(Vibizmedia-Kolom) Amerika Serikat sedang menghadapi persoalan besar yang selama ini sulit dibayangkan bagi sebuah negara dengan kekuatan militer dan industri sebesar itu. Negara yang pernah menjadi pusat produksi kapal dunia tersebut kini kesulitan membangun kapal dalam jumlah memadai, sementara China terus memperluas kapasitas industri galangan kapalnya. Persaingan ini bukan sekadar persoalan siapa yang mampu memproduksi kapal lebih banyak, melainkan juga menyangkut kekuatan ekonomi, keamanan rantai pasok, dan kemampuan mempertahankan pengaruh militer di kawasan strategis.
Pemerintahan Amerika berusaha membalikkan keadaan melalui program revitalisasi industri maritim. Untuk tahun anggaran 2027, pemerintah mengajukan anggaran pembangunan kapal Angkatan Laut dan Penjaga Pantai sebesar US$65,8 miliar kepada Kongres. Angka tersebut lebih dari dua kali lipat permintaan anggaran yang diajukan pemerintahan Joe Biden pada 2024. Namun, besarnya anggaran belum tentu menjadi jaminan bahwa Amerika dapat segera mengejar ketertinggalannya dari China. Masalah yang dihadapi jauh lebih kompleks, mulai dari kekurangan tenaga kerja terampil, teknologi produksi yang tertinggal, biaya pembangunan yang tinggi, hingga ketergantungan pada pemasok komponen dari berbagai negara.
Ketertinggalan yang Mengancam Kekuatan Maritim
Gambaran kesenjangan industri kapal kedua negara terlihat dari kemampuan produksinya. China mampu menghasilkan sekitar 1.700 kapal komersial setiap tahun, sedangkan Amerika Serikat hanya memproduksi sekitar lima kapal dalam kondisi terbaiknya. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa persoalan Amerika bukan hanya terletak pada kapasitas pembangunan kapal perang, tetapi juga pada melemahnya keseluruhan ekosistem industri perkapalan nasional.
Di salah satu galangan kapal utama Amerika, pembangunan sebuah kapal Angkatan Laut dapat berlangsung selama bertahun-tahun. Bahkan, bagian kapal yang terlihat relatif kecil dapat menghabiskan waktu berbulan-bulan sebelum seluruh proses pembangunan selesai. Dari pemotongan pelat pertama hingga kapal diluncurkan ke laut, prosesnya dapat memerlukan waktu sekitar dua tahun. Untuk salah satu kapal yang sedang dibangun di galangan Austal USA, keseluruhan pengerjaan telah berlangsung sekitar 32 hingga 33 bulan menjelang jadwal penyerahan.
Situasi tersebut sangat berbeda dengan masa ketika Amerika memiliki kemampuan industri untuk membangun kapal dalam skala besar. Pada Perang Dunia II, ketika kapal-kapal dagang Sekutu banyak ditenggelamkan kapal selam Jerman, pemerintah Amerika meluncurkan program darurat untuk meningkatkan produksi. Pemerintahan Franklin D. Roosevelt menggelontorkan sekitar US$900 juta pada masa itu, setara dengan kurang lebih US$20 miliar dalam nilai sekarang, guna memperluas galangan kapal dan menggerakkan pabrik-pabrik pendukung.
Hasilnya luar biasa. Dalam waktu sekitar tiga tahun setelah program tersebut diumumkan, produksi kapal Amerika meningkat dari sekitar 50 kapal per tahun menjadi lebih dari 1.900 kapal. Keberhasilan itu ditopang oleh tenaga kerja industri yang besar, keterampilan manufaktur yang telah berkembang, serta dukungan pemerintah yang kuat. Keunggulan serupa tidak lagi dimiliki Amerika saat ini.
Industri yang Kehilangan Tenaga dan Kapasitas
Kemunduran industri kapal Amerika berlangsung selama beberapa dekade. Setelah Perang Dunia II, kebutuhan pembangunan kapal menurun karena negara tersebut telah memiliki armada yang besar. Pemerintah kemudian mengurangi dukungan terhadap industri perkapalan, sementara sejumlah galangan kapal mulai kehilangan pesanan dan tenaga kerja.
