Creativillage WCCE 2026 Jadi Pintu Masuk Produk Lokal ke Pasar Internasional

0
73
Foto: Kemenekraf
(Vibizmedia – Jakarta) Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Irene Umar, mengunjungi gelaran Creativillage yang menjadi bagian dari World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di kawasan SCBD, Jakarta, Minggu (25/10/2026). Kegiatan yang tersebar di tiga lokasi, yakni Ashta District 8 (Village 1), MGP Space (Village 2), dan SCBD Park (Village 3 WCCE Weekland), menjadi sarana untuk memperkenalkan produk kreatif Indonesia sekaligus membuka peluang kerja sama dan perluasan pasar internasional.
Irene menilai produk kreatif lokal memiliki kualitas dan potensi besar untuk bersaing di pasar dunia. Karena itu, pelaku ekonomi kreatif perlu memperluas orientasi pemasaran, tidak hanya menyasar konsumen domestik, tetapi juga menjangkau pasar global.
“Posisi ekonomi kreatif Indonesia sangat advantageous atau beruntung. Secara kreatif, produksi barang lokal sudah bagus, tinggal kesempatan kita untuk melihat pasar yang tak hanya nasional dari lebih dari 280 juta penduduk Indonesia, tapi kita harus melihat 8 miliar orang di dunia. Tentu para delegasi yang datang dari berbagai negara, sudah kami ajak berkunjung ke Creativillage dan mereka sangat antusias melihat karya-karya yang ditampilkan,” jelas Irene.
Creativillage menghadirkan beragam produk dan karya dari berbagai subsektor ekonomi kreatif, mulai dari fesyen berkelanjutan, kriya, desain interior, furnitur, kuliner, arsitektur, desain komunikasi visual, hingga modifikasi otomotif. Selain menjadi ruang pamer, kegiatan ini dirancang untuk mempertemukan pelaku kreatif Indonesia dengan pembeli, investor, dan delegasi internasional.
Untuk memperkuat manfaat ekonomi bagi pelaku usaha, Kementerian Ekraf turut memfasilitasi pertemuan bisnis atau business-to-business (B2B) matchmaking. Fasilitasi ini diharapkan menghasilkan peluang kerja sama konkret, memperluas akses ekspor, serta mendorong terciptanya lapangan kerja berkualitas di sektor ekonomi kreatif.
Irene menambahkan, pengembangan ekonomi kreatif membutuhkan sinergi berbagai pihak melalui kolaborasi heksaheliks yang melibatkan kementerian, pelaku ekonomi kreatif, komunitas, media, akademisi, lembaga keuangan, dan mitra strategis lainnya.
“Pengembangan ekonomi kreatif membutuhkan kerja sama atau kolaborasi heksaheliks lintas kementerian, pejuang ekraf, komunitas, media, akademisi, lembaga keuangan, dan mitra strategis lain yang menunjukkan gotong royongnya Indonesia. Sebenarnya sudah banyak produk-produk lokal yang ditampilkan di Creativillage ini dan sudah masuk ke level global. Sudah saatnya produk kreatif Indonesia yang memiliki potensi besar terus dikembangkan melalui jejaring dan kolaborasi internasional,” tambahnya.
Dalam kunjungan di Ashta District 8, Wakil Menteri Hak Asasi Manusia (Wamen HAM), Mugiyanto Sipin, turut mengapresiasi keragaman karya dan keterampilan para pelaku ekonomi kreatif Indonesia. Ia secara khusus menyoroti nilai artistik, keahlian, serta proses kreatif yang melekat pada produk kriya, termasuk seni ukir Jepara.
“Ketika kita melihat ukiran, tentu para pengrajinnya itu artis. Mereka harus diapresiasi sebagai seniman atau sebagai artis, bukan hanya pekerja harian. Nah, dukungan terhadap para seniman dan pengrajin berbagai daerah terus diperlukan agar karya lokal semakin dihargai serta mampu bersaing dengan produk dari negara lain,” ungkap Mugiyanto.
Di Ashta District 8, pengunjung dapat melihat berbagai karya unggulan, antara lain instalasi seni berbahan bambu yang menjadi ruang bagi penenun asal Nusa Tenggara Timur (NTT), pameran modifikasi kendaraan, serta produk desain inovatif yang dihadirkan melalui ADGI Design Week. Lokasi ini juga menampilkan kostum dari Pagelaran Sabang Merauke serta produk arsitektur dan desain yang dikurasi oleh Indonesia Design District (IDD).
Sementara itu, MGP Space menjadi ruang kolaborasi bagi berbagai mitra dari beragam subsektor ekonomi kreatif, di antaranya Grab, Indosat, Machine56, Pertamina, Radical Academy, Shopee, Tencent, Unipin, WeTV, dan Visinema.
Adapun SCBD Weekland menghadirkan jenama dan tenant dari berbagai daerah yang menawarkan produk fesyen, aksesori, kerajinan, serta kuliner. Selain pasar kreatif, pengunjung dapat menikmati peragaan busana jalanan (street fashion show), aktivitas komunitas, bazar makanan dan minuman, serta pertunjukan musik dan hiburan.
Salah satu peserta di SCBD Weekland adalah Prasojo by Rani Indonesia yang membawa koleksi fesyen berbahan lurik dan produk patchwork dengan sentuhan desain modern. Ciki, perwakilan desainer jenama tersebut, menjelaskan bahwa koleksi yang ditampilkan disesuaikan dengan konsep acara untuk memberikan pengalaman menarik bagi pengunjung.
“Dari Klaten, kami memang membawanya produk-produk fashion patchwork yang unik-unik. Banyak produk patchwork premium yang mendapat respons positif dari pengunjung Creativillage. Hal ini menunjukkan ketertarikan terhadap fesyen berkelanjutan semakin tinggi,” ujar Ciki.
Peninjauan di tiga lokasi Creativillage tersebut memperlihatkan pentingnya ruang promosi yang mampu menghubungkan karya kreatif dengan peluang bisnis. Melalui fasilitasi pemerintah, penguatan jejaring, dan kolaborasi lintas sektor, produk lokal diharapkan semakin dikenal, memiliki daya saing yang lebih kuat, serta mampu menjangkau konsumen internasional.
WCCE 2026 pun menjadi momentum strategis untuk memperluas akses pasar bagi pelaku ekonomi kreatif Indonesia sekaligus memperkenalkan identitas dan kekayaan budaya bangsa ke tingkat global. Upaya ini diharapkan turut memperkuat peran ekonomi kreatif sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif dan berkelanjutan.