Dari Devisa hingga Lapangan Kerja, Pariwisata Perkuat Ekonomi Indonesia

0
45
Foto: Kemenpar

(Vibizmedia – Jakarta) Memasuki dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming, sektor pariwisata Indonesia menunjukkan perkembangan positif, mulai dari peningkatan kunjungan wisatawan, bertambahnya lapangan kerja, hingga meningkatnya investasi dan kontribusi terhadap perekonomian nasional.

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyampaikan bahwa arah pembangunan pariwisata kini tidak hanya mengejar peningkatan jumlah kunjungan, tetapi juga menekankan manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat serta pemerataan pertumbuhan di berbagai daerah.

“Dua tahun terakhir, pariwisata Indonesia terus bertumbuh. Tahun 2025 menjadi salah satu tahun penting bagi pertumbuhan pariwisata Indonesia dan momentum itu berlanjut hingga 2026,” ujar Widiyanti dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (20/10/2026).

1. Kunjungan Wisatawan Terus Meningkat

Sepanjang 2025, Indonesia mencatat 15,39 juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman), naik 10,80 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Capaian tersebut melampaui target nasional yang ditetapkan sebesar 14–15 juta kunjungan. Pada periode yang sama, perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) mencapai 1,2 miliar perjalanan, tertinggi sepanjang sejarah pencatatan.

Pertumbuhan berlanjut hingga Agustus 2026. Jumlah kunjungan wisman mencapai 10,58 juta, meningkat 5,38 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Sementara itu, perjalanan wisnus tercatat sebanyak 842,15 juta, tumbuh 4,29 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Pertumbuhan pariwisata Indonesia menjadi yang tercepat kedua di antara lima ekonomi besar Asia Tenggara,” kata Widiyanti.

2. Pertumbuhan Pariwisata Meluas ke Berbagai Daerah

Perkembangan pariwisata juga ditandai dengan meningkatnya kunjungan ke berbagai destinasi di luar Bali dan kota-kota besar. Pada triwulan I 2026, kunjungan wisman ke kawasan Manado-Likupang tumbuh 60,42 persen, sedangkan Danau Toba mencatat kenaikan 33,40 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Dari sisi wisatawan domestik, Danau Toba mencatat pertumbuhan perjalanan tertinggi pada periode 2025–2026, yakni 106,68 persen. Berikutnya, kawasan Lombok-Gili Tramena mengalami peningkatan sebesar 75,45 persen.

Menurut Widiyanti, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas pariwisata semakin menyebar ke berbagai wilayah dan membuka kesempatan ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat setempat.

3. Pengeluaran Wisatawan Semakin Tinggi

Kualitas pariwisata juga tercermin dari peningkatan belanja wisatawan mancanegara. Pada semester I 2026, rata-rata pengeluaran wisman naik 6,36 persen menjadi 1.313 dolar AS atau sekitar Rp22,59 juta per kedatangan.

Pengeluaran tersebut memberikan manfaat langsung bagi berbagai jenis usaha, mulai dari hotel dan restoran hingga penjualan cendera mata, hiburan, serta paket wisata lokal. Dampak ini menjadi penting mengingat lebih dari 95 persen usaha di sektor pariwisata dijalankan oleh usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

4. Daya Saing Pariwisata Indonesia Menguat

Di tingkat internasional, Indonesia semakin memperkuat posisinya sebagai destinasi wisata yang kompetitif. Dalam Global Muslim Travel Index 2026, Indonesia menempati peringkat kedua sebagai destinasi wisata ramah Muslim terbaik di dunia.

Sementara itu, skor Indonesia dalam Travel and Tourism Development Index 2026 meningkat menjadi 4,56. Capaian tersebut menempatkan Indonesia di posisi kedua di Asia Tenggara dan keenam di kawasan Asia Pasifik.

Widiyanti menilai peningkatan daya saing ini turut memperkuat citra Indonesia sebagai destinasi yang semakin menarik bagi wisatawan global.

5. Pariwisata Menjadi Sumber Lapangan Kerja dan Investasi

Sektor pariwisata menyerap 25,91 juta tenaga kerja pada 2025, menjadi angka tertinggi dalam satu dekade terakhir. Penyerapan tenaga kerja mencakup berbagai bidang, seperti perhotelan, restoran, perjalanan wisata, transportasi, penyelenggaraan acara, ekonomi kreatif, serta usaha pendukung lainnya.

Jumlah tersebut menjadikan pariwisata sebagai sektor dengan penyerapan tenaga kerja terbesar ketiga setelah pertanian dan perdagangan. Bagi masyarakat, kondisi ini membuka kesempatan untuk bekerja, berusaha, dan memperoleh pendapatan dari kegiatan pariwisata.

Kepercayaan investor terhadap sektor ini juga tercermin dari realisasi investasi. Pada 2025, investasi pariwisata mencapai Rp73,56 triliun, kemudian berlanjut sebesar Rp39,68 triliun pada semester I 2026.

