Ekraf dan Detikcom Bersinergi Angkat Potensi Kreatif Daerah ke Tingkat Global

0
43
Foto: Kemenekraf

(Vibizmedia – Jakarta) Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) menjajaki kemitraan strategis dengan Detikcom untuk memperluas jangkauan promosi produk dan talenta kreatif Indonesia. Kerja sama ini diharapkan tidak hanya meningkatkan publikasi, tetapi juga membuka akses komersialisasi dan pasar yang lebih luas bagi pelaku ekonomi kreatif, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, mengatakan media massa mempunyai peran penting dalam mengangkat potensi industri kreatif, termasuk karya, produk, dan talenta unggulan dari berbagai daerah. Potensi tersebut dapat dikembangkan melalui sinergi dengan tiga program unggulan Kementerian Ekraf, yaitu Aktivasi Desa Kreatif, Aktivasi Creative Hub, dan Creative by Indonesia.

Dalam audiensi bersama jajaran Detikcom di Jakarta, Rabu (4/11/2026), Teuku Riefky menyampaikan bahwa Detikcom selama ini telah turut memperkenalkan berbagai pelaku ekonomi kreatif melalui pemberitaan dan profil inspiratif. Ke depan, kemitraan tersebut diharapkan berkembang menjadi kolaborasi yang lebih luas, mulai dari kurasi talenta lokal, penguatan kekayaan intelektual, hingga pembukaan akses pasar.

Menurutnya, melalui program Creative by Indonesia, kedua pihak berpeluang mengidentifikasi dan mempromosikan local heroes dari berbagai daerah. Para pelaku kreatif tersebut diharapkan dapat meningkatkan nilai komersial karya dan produk mereka, memperluas jaringan bisnis, serta berkembang menjadi pemain nasional yang mampu bersaing di pasar global.

Teuku Riefky menegaskan, kerja sama dengan media juga sejalan dengan upaya meningkatkan kontribusi sektor ekonomi kreatif terhadap perekonomian nasional. Kontribusi tersebut mencakup peningkatan investasi, ekspor, penyerapan tenaga kerja, serta produk domestik bruto (PDB).

Dengan mencakup 21 subsektor dan didukung jaringan lebih dari 150 asosiasi, Kementerian Ekraf memiliki potensi besar untuk membangun kolaborasi heksaheliks yang melibatkan berbagai unsur pemangku kepentingan. Dalam hal ini, media dapat menjadi salah satu mitra penting untuk memperluas jangkauan informasi sekaligus memperkenalkan keberhasilan pelaku ekonomi kreatif.

Lebih lanjut, Teuku Riefky menjelaskan bahwa hilirisasi industri kreatif berbasis kekayaan intelektual menjadi salah satu fokus pemerintah dalam meningkatkan nilai tambah karya anak bangsa. Produk lokal, mulai dari film, musik, fesyen, kriya, kuliner, gim, hingga aplikasi, diharapkan semakin mampu bersaing dan menjadi pilihan utama di pasar domestik.

Ia menambahkan, pengembangan ekonomi kreatif tidak cukup hanya menghasilkan karya, tetapi juga harus memastikan karya dan talenta tersebut memiliki nilai komersial, mampu menjangkau konsumen yang lebih luas, serta memberikan kontribusi ekonomi secara berkelanjutan.

Sementara itu, Pemimpin Redaksi Detikcom, Ardhi Suryadhi, menyambut baik peluang kemitraan dengan Kementerian Ekraf. Ia menyebutkan bahwa Detikcom memiliki beragam kanal pemberitaan yang dapat dimanfaatkan untuk mempromosikan berbagai subsektor ekonomi kreatif, seperti film, musik, seni dan budaya, fesyen, desain, teknologi digital, hingga gim.

Dukungan jaringan biro daerah juga menjadi keunggulan Detikcom dalam menjangkau potensi lokal dan mengangkat sosok-sosok inspiratif dari berbagai wilayah. Menurut Ardhi, pemberitaan dengan pendekatan hiperlokal memungkinkan masyarakat di daerah mengenal lebih dekat potensi dan keberhasilan pelaku kreatif di lingkungan mereka.

Detikcom melihat peluang untuk bekerja sama dengan Kementerian Ekraf dalam memperkenalkan desa-desa kreatif serta figur lokal yang memiliki potensi untuk dikembangkan lebih jauh.

Selain itu, Detikcom memperkenalkan Indonesia Now, platform berita berbahasa Inggris yang menyasar pembaca internasional. Platform ini dapat menjadi sarana promosi bagi produk, jenama, dan peluang usaha kreatif Indonesia untuk menjangkau pasar global sekaligus meningkatkan daya tarik investasi asing di berbagai subsektor.

Ruang lingkup kolaborasi yang dibahas juga mencakup pengembangan ekosistem konten, aktivasi kegiatan secara digital maupun luring, business matching, kompetisi kreatif, serta penyelenggaraan acara yang mempertemukan pelaku ekonomi kreatif dengan mitra industri. Detikcom turut menawarkan pengembangan microsite khusus untuk menghimpun informasi, profil, dan kisah sukses pelaku ekonomi kreatif secara berkelanjutan.

Kedua pihak juga menjajaki penyusunan publikasi year in review yang merangkum pencapaian serta dampak program ekonomi kreatif sepanjang 2026. Publikasi tersebut tidak hanya memuat data dan angka, tetapi juga cerita dan testimoni pelaku kreatif dari berbagai daerah mengenai manfaat program pemerintah bagi perkembangan usaha dan karya mereka.

Melalui kemitraan ini, Kementerian Ekraf berharap media dapat berkontribusi lebih luas dalam membangun ekosistem ekonomi kreatif nasional. Peran tersebut mencakup penguatan narasi, penghubung antarpemangku kepentingan, perluasan akses pasar, serta peningkatan nilai ekonomi produk dan kekayaan intelektual Indonesia guna mendorong kemandirian bangsa.

Dalam audiensi tersebut, Menteri Ekraf didampingi Kepala Biro Komunikasi Kiagoos Irvan Faisal dan Tenaga Ahli Menteri Bidang Isu Strategis dan Antarlembaga Gemintang Kejora Mallarangeng. Sementara itu, Detikcom diwakili Head of Business Development (Enterprise & Government) Tria Halimatu Sadiyah, Group Head Business Government Jody Padmakusuma, serta Account Executive Government Meily Repture.