Sinergi PIS dan doctorSHARE Hadirkan Rumah Sakit Kapal di Papua

0
417
Akses kesehatan kini semakin dekat. Kolaborasi antara Program Indonesia Sehat (PIS) dan doctorSHARE menghadirkan rumah sakit terapung untuk melayani masyarakat di wilayah 3T Papua.

(Vibizmedia – Jakarta) Akses layanan kesehatan yang memadai masih menjadi tantangan besar bagi masyarakat di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) Indonesia. Menyikapi hal ini, PT Pertamina International Shipping (PIS) kembali menjalin kolaborasi dengan Yayasan Dokter Peduli (doctorSHARE) untuk menghadirkan layanan medis melalui Rumah Sakit Kapal Nusa Waluya II.

Kali ini, kapal rumah sakit tersebut beroperasi di Waigeo Utara, Papua Barat Daya, sejak 10 Juni hingga Agustus 2025. Selama 60 hari masa operasional, kapal ditargetkan melayani hingga 10.000 warga dari tujuh distrik, seluruhnya tanpa biaya.

Kolaborasi ini merupakan bagian dari komitmen sosial PIS dalam program BerSEAnergi untuk Laut. Corporate Secretary PIS, Muhammad Baron, menyatakan bahwa kerja sama ini relevan karena mengusung misi yang sejalan: membawa manfaat bagi masyarakat melalui pemanfaatan kapal sebagai fasilitas layanan publik.

“Kami percaya, laut bukan hanya jalur distribusi energi, tapi juga jembatan untuk menghadirkan layanan yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat,” ujar Baron.

Fasilitas Medis Lengkap di Atas Kapal

Rumah Sakit Kapal Nusa Waluya II memiliki luas sekitar 900 m² dan dilengkapi dengan berbagai fasilitas medis, seperti:

  • 21 tempat tidur rawat inap
  • 2 ruang bedah mayor
  • Ruang bersalin (VK)
  • Instalasi Gawat Darurat (IGD)
  • 9 klinik spesialis dan umum
  • Laboratorium, radiologi, serta bank darah

Sebanyak 35 tenaga medis profesional bertugas di atas kapal, termasuk dokter umum, spesialis kandungan, anak, bedah, penyakit dalam, perawat, apoteker, dan bidan.

Dalam waktu sekitar 20 hari pertama di Waigeo, kapal ini telah melayani lebih dari 1.300 pasien, termasuk dua operasi sesar darurat yang menyelamatkan ibu dan bayi.

Ketua doctorSHARE, Tutuk Utomo, mengapresiasi dukungan PIS dalam mewujudkan akses layanan kesehatan di daerah terpencil.

“Kerja sama ini bukan sekadar penyediaan fasilitas, melainkan sinergi nyata untuk memberikan kehidupan dan kesehatan yang lebih baik bagi masyarakat yang membutuhkan,” jelas Tutuk.

Tutuk menambahkan, beberapa kasus kritis seperti operasi sesar dengan kondisi janin terlilit tali pusat berhasil ditangani karena adanya akses layanan medis yang tepat waktu.

Komitmen pada ESG dan SDGs

Program ini sejalan dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) yang diusung oleh PIS, khususnya pada aspek sosial. Inisiatif ini juga mendukung pencapaian beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), antara lain:

  • SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera
  • SDG 10: Mengurangi Ketimpangan
  • SDG 14: Ekosistem Lautan
  • SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan

VP Corporate Communication Pertamina, Fadjar Djoko Santoso, turut menyampaikan apresiasi terhadap kontribusi para tenaga medis dan komitmen PIS dalam mendukung program kesehatan nasional.

“Pertamina, melalui Subholding PIS, terus mendukung inisiatif pemerintah dalam memperluas layanan kesehatan hingga ke pelosok, termasuk wilayah 3T di Papua,” ujar Fadjar.

Ia menegaskan bahwa Pertamina berkomitmen pada tata kelola perusahaan yang etis dan peduli lingkungan, serta terus berperan dalam pemberdayaan masyarakat melalui sektor kesehatan.

Melalui program ini, PIS tak hanya mengangkut energi untuk negeri, tetapi juga menunjukkan bahwa kapal dapat menjadi sarana layanan publik yang berdampak langsung bagi masyarakat di wilayah dengan akses terbatas.