Pada saat yang sama, Korea Selatan justru memperkuat industri kapal melalui investasi besar. Ancaman keamanan dari Korea Utara menjadi salah satu alasan negara tersebut membangun kemampuan maritimnya. Biaya tenaga kerja yang lebih rendah juga membuat galangan kapal Korea Selatan semakin menarik bagi perusahaan pelayaran internasional. Pesanan komersial yang terus berdatangan memberikan kesempatan bagi perusahaan untuk memperluas fasilitas, meningkatkan teknologi, dan membangun tenaga kerja yang berpengalaman.
Kebijakan Amerika turut memengaruhi daya saing industri domestiknya. Dukungan pemerintah untuk mengimbangi tingginya biaya pembangunan kapal dihentikan pada masa pemerintahan Ronald Reagan. Sementara itu, Jones Act yang mengharuskan kapal pengangkut barang antarpelabuhan Amerika dibangun di dalam negeri memang memberikan perlindungan terhadap pasar domestik, tetapi juga membuat galangan kapal relatif terlindung dari persaingan internasional.
Ketika pesanan kapal komersial dari pasar global semakin berkurang, banyak galangan kapal Amerika akhirnya tutup. Industri yang tersisa semakin bergantung pada proyek pemerintah, khususnya pembangunan kapal untuk Angkatan Laut dan Penjaga Pantai. Akibatnya, Amerika kehilangan basis produksi komersial yang sebenarnya dapat menjadi penopang penting bagi industri kapal militer.
Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa kekuatan industri kapal tidak hanya ditentukan oleh jumlah galangan kapal yang beroperasi. Ketersediaan pemasok, kemampuan memproduksi komponen, dan kesinambungan pesanan menjadi faktor yang menentukan apakah sebuah negara mampu membangun kapal secara cepat dan efisien.
Kekurangan Pekerja Menjadi Hambatan Serius
Salah satu persoalan paling mendasar yang dihadapi Amerika adalah kekurangan tenaga kerja terampil. Angkatan Laut memperkirakan negara tersebut membutuhkan tambahan sekitar 250.000 pekerja dengan keterampilan khusus untuk memenuhi kebutuhan pembangunan kapal dalam satu dekade mendatang. Profesi seperti tukang las, teknisi listrik, dan pekerja instalasi pipa menjadi sangat dibutuhkan, tetapi tidak mudah diperoleh dalam jumlah besar.
Di galangan Austal USA, pembangunan sebuah kapal Penjaga Pantai membutuhkan sekitar 365 pekerja untuk memenuhi target penyelesaian dalam tiga tahun. Perusahaan harus mencari tenaga kerja yang memenuhi persyaratan keamanan pemerintah Amerika. Untuk pekerjaan tertentu, perusahaan hanya dapat merekrut warga negara Amerika atau pemegang kartu izin tinggal permanen yang memenuhi ketentuan kontrak.
Setelah direkrut, pekerja baru juga tidak bisa langsung ditempatkan pada pekerjaan yang membutuhkan ketelitian tinggi. Mereka harus menjalani pelatihan dan program magang yang dapat berlangsung selama empat tahun. Untuk melatih 200 peserta magang saja, perusahaan mengeluarkan biaya lebih dari US$3 juta. Investasi tersebut menjadi semakin berat ketika pekerja yang telah berpengalaman memilih meninggalkan industri.
Kondisi kerja menjadi salah satu faktor yang memengaruhi tingginya pergantian tenaga kerja. Di sejumlah galangan kapal, pekerjaan berlangsung di lingkungan panas, berisiko, dan membutuhkan perlindungan khusus. Sebagian pekerja dibayar berdasarkan jam kerja sehingga kondisi cuaca buruk dapat mengurangi pendapatan mereka. Ketika pekerja berpengalaman keluar, perusahaan harus kembali mencari dan melatih pengganti. Waktu yang hilang akibat pergantian tenaga kerja akhirnya ikut memperpanjang jadwal pembangunan kapal.
Masalah tersebut pernah terlihat dalam pembangunan kapal fregat kelas Constellation di Wisconsin. Kapal pertama mengalami keterlambatan sekitar tiga tahun, sementara Angkatan Laut Amerika pada akhirnya membatalkan keseluruhan kelas kapal tersebut. Kekurangan tenaga kerja menjadi salah satu faktor yang memperburuk keterlambatan proyek.
