukkan pergeseran semakin kuat menuju produk bernilai tambah sekaligus memperkuat daya saing di pasar global.