Di enam Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata, investasi selama semester I 2026 mencapai Rp1,4 triliun dan menghasilkan 1.858 lapangan kerja baru. Sementara itu, lima KEK lain yang memiliki aktivitas pariwisata mencatat investasi Rp4,5 triliun dengan penyerapan 1.621 tenaga kerja baru.

Widiyanti menegaskan bahwa investasi pariwisata tidak hanya berkaitan dengan pembangunan hotel atau fasilitas baru, tetapi juga menggerakkan permintaan barang dan jasa serta menciptakan kesempatan kerja di berbagai sektor pendukung.

6. Desa Wisata Memperluas Manfaat Ekonomi bagi Masyarakat

Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa mengatakan pemerataan manfaat pariwisata terlihat dari pertumbuhan desa wisata. Hingga September 2026, lebih dari 6.300 desa wisata telah tercatat dalam Jaringan Desa Wisata (Jadesta).

Pemantauan Kementerian Pariwisata terhadap 66 desa wisata menunjukkan bahwa pendapatan desa dari sektor pariwisata meningkat 29,62 persen, dari Rp46,05 miliar pada 2024 menjadi Rp59,70 miliar pada 2025.

Kunjungan wisman ke desa-desa tersebut tumbuh 35,48 persen, dari 54.922 menjadi 74.409 kunjungan. Adapun perjalanan wisnus meningkat 45,17 persen, dari sekitar 1,55 juta menjadi 2,25 juta perjalanan.

Dampak positif juga terlihat pada penyerapan tenaga kerja lokal yang meningkat 53,34 persen, dari 3.234 menjadi 4.959 orang. Jumlah kamar homestay bertambah hampir 50 persen menjadi 3.074 kamar, sedangkan jumlah UMKM di desa-desa yang dipantau mencapai 6.469 usaha pada Maret 2026.

Sejumlah desa wisata Indonesia juga meraih pengakuan internasional melalui penghargaan UN Tourism Best Tourism Village dalam dua tahun terakhir, antara lain Desa Wisata Jatiluwih dan Pemuteran di Bali serta Desa Wisata Wukirsari di DI Yogyakarta.

Ni Luh Puspa menilai perkembangan tersebut membuktikan bahwa pariwisata dapat mendekatkan peluang ekonomi kepada masyarakat desa, bukan sekadar mendatangkan wisatawan ke suatu wilayah.

7. Penyelenggaraan Event Menggerakkan Ekonomi Daerah

Penyelenggaraan acara juga menjadi salah satu instrumen untuk mendorong aktivitas ekonomi dalam waktu relatif singkat. Sepanjang 2025 hingga September 2026, Kementerian Pariwisata memberikan dukungan kepada 377 acara di berbagai daerah.

Hasil kajian terhadap 354 acara, termasuk Karisma Event Nusantara (KEN), kegiatan MICE (Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions), serta acara internasional, mencatat total 23,91 juta pengunjung. Kegiatan tersebut diperkirakan menghasilkan perputaran ekonomi sebesar Rp45,9 triliun.

Menurut Ni Luh Puspa, dampak penyelenggaraan acara dapat dirasakan langsung oleh pelaku usaha dan masyarakat melalui meningkatnya permintaan terhadap akomodasi, makanan dan minuman, transportasi, serta berbagai layanan pendukung.

Karena itu, pemerintah mendorong agar event tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga dimanfaatkan sebagai penggerak perekonomian daerah.

8. Penataan Usaha untuk Meningkatkan Kualitas Pariwisata

Selain mengejar pertumbuhan, Kementerian Pariwisata memperkuat tata kelola industri agar destinasi semakin aman dan bersih, sementara pelaku usaha dapat beroperasi dalam persaingan yang sehat.

Hingga 23 September 2026, tercatat 113.692 unit usaha akomodasi jangka pendek telah memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB). Jumlah tersebut bertambah 44.852 unit atau meningkat 65,2 persen dibandingkan posisi 31 Maret 2025, ketika program penataan mulai dijalankan.

Kementerian Pariwisata juga melakukan peninjauan lapangan dan pembinaan usaha di tujuh provinsi serta menjalin kemitraan dengan sembilan perusahaan online travel agent (OTA) untuk menyosialisasikan dan menerapkan kebijakan, termasuk penurunan daftar (delisting) usaha yang tidak memenuhi ketentuan. Sebanyak 1.553 pelaku usaha dan operator turut mengikuti kegiatan coaching clinic.

Ni Luh Puspa menjelaskan bahwa penataan tersebut diharapkan menciptakan persaingan yang lebih adil, meningkatkan perlindungan wisatawan, dan membuka peluang bagi peningkatan penerimaan daerah.

9. Prestasi Internasional Mengangkat Nama Indonesia

Pengakuan dunia terhadap pariwisata Indonesia terus bertambah. Sepanjang 2025 hingga September 2026, Indonesia meraih 311 penghargaan internasional di bidang pariwisata.

Salah satu pencapaian tersebut adalah terpilihnya Bali sebagai Best of the Best Destinations in the World 2026 versi Tripadvisor. Sejumlah destinasi alam, termasuk Kepulauan Komodo dan Gili Trawangan, serta sektor kuliner dan perhotelan Indonesia juga memperoleh berbagai penghargaan.

