Investasi Dalam Negeri Capai Hampir Rp2.000 Triliun, Kadin Optimistis Ekonomi Nasional

0
65
Foto: Presiden Prabowo Subianto memberikan taklimat di Hambalang, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, pada Sabtu (31/10/2026). (Foto: BPMI Setpres/Kris)
(Vibizmedia – Jakarta) Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Bakrie, mengungkapkan bahwa realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mencapai hampir Rp2.000 triliun selama dua tahun pertama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Besarnya kontribusi investasi domestik yang melampaui separuh total investasi nasional tersebut dinilai mencerminkan meningkatnya kepercayaan pelaku usaha terhadap prospek ekonomi Indonesia.

Anindya menyampaikan hal itu dalam taklimat Presiden bersama peserta Program Presiden untuk Pemimpin Masa Depan Indonesia (P3MDI) Batch 1 Tahun Anggaran 2026 dan peserta Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Kadin di Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (31/10/2026).

Menurut Anindya, investasi dalam negeri tidak hanya ditopang oleh perusahaan besar, tetapi juga melibatkan pelaku usaha kelas menengah. Partisipasi kelompok pengusaha tersebut dinilai menjadi salah satu faktor yang memperkuat fondasi dan ketahanan perekonomian nasional dalam menghadapi ketidakpastian global.

Ia menilai keterlibatan pengusaha menengah dalam aktivitas investasi memberikan kontribusi penting terhadap daya tahan ekonomi Indonesia.

“Kalau dilihat PMDN itu juga melibatkan teman-teman di kelas menengah. Nah ini kami lihat bisa membuat sekali lagi daya tahan kita justru semakin kuat,” ujarnya.

Lebih lanjut, Anindya menegaskan bahwa dunia usaha tidak hanya berkomitmen mempertahankan dan memperkuat industri yang sudah berkembang, tetapi juga mempersiapkan pengembangan sektor-sektor ekonomi masa depan.

Beberapa bidang yang menjadi fokus pengembangan antara lain industri kendaraan listrik atau electric vehicle (EV), energi terbarukan (renewable energy), serta pusat data (data center). Sektor-sektor tersebut dinilai memiliki potensi besar untuk mendorong pertumbuhan industri nasional sekaligus meningkatkan penggunaan komponen dalam negeri.

“Bukan saja untuk industri-industri yang sekarang, tapi industri masa depan. Seperti industri EV, renewable energy, data center yang memang komponen lokalnya juga banyak,” katanya.

Anindya menambahkan, pengembangan industri masa depan perlu diarahkan agar memberikan kesempatan lebih luas bagi perusahaan nasional untuk terlibat dalam rantai pasok dan meningkatkan kapasitas produksinya. Dengan demikian, pertumbuhan sektor industri baru dapat memberikan nilai tambah bagi perekonomian dalam negeri.

Selain itu, Kadin mendorong terciptanya kesempatan yang lebih merata bagi pengusaha daerah, termasuk pelaku usaha yang tergabung dalam berbagai asosiasi dan himpunan. Mereka diharapkan dapat berkembang bersama, memperkuat kemampuan bisnis, serta meningkatkan skala usaha hingga mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

Komitmen tersebut sejalan dengan tema Rapimnas Kadin 2026, yaitu “Ekonomi Kerakyatan dan Indonesia Mendunia”. Tema ini mencerminkan pentingnya membangun perekonomian yang melibatkan lebih banyak pelaku usaha sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam persaingan ekonomi global.

Dalam kesempatan tersebut, Anindya juga menyoroti ketahanan ekonomi Indonesia yang dinilainya tetap terjaga di tengah berbagai tekanan dan gejolak internasional. Ia mengacu pada penilaian Dana Moneter Internasional (IMF) yang menempatkan Indonesia sebagai salah satu titik terang dalam perekonomian dunia.

Menurutnya, pengalaman Indonesia menghadapi lima guncangan ekonomi selama sekitar 25 tahun terakhir menunjukkan bahwa fundamental ekonomi nasional semakin kuat dalam menghadapi berbagai tantangan.

“Di dalam lima guncangan ekonomi selama bisa dibilang 25 tahun, Indonesia adalah dari waktu ke waktu justru lebih kuat. Ini menandakan daya tahan kita sangat resilient,” ungkapnya.

Anindya berharap kepercayaan investor domestik, penguatan industri nasional, serta semakin luasnya keterlibatan pengusaha dari berbagai daerah dapat menjadi modal penting untuk menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia dan memperbesar peran dunia usaha nasional di pasar global.