Jenama Lokal Jadi Andalan Baru Indonesia di Pasar Kreatif Global

0
48
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Teuku Riefky Harsya, menghadiri acara puncak Hari Ekonomi Kreatif Nasional (HEKRAFNAS) 2026 yang dirangkaikan dengan peluncuran Creative by Indonesia di Main Atrium Lippo Mall Nusantara, Jakarta, Sabtu (24/10/2026). (Foto: Kemenekraf)
(Vibizmedia – Jakarta) Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) meluncurkan inisiatif Creative by Indonesia sebagai langkah memperkuat identitas dan daya saing produk kreatif nasional di pasar domestik maupun internasional. Peluncuran tersebut dilakukan oleh Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, bersamaan dengan puncak peringatan Hari Ekonomi Kreatif Nasional (HEKRAFNAS) 2026 di Main Atrium Lippo Mall Nusantara, Jakarta, Sabtu (24/10/2026).

Program ini dirancang sebagai identitas kolektif bagi produk dari 21 subsektor ekonomi kreatif Indonesia melalui strategi nation branding yang bertumpu pada kekayaan intelektual (KI). Melalui pendekatan tersebut, pemerintah ingin memperkuat pengenalan jenama lokal sekaligus membuka peluang bagi karya kreatif Indonesia untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

Creative by Indonesia dikembangkan sebagai gerakan bersama yang dapat dimanfaatkan kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, asosiasi, komunitas, hingga pelaku industri. Implementasinya mencakup kurasi produk unggulan, penguatan identitas merek, serta promosi silang antarsubsektor dengan mengusung semangat Local Heroes Go National, National Champions Go Global.

Pendekatan ini diharapkan dapat membantu produk unggulan daerah berkembang menjadi jenama yang mampu bersaing secara nasional dan internasional, tanpa kehilangan ciri khas budaya maupun karakter lokal yang menjadi keunggulannya.

Menteri Ekraf Teuku Riefky Harsya menegaskan bahwa inisiatif tersebut tidak hanya ditujukan sebagai program kementerian, tetapi juga sebagai gerakan kolaboratif untuk mengangkat potensi kreatif dari berbagai daerah.

“Creative by Indonesia bukan hanya program kementerian, tetapi gerakan yang bisa digunakan seluruh pihak. Kita ingin bersama-sama mencari dan mengkurasi jenama lokal dari 21 subsektor ekonomi kreatif untuk didorong naik kelas. Jenama lokal harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri sekaligus memiliki kesempatan untuk masuk ke pasar global,” ujar Teuku Riefky.

Ia menambahkan, kekayaan budaya dan keberagaman talenta Indonesia perlu diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi serta didukung perlindungan kekayaan intelektual yang memadai. Dengan identitas bersama yang kuat, karya kreatif daerah diharapkan semakin mudah dikenali di pasar internasional tanpa kehilangan keunikan masing-masing.

Menurutnya, Indonesia perlu memperkuat peran sebagai pencipta tren, pembangun merek, dan pemilik kekayaan intelektual, bukan hanya menjadi pasar bagi produk industri global. Karena itu, setiap karya kreatif harus memperoleh kesempatan untuk berkembang, mendapatkan perlindungan, dan menjangkau konsumen yang lebih luas.

“Kita tidak ingin hanya dikenal karena kekayaan budaya dan besarnya potensi kreatif. Indonesia harus mampu menciptakan tren, membangun merek, serta mengembangkan kekayaan intelektual sendiri. Setiap karya perlu mendapatkan kesempatan untuk berkembang dan menjangkau pasar yang lebih luas sehingga kreativitas bangsa benar-benar menghasilkan nilai ekonomi,” katanya.

Peluncuran Creative by Indonesia sekaligus menjadi tindak lanjut di tingkat nasional atas penyelenggaraan The 5th World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 pada 21–23 Oktober. Konferensi tersebut menghasilkan Jakarta Vision on Creative Economy yang melibatkan perwakilan lebih dari 82 negara dan tujuh organisasi internasional.

Semangat kolaborasi global tersebut kemudian diterjemahkan melalui berbagai kegiatan di dalam negeri, termasuk peringatan HEKRAFNAS 2026. Sepanjang Oktober 2026, peringatan ini telah menghadirkan 169 kegiatan di berbagai wilayah Indonesia melalui kolaborasi Kementerian Ekraf, Indonesia Creative Cities Network (ICCN), GEKRAFS, pelaku industri, dan komunitas kreatif.

Ketua Panitia HEKRAFNAS 2026 yang juga Deputi Bidang Kreativitas Media Kementerian Ekraf, Cecep Rukendi, menjelaskan bahwa penyelenggaraan tahun ini mengutamakan prinsip inklusivitas dan keterlibatan pelaku kreatif dari berbagai daerah. Perhatian juga diberikan kepada masyarakat yang terdampak bencana melalui penyediaan ruang untuk menampilkan karya dan memperluas peluang kolaborasi.

“HEKRAFNAS bukan sekadar perayaan tahunan, tetapi momentum untuk memberikan penghormatan kepada jutaan insan kreatif Indonesia. Tahun ini kami menghadirkan karya dari berbagai daerah, termasuk Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara, sekaligus membuka ruang kolaborasi serta peluang pasar bagi para pelaku kreatif,” ungkap Cecep.

Puncak peringatan HEKRAFNAS 2026 turut dimeriahkan dengan peragaan busana Dama Kara yang melibatkan 10 model penyandang disabilitas. Acara ini juga menghadirkan pertunjukan musik dari Fahmil Arabi, Sheera The Icon, dan Reza Artamevia, serta diskusi mengenai penguatan jenama kreatif nasional.

Selain itu, pengunjung dapat menyaksikan Showcase Rehab Rekon Sumatera yang menghadirkan enam stan karya kreatif. Salah satu yang ditampilkan adalah lukisan anak-anak hasil program pemulihan trauma pascabencana, sebagai bentuk dukungan terhadap proses pemulihan sekaligus ruang ekspresi bagi anak-anak terdampak.

Rangkaian acara juga mencakup ASIKFEST 2026 yang berlangsung pada 20–25 Oktober. Festival ini menghadirkan 12 tenant terkurasi dari subsektor fesyen, kuliner, musik, dan seni digital interaktif, sekaligus memberikan ruang promosi bagi pelaku usaha kreatif untuk memperkenalkan produk kepada masyarakat.

Melalui peluncuran Creative by Indonesia dan penyelenggaraan HEKRAFNAS 2026, Kementerian Ekraf berharap potensi kreatif daerah dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi yang berdaya saing. Penguatan identitas merek, perlindungan kekayaan intelektual, dan kolaborasi lintas subsektor diharapkan membuka lebih banyak peluang bagi jenama lokal untuk tumbuh di pasar nasional serta memperluas jangkauan ke tingkat global.