Indonesia turut mengantongi 47 MICHELIN Keys, penghargaan bagi hotel dan resor unggulan dunia. Jumlah ini meningkat dari 33 MICHELIN Keys yang diraih pada 2025, tahun pertama penghargaan tersebut diberikan.

Berbagai pengakuan ini memperlihatkan meningkatnya reputasi dan daya tarik destinasi Indonesia di mata wisatawan internasional.

10. Pendidikan Pariwisata Mendukung Program Prioritas Pemerintah

Kementerian Pariwisata juga memanfaatkan kapasitas enam Politeknik Pariwisata (Poltekpar) untuk mendukung sejumlah program pemerintah. Salah satunya melalui pelatihan higiene dan manajemen dapur untuk mendukung pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Poltekpar Makassar memberikan pelatihan terkait keamanan pangan, sanitasi, keselamatan kerja, manajemen dapur, dan produksi makanan. Poltekpar Lombok mengembangkan menu berbahan baku lokal sekaligus membantu peningkatan standar dapur.

Sementara itu, Poltekpar NHI Bandung mengembangkan pola pelatihan dan skema sertifikasi bagi kepala dapur serta juru masak MBG. Aset kampus tersebut juga dimanfaatkan sementara untuk mendukung penyelenggaraan Sekolah Rakyat, dengan peluang bagi lulusannya untuk melanjutkan pendidikan di politeknik pariwisata.

Enam Poltekpar juga menyiapkan pelatihan hospitality bagi 560 peserta program SMK Go Global. Di tingkat desa, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) mulai diintegrasikan dengan Koperasi Desa Merah Putih untuk memperkuat hubungan antara kegiatan pariwisata dan perekonomian desa.

Upaya menjaga kualitas destinasi turut dilakukan melalui Gerakan Wisata Bersih yang sejalan dengan Gerakan Indonesia ASRI. Sepanjang 2025, program tersebut menyelenggarakan 14 aksi bersih di 10 provinsi, melibatkan 9.134 peserta dan mengumpulkan 21,5 ton sampah.

Widiyanti menegaskan bahwa kebersihan destinasi bukan hanya meningkatkan kenyamanan wisatawan, tetapi juga mendukung kualitas lingkungan hidup masyarakat setempat.

11. Insentif dan Program untuk Memperluas Manfaat Pariwisata

Pemerintah juga menghadirkan berbagai dukungan agar manfaat pariwisata dapat dirasakan lebih luas. Bersama sejumlah pemangku kepentingan, Kementerian Pariwisata mendukung pemberian potongan harga transportasi pada periode liburan untuk menjaga keterjangkauan perjalanan masyarakat.

Selain itu, pemerintah menyediakan insentif Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 ditanggung pemerintah bagi pekerja pariwisata dengan penghasilan hingga Rp10 juta per bulan, dengan perkiraan 552.000 penerima manfaat.

Program Magang Nasional juga menjadi salah satu jalur bagi generasi muda untuk mendapatkan pengalaman dan pembelajaran langsung di industri pariwisata.

Widiyanti menyebut berbagai inisiatif tersebut sebagai bagian dari upaya menjaga kontribusi pariwisata terhadap perekonomian sekaligus memastikan manfaat pembangunan semakin dirasakan masyarakat.

12. Kontribusi terhadap PDB Nasional Terus Diperkuat

Pada 2025, kontribusi sektor pariwisata terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional tercatat sebesar 4,78 persen atau setara Rp1.138,90 triliun.

Untuk periode Januari–Juni 2026, kontribusi tersebut diperkirakan berada pada kisaran 4,02–4,90 persen. Besarnya peran pariwisata menunjukkan bahwa sektor ini menjadi salah satu penggerak ekonomi nasional, dengan efek berganda yang menjangkau tenaga kerja dan berbagai industri dalam rantai pasoknya.

13. Devisa Pariwisata Mengalami Peningkatan

Dari sisi penerimaan devisa, sektor pariwisata menghasilkan 18,27 miliar dolar AS atau sekitar Rp305,47 triliun sepanjang 2025. Angka tersebut meningkat 9,41 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Pada semester I 2026, devisa pariwisata tercatat mencapai 8,43 miliar dolar AS atau sekitar Rp140,95 triliun, naik 2,8 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Belanja wisatawan mancanegara tersebut turut memberikan pemasukan bagi pelaku usaha lokal dan memperkuat perputaran ekonomi di berbagai daerah.

Widiyanti menegaskan bahwa berbagai pencapaian pariwisata selama dua tahun pemerintahan bukan sekadar deretan angka, melainkan hasil sinergi dan komitmen untuk memperkuat ekosistem industri, menggerakkan ekonomi lokal, serta memperluas kesempatan bagi masyarakat.

“Mari terus bersama-sama mendukung kemajuan pariwisata Indonesia menuju masa depan yang lebih inklusif dan mendunia,” pungkasnya.