Presiden Prabowo: Komitmen Multilateralisme dan Kemitraan Global South dalam KTT BRICS 2025

0
269
BRICS 2025
Presiden Prabowo Subianto menghadiri sesi pleno Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2025 di Museum of Modern Art (MAM), Rio de Janeiro, Brasil, pada Minggu, 6 Juli 2025. FOTO: BIRO PERS SETPRES

(Vibizmedia-Nasional) Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menegaskan kembali komitmen Indonesia dalam memperkuat sistem multilateral dan mendorong kerja sama ekonomi antar negara berkembang, dalam sesi kedua Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2025 yang berlangsung di Rio de Janeiro, Brasil, pada Minggu, 6, Juli 2025.

Dalam sesi bertema “Strengthening Multilateralism, Economic-Financial Affairs, and Artificial Intelligence,” Presiden Prabowo menyerukan pentingnya menghidupkan kembali multilateralisme sebagai fondasi kerja sama global di tengah dinamika geopolitik dunia yang semakin multipolar.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, yang mendampingi Presiden dalam pertemuan tersebut, menyampaikan bahwa Prabowo mendorong penguatan kemitraan ekonomi antar negara-negara berkembang atau Global South, khususnya dalam memaksimalkan peran New Development Bank (NDB) milik BRICS.

“Ini kemitraan ekonomi negara berkembang menjadi sangat penting dan diharapkan bahwa pemanfaatan dari New Development Bank bisa ditingkatkan,” ujar Airlangga.

Airlangga menambahkan, Indonesia telah menyatakan kesiapan untuk bergabung secara aktif dalam NDB. Langkah ini dinilai strategis guna memperluas akses pembiayaan pembangunan, sejalan dengan agenda transformasi hijau dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Saat ini, NDB tercatat tengah menangani sekitar 120 proyek yang tersebar di berbagai negara dengan total nilai mencapai US$ 39 miliar, mencakup sektor energi bersih (clean energy), infrastruktur berkelanjutan, dan proyek-proyek ramah lingkungan lainnya.
Inisiatif “South-South Economic Compact”

Dalam sesi tersebut, Presiden Prabowo juga mengusulkan pembentukan inisiatif baru bertajuk “South-South Economic Compact.” Wakil Menteri Luar Negeri, Arrmanatha Nasir (Tata), menjelaskan bahwa gagasan ini bertujuan menjadikan negara-negara BRICS sebagai penggerak utama dalