
(Vibizmedia – Industry) Kementerian Perdagangan melalui Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (Ditjen PEN) terus memperkuat upaya mencetak wirausaha muda berorientasi ekspor melalui Program Campuspreneur. Salah satu langkahnya diwujudkan lewat lokakarya Campuspreneur yang digelar bersama Telkom University di Bandung, Jawa Barat, Kamis (7/5). Kegiatan ini diikuti 90 peserta yang terdiri atas mahasiswa dan pelaku UMKM.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Fajarini Puntodewi menjelaskan, lokakarya tersebut menjadi bagian dari penguatan Program Campuspreneur yang diluncurkan pada 2 April 2026. Program ini dibangun melalui kolaborasi Kemendag dengan berbagai perguruan tinggi guna melahirkan wirausaha muda yang mampu bersaing di pasar domestik maupun global.
“Melalui program ini, kami ingin mendorong lahirnya wirausaha muda yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan serta menghasilkan produk berdaya saing untuk pasar dalam negeri dan ekspor,” ujar Puntodewi.
Mengusung tema End-to-End Export Readiness: Transforming MSME Products from Design, Financing, to Global Market Access, lokakarya menghadirkan pembahasan mengenai kesiapan ekspor secara menyeluruh, mulai dari pengembangan desain produk, akses pembiayaan, hingga strategi memasuki pasar global.
Sejumlah narasumber turut hadir, di antaranya Kepala Divisi Jasa Konsultasi Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) Maria Sidabutar, Tenaga Ahli Desain Indonesia Design Development Centaer )IDDC) Darfi Rizkavirwan, serta Atase Perdagangan RI Den Haag, Annisa Hapsari.
Sekretaris Ditjen PEN Kemendag, Sugih Rahmansyah menegaskan, penguatan UMKM menjadi prioritas karena sektor tersebut merupakan tulang punggung perekonomian nasional sekaligus memiliki potensi besar sebagai eksportir baru.
Menurut Sugih, Program Campuspreneur dirancang melalui empat pilar utama, yaitu peningkatan kapasitas, pengembangan inovasi, pembukaan akses pasar, dan penguatan kemitraan. Program ini juga didukung fasilitasi business matching daring bersama 46 Perwakilan Perdagangan RI di 33 negara untuk mempertemukan UMKM dengan calon pembeli internasional.
“Mahasiswa diharapkan tidak hanya mampu menciptakan produk yang kompetitif, tetapi juga siap menembus pasar ekspor,” kata Sugih.
Dalam kesempatan tersebut, Sugih turut memaparkan kinerja perdagangan Indonesia yang masih positif. Pada Maret 2026, Indonesia mencatat surplus neraca perdagangan sebesar USD 3,32 miliar, sedangkan secara kumulatif Januari—Maret 2026 surplus mencapai USD 5,55 miliar.
Provinsi Jawa Barat juga menjadi salah satu penopang utama ekspor nasional dengan surplus perdagangan sebesar USD 2,11 miliar pada Maret 2026, didorong dominasi sektor manufaktur yang menyumbang 98,57 persen terhadap total ekspor daerah tersebut.








