Miliki 29 Ribu Jurnal Ilmiah, Indonesia Masih Hadapi Tantangan Kualitas Publikasi

0
86
Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Kemdiktisaintek Ahmad Najib Burhani (Paling Kanan). (Foto: Infopublik)

(Vibizmedia – Jakarta) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) terus mendorong peningkatan mutu publikasi ilmiah nasional agar mampu bersaing di tingkat internasional. Meski Indonesia telah memiliki puluhan ribu jurnal ilmiah, penguatan kualitas pengelolaan, integritas akademik, dan kredibilitas publikasi masih menjadi pekerjaan penting. Salah satu langkah yang ditempuh adalah menyelenggarakan Konferensi Nasional Tata Kelola dan Integritas Jurnal Ilmiah (KTJI) 2026 pada 9 November 2026 di Surabaya.

Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Kemdiktisaintek, Ahmad Najib Burhani, menjelaskan bahwa KTJI 2026 menjadi wadah untuk membangun ekosistem publikasi ilmiah yang lebih berkualitas, meningkatkan kepercayaan terhadap karya akademik, serta memastikan pengelolaan jurnal berjalan sesuai standar mutu dan etika ilmiah.

Dalam Taklimat Media KSTI, KPPTI, dan KTJI 2026, Senin (2/11/2026), Najib mengungkapkan bahwa Indonesia saat ini memiliki sekitar 29.076 jurnal ilmiah. Dari jumlah tersebut, kurang lebih 16.000 jurnal telah memperoleh akreditasi nasional. Namun, jumlah jurnal yang berhasil mencapai kategori akreditasi tertinggi masih terbatas.

Berdasarkan data yang dipaparkan, hanya sekitar 1,5 persen jurnal terakreditasi yang masuk kategori Sinta 1. Sebaliknya, sekitar 70 persen masih terkonsentrasi pada peringkat Sinta 4, Sinta 5, dan Sinta 6.

Data tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan publikasi ilmiah nasional tidak cukup hanya berorientasi pada pertumbuhan jumlah jurnal. Peningkatan kualitas harus disertai pembenahan manajemen editorial, ketepatan proses penilaian sejawat (peer review), serta penerapan prinsip etika dalam penerbitan karya ilmiah.

Najib menambahkan, persoalan integritas publikasi menjadi salah satu perhatian utama dalam penyelenggaraan KTJI 2026. Praktik penerbitan melalui jurnal predator, jurnal yang tidak memiliki kredibilitas, hingga karya ilmiah yang melanggar prinsip integritas akademik dinilai dapat merusak kepercayaan terhadap hasil penelitian Indonesia.

Jurnal predator umumnya mengabaikan prosedur evaluasi ilmiah yang semestinya dan lebih mengutamakan penerbitan artikel. Praktik tersebut berpotensi merugikan peneliti sekaligus menghambat peningkatan reputasi akademik Indonesia di lingkungan penelitian global.

Oleh karena itu, KTJI 2026 akan mengangkat berbagai isu strategis, mulai dari tata kelola jurnal, sistem akreditasi, hingga penerapan standar penerbitan ilmiah yang bertanggung jawab. Konferensi ini juga mempertemukan pengelola jurnal, penerbit, perpustakaan, lembaga penelitian, dan asosiasi ilmuwan untuk bertukar pengalaman serta memperkuat kualitas pengelolaan publikasi.

Melalui forum tersebut, Kemdiktisaintek berharap para pengelola jurnal semakin memahami standar penerbitan yang baik dan mampu menerapkannya secara konsisten dalam jangka panjang.

Salah satu rangkaian penting KTJI 2026 adalah pemberian penghargaan kepada sembilan jurnal terbaik yang berasal dari tiga kelompok bidang keilmuan, yaitu sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM), sosial dan humaniora, serta multidisiplin.

Penghargaan tersebut diharapkan dapat menjadi motivasi sekaligus contoh bagi jurnal nasional lainnya untuk meningkatkan kualitas artikel, sistem editorial, dan tata kelola penerbitan. Selain memperkuat standar nasional, Kemdiktisaintek juga mendorong jurnal Indonesia yang telah memenuhi persyaratan mutu agar semakin dikenal melalui kemitraan dengan penerbit dan institusi akademik internasional.

Untuk mendukung tujuan tersebut, sejumlah penerbit global, seperti Elsevier, Taylor & Francis, SAGE, IOP Publishing, Emerald, dan Wiley, dijadwalkan berpartisipasi dalam konferensi. Mereka akan berbagi wawasan mengenai manajemen jurnal, peningkatan visibilitas publikasi, pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI), serta strategi memperluas pengaruh penelitian dengan tetap menjaga integritas akademik.

Kehadiran penerbit internasional tersebut diharapkan dapat membuka peluang bagi jurnal nasional untuk menjangkau lebih banyak pembaca dari berbagai negara, meningkatkan jumlah sitasi, serta memperkuat posisi penelitian Indonesia dalam perkembangan ilmu pengetahuan dunia.

Selain tata kelola penerbitan, pemanfaatan AI dalam publikasi ilmiah juga menjadi salah satu topik yang mendapat perhatian. Perkembangan teknologi ini memberikan kemudahan dalam membantu pekerjaan peneliti maupun editor, tetapi sekaligus memunculkan persoalan baru terkait tanggung jawab penulis, keabsahan hasil penelitian, transparansi, dan etika akademik.

Melalui KTJI 2026, para penerbit dan pengelola jurnal akan mendiskusikan langkah yang perlu dilakukan untuk menyesuaikan sistem editorial dengan perkembangan teknologi digital. Pengawasan terhadap proses penerbitan dan upaya menjaga kepercayaan pembaca juga menjadi bagian dari pembahasan.

Dengan penerapan tata kelola yang tepat, penggunaan AI diharapkan mampu meningkatkan efisiensi penerbitan tanpa mengurangi akuntabilitas, keaslian, dan kualitas karya ilmiah.

KTJI memiliki fokus yang berbeda dibandingkan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) maupun Konvensi Puncak Pendidikan Tinggi Indonesia (KPPTI). Jika kedua forum tersebut membahas pengembangan sains, teknologi, industri, dan pendidikan tinggi secara lebih luas, KTJI secara khusus menitikberatkan pada tata kelola publikasi serta proses produksi pengetahuan ilmiah.

Penyelenggaraan konferensi melibatkan konsorsium perguruan tinggi, terutama sejumlah kampus di Surabaya dan wilayah sekitarnya. Pengelola jurnal, penerbit, perpustakaan, lembaga penelitian, dan asosiasi ilmuwan juga dilibatkan dalam kegiatan tersebut.

Antusiasme peserta terlihat dari jumlah pendaftar yang telah melampaui kapasitas ruang utama, yakni 750 orang. Untuk mengakomodasi tingginya minat, panitia menyiapkan ruang tambahan serta fasilitas partisipasi secara daring.

Selain konferensi utama, agenda KTJI 2026 mencakup klinik penerbitan internasional, diskusi tentang disrupsi digital, pameran perguruan tinggi, serta penghargaan bagi ilmuwan dan institusi yang menunjukkan prestasi.

Kemdiktisaintek berharap penyelenggaraan KTJI 2026 dapat menjadi momentum untuk memperkuat daya saing publikasi ilmiah Indonesia. Jurnal yang berkualitas dan dikelola secara profesional tidak hanya berfungsi sebagai media penyebaran hasil penelitian, tetapi juga menjadi sarana pertukaran pengetahuan, pengembangan inovasi, dan perluasan kerja sama akademik lintas negara.

Dengan demikian, peningkatan jumlah publikasi ilmiah nasional perlu berjalan seimbang dengan mutu dan integritas akademik. Ekosistem jurnal yang semakin kredibel diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan dunia internasional terhadap hasil penelitian Indonesia sekaligus memperbesar manfaatnya bagi masyarakat.