Mengapa Pembangunan Kapal Amerika Begitu Mahal?
Keterbatasan tenaga kerja bukan satu-satunya penyebab mahalnya biaya pembangunan kapal. Kompleksitas desain juga membuat proses produksi sulit dipercepat. Dalam pembangunan kapal pertama dari suatu kelas, galangan kapal sering menghadapi berbagai persoalan teknis yang belum sepenuhnya teridentifikasi pada tahap perencanaan.
Angkatan Laut juga dapat melakukan perubahan desain ketika pembangunan sudah berjalan. Perubahan kecil pada tahap awal mungkin terlihat sederhana, tetapi dapat memengaruhi bagian lain dari kapal. Jika perubahan dilakukan setelah struktur utama mulai dirakit, galangan kapal harus mengulang sebagian pekerjaan, menyesuaikan komponen, dan mengatur kembali jadwal produksi.
Berbeda dengan industri pesawat terbang yang dapat mengembangkan beberapa prototipe sebelum memproduksi ratusan unit dengan desain serupa, pembangunan kapal militer sering dilakukan dalam jumlah terbatas untuk setiap kelas. Akibatnya, galangan kapal harus kembali menghadapi tantangan kapal pertama ketika memulai kelas baru. Siklus tersebut membuat biaya dan jadwal pembangunan sulit dikendalikan.
Persoalan biaya terlihat jelas dari salah satu kapal yang dibangun Austal USA. Nilai pembangunannya diperkirakan sekitar US$230 juta, termasuk sistem teknologi dan mesin yang digunakan. Kapal tersebut bahkan tergolong relatif murah dibandingkan sejumlah kapal Angkatan Laut Amerika lainnya. Biaya tenaga kerja, material khusus, sistem elektronik, dan kebutuhan perlindungan terhadap lingkungan laut membuat pembangunan kapal militer membutuhkan anggaran besar.
Secara keseluruhan, pembangunan kapal di Amerika dapat menelan biaya empat hingga lima kali lebih tinggi dibandingkan pembangunan kapal sejenis di China atau Korea Selatan. Perbedaan biaya ini menjadi persoalan serius karena anggaran Angkatan Laut memiliki batas. Semakin banyak dana yang terserap untuk menutup pembengkakan biaya proyek lama, semakin sedikit anggaran yang tersedia untuk membangun kapal baru.
| Persoalan | Dampak terhadap pembangunan kapal |
|---|---|
| Kekurangan tenaga kerja terampil | Memperlambat proses produksi dan meningkatkan kebutuhan pelatihan |
| Perubahan desain | Menambah waktu pengerjaan dan biaya tenaga kerja |
| Ketergantungan pada pemasok global | Memperpanjang waktu pengadaan komponen |
| Teknologi galangan yang tertinggal | Membuat proses produksi kurang efisien |
| Pembengkakan biaya proyek | Mengurangi anggaran untuk pembangunan kapal berikutnya |
Persoalan transparansi biaya juga menjadi perhatian. Pada 2024, Austal USA mengaku bersalah dalam kasus kecurangan akuntansi terkait pelaporan biaya pada sejumlah program pembangunan kapal Angkatan Laut. Kasus tersebut memperlihatkan pentingnya estimasi biaya yang akurat sejak awal proyek. Tanpa informasi yang dapat dipercaya, pemerintah akan kesulitan mengetahui bagian mana dari proses pembangunan yang menyebabkan pembengkakan anggaran.
China Membangun Keunggulan Melalui Ekosistem Industri
Keberhasilan China tidak terjadi secara tiba-tiba. Negara tersebut mulai memperkuat posisinya dalam industri kapal global sekitar tahun 2000. Saat itu, China masih mengimpor banyak bahan baku dan membayar perusahaan asing untuk mengangkut berbagai kebutuhan industrinya. Pemerintah kemudian melihat peluang untuk membangun kemampuan produksi kapal di dalam negeri agar kebutuhan pengangkutan dapat dipenuhi oleh perusahaan nasional.
Investasi besar diarahkan ke galangan kapal domestik, sementara pesanan pemerintah dan industri didorong masuk ke perusahaan-perusahaan dalam negeri. Dalam waktu sekitar satu dekade, posisi China dalam pesanan kapal global meningkat tajam. Dari hanya sekitar 7 persen pesanan utama berdasarkan tonase, pangsanya tumbuh menjadi sekitar 45 persen dan melampaui Korea Selatan.
Kini China menguasai lebih dari separuh produksi tonase kapal dunia. Salah satu keunggulan strategisnya adalah penggunaan fasilitas yang sama untuk membangun kapal komersial dan sebagian kapal militer. Dengan demikian, kapasitas produksi komersial dapat lebih mudah dimanfaatkan ketika Angkatan Laut membutuhkan tambahan kapal.
Model tersebut memberikan keuntungan yang tidak dimiliki Amerika dalam skala serupa. Industri komersial China mempertahankan jumlah pekerja, pemasok, teknologi, dan fasilitas produksi yang besar. Ketika kebutuhan militer meningkat, ekosistem yang sudah terbentuk dapat membantu mempercepat pembangunan kapal.
Persaingan ini juga memiliki konsekuensi terhadap keseimbangan kekuatan laut. Amerika memperkirakan jumlah kapal tempur utamanya hanya akan bertambah menjadi 293 dalam empat tahun mendatang. Sementara itu, China diproyeksikan memiliki sekitar 435 kapal. Ketimpangan tersebut menjadi perhatian karena armada Amerika harus menjalankan berbagai misi di kawasan yang luas, termasuk Pasifik dan Timur Tengah.
Korea Selatan Menjadi Mitra untuk Membangun Kembali Industri
Dalam upaya mengejar ketertinggalan, Amerika mulai mencari dukungan dari Korea Selatan. Negara tersebut memiliki industri galangan kapal berteknologi tinggi yang mampu bersaing dengan China. Penggunaan robot untuk pengelasan, sistem digital untuk memantau pergerakan bagian-bagian kapal, dan otomatisasi produksi menjadi keunggulan penting.
Sebagai bagian dari kesepakatan perdagangan dengan pemerintahan Donald Trump, Korea Selatan berkomitmen menanamkan investasi sebesar US$150 miliar untuk membantu modernisasi galangan kapal Amerika. Hanwha Ocean, salah satu perusahaan kapal terbesar Korea Selatan, bahkan telah membeli galangan kapal di Amerika dan mulai melatih pekerja lokal menggunakan teknologi serta peralatan baru.
Salah satu contoh fasilitas yang menunjukkan arah modernisasi tersebut adalah Austal USA. Galangan kapal ini relatif lebih muda dibandingkan banyak fasilitas perkapalan Amerika lainnya dan telah mengadopsi otomatisasi sejak awal pembangunannya. Proses pengelasan menggunakan mesin dapat menyatukan beberapa pelat logam menjadi bagian besar yang kemudian digunakan dalam struktur kapal.
Namun, modernisasi tidak dapat dilakukan hanya dengan mengandalkan beberapa fasilitas baru. Banyak galangan kapal Amerika lainnya telah berhenti beroperasi atau masih menggunakan peralatan yang teknologinya tertinggal puluhan tahun. Analisis pemerintah bahkan memperkirakan modernisasi empat galangan kapal publik dapat membutuhkan biaya lebih dari US$200 miliar dan waktu lebih dari 50 tahun.
Kerja sama dengan Korea Selatan juga memiliki batasan. Hukum Amerika pada umumnya melarang pembangunan kapal militer di luar negeri karena desain, teknologi, dan informasi pertahanan dianggap sebagai aset strategis nasional. Namun, pada Agustus 2026, pemerintahan Trump memberikan pengecualian yang memungkinkan pembangunan dua kapal awal dan hingga tiga kelas kapal di galangan luar negeri.
Pengecualian tersebut disertai persyaratan. Perusahaan asing harus berinvestasi di galangan kapal Amerika, membawa teknologi, melatih pekerja lokal, serta mengembangkan rantai pasok domestik. Dengan demikian, tujuan kerja sama bukan sekadar membeli kapal dari negara lain, melainkan memindahkan pengetahuan dan kemampuan produksi ke dalam negeri.
Rantai Pasok Menjadi Bagian dari Persaingan Keamanan
Pembangunan kapal melibatkan jutaan komponen yang berasal dari ratusan pemasok di berbagai negara. Mulai dari baut, baja, mesin, perangkat elektronik, hingga sistem navigasi, seluruhnya harus tersedia sesuai jadwal. Keterlambatan satu komponen penting dapat mengganggu tahapan pembangunan dan menunda penyelesaian kapal.
Ketergantungan tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi Amerika. China mampu memproduksi sekitar 60 persen sistem dan peralatan utama kapalnya di dalam negeri. Kemampuan itu membuat proses pengadaan lebih singkat dan mengurangi biaya pengiriman. Sebaliknya, galangan kapal Amerika harus mengatur pengiriman dari berbagai negara, termasuk memperhitungkan waktu perjalanan dan risiko keterlambatan.
Ketergantungan pada pemasok luar negeri juga membawa risiko keamanan. Penyelidikan Senat Amerika menemukan sekitar 1.800 komponen yang diduga palsu dalam rantai pasok militer, dengan banyak di antaranya ditelusuri berasal dari China. Komponen yang tidak memenuhi standar atau memiliki asal-usul yang tidak jelas dapat membuka peluang gangguan, penyusupan, bahkan spionase.
Pada Juli 2026, pemerintahan Trump mewajibkan kontraktor pertahanan memeriksa setiap pemasok dan menelusuri setiap komponen penting sebelum digunakan pada kapal Angkatan Laut. Kebijakan tersebut bertujuan memastikan bahwa komponen yang masuk ke dalam sistem pertahanan benar-benar dapat dipertanggungjawabkan asal-usul dan kualitasnya.
Namun, proses pemeriksaan yang lebih ketat berpotensi memperlambat pengadaan. Di sinilah pemerintah menghadapi dilema: mempercepat produksi kapal atau memastikan setiap komponen memenuhi persyaratan keamanan. Dalam industri pertahanan, keduanya tidak dapat dipisahkan. Kapal yang selesai lebih cepat tetapi menggunakan komponen bermasalah justru dapat menimbulkan risiko yang lebih besar.
Anggaran Besar Belum Menjamin Keberhasilan
Rencana peningkatan anggaran memperlihatkan keseriusan Amerika untuk membangun kembali kekuatan maritimnya. Pada 2025, pemerintah mengesahkan sekitar US$30 miliar untuk pembangunan kapal baru bagi Angkatan Laut dan Penjaga Pantai. Untuk 2027, pemerintah mengajukan tambahan anggaran pembangunan kapal sebesar US$65,8 miliar.
Besarnya permintaan tersebut menjadi semakin menarik ketika dibandingkan dengan pembengkakan biaya proyek yang telah berjalan. Sebelas kapal pertama dari berbagai kelas terbaru tercatat mengalami pembengkakan anggaran sedikitnya US$8 miliar. Jumlah tersebut setara dengan sekitar seperdelapan dari anggaran pembangunan kapal yang diajukan untuk 2027.
Artinya, persoalan Amerika bukan hanya bagaimana menyediakan uang lebih banyak, tetapi juga bagaimana memastikan setiap dolar menghasilkan kapasitas produksi yang lebih besar. Jika biaya proyek terus meningkat tanpa perbaikan efisiensi, anggaran tambahan justru berisiko terserap untuk menutup kesalahan perencanaan dan keterlambatan masa lalu.
Tantangan lainnya datang dari rencana pembangunan kapal perang generasi baru yang diumumkan Trump pada 2025. Program penuh 15 kapal tersebut diperkirakan menelan biaya US$275 miliar. Kapal pertama diperkirakan dapat mencapai biaya US$23 miliar, sementara target pembangunan kapal pertamanya dijadwalkan dimulai pada 2028 dengan perkiraan waktu pengerjaan delapan tahun.
Program tersebut berpotensi bersaing dengan pembangunan kapal induk untuk mendapatkan kapasitas galangan dan sumber daya yang sama. Salah satu galangan kapal di Virginia bahkan diperkirakan harus merakit dua jenis kapal besar dalam dok yang sama, sementara pembangunan tiga kapal induk sebelumnya masih mengalami keterlambatan.
Persoalan ini menunjukkan bahwa penambahan anggaran dan pemesanan kapal baru harus disertai perencanaan kapasitas produksi yang realistis. Tanpa itu, proyek-proyek besar justru dapat saling berebut tenaga kerja, fasilitas, dan anggaran yang terbatas.
Membangun Kapal dan Memperbaiki Armada yang Ada
Selain mengejar pembangunan kapal baru, Amerika juga harus menghadapi persoalan pemeliharaan armada yang sudah beroperasi. Kapal perang yang berlayar jauh dari pangkalan membutuhkan dukungan perbaikan dan penggantian komponen. Jika galangan kapal tidak mampu menyediakan suku cadang tepat waktu, kapal dapat mengalami masa perbaikan yang panjang dan mengurangi kesiapan operasional armada.
Angkatan Laut mulai menguji kemungkinan memproduksi komponen pengganti langsung di laut dengan membawa mesin manufaktur ke kapal. Teknologi ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada pengiriman komponen dari darat. Namun, penerapannya tidak sederhana. Getaran yang terjadi ketika pesawat mendarat di kapal induk, misalnya, dapat mengganggu ketepatan mesin laser yang membutuhkan tingkat presisi sangat tinggi.
Meski masih dalam tahap pengembangan, pendekatan tersebut menunjukkan bahwa modernisasi industri maritim tidak hanya berkaitan dengan pembangunan kapal baru. Kemampuan memperbaiki kapal, memproduksi suku cadang, dan menjaga kesiapan armada juga menjadi bagian penting dari kekuatan maritim.
Dalam satu dekade terakhir, perbaikan kapal perusak Amerika bahkan mengalami keterlambatan akumulatif sekitar 10.000 hari. Kekurangan pekerja dan pasokan komponen menjadi salah satu penyebabnya. Jika teknologi produksi komponen di laut dapat dikembangkan, sebagian hambatan tersebut berpotensi dikurangi.
Perlombaan yang Ditentukan oleh Prioritas Nasional
Amerika sebenarnya memiliki pengalaman sejarah dalam membangun industri kapal dengan cepat ketika menghadapi ancaman besar. Namun, kondisi industri saat ini jauh berbeda. Tenaga kerja terampil tidak tersedia dalam jumlah memadai, sejumlah galangan kapal membutuhkan modernisasi besar, dan rantai pasok domestik belum cukup kuat untuk menopang peningkatan produksi secara cepat.
Korea Selatan dapat membantu mempercepat proses tersebut melalui investasi, teknologi, dan pelatihan. Akan tetapi, kerja sama internasional tidak dapat menggantikan kebutuhan Amerika untuk membangun kemampuan industrinya sendiri. Kapasitas produksi harus tumbuh secara berkelanjutan, bukan hanya meningkat karena adanya proyek pemerintah dalam jangka pendek.
Pada Agustus 2026, Austal memperingatkan potensi kerugian besar pada sejumlah program pembangunan kapal Angkatan Laut. Pada bulan yang sama, Hanwha mengajukan penawaran tidak mengikat untuk membeli Austal USA. Perkembangan ini memperlihatkan bahwa kerja sama dan investasi asing dapat menjadi bagian penting dari perubahan struktur industri perkapalan Amerika.
Persaingan dengan China tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran militer. Faktor yang lebih menentukan adalah kemampuan mengubah anggaran menjadi kapal yang benar-benar selesai dibangun, tepat waktu, dan dengan biaya yang terkendali. Amerika harus membangun kembali tenaga kerja, memperkuat pemasok domestik, memperbarui teknologi galangan, serta memperbaiki sistem pengelolaan proyek.
Anggaran US$65,8 miliar dapat menjadi langkah besar dalam upaya tersebut. Namun, uang hanyalah modal awal. Keberhasilan Amerika mengejar China akan ditentukan oleh konsistensi kebijakan, kemampuan industri, dan kemauan nasional untuk membangun kembali ekosistem maritim yang pernah menjadi salah satu kekuatan terbesar negara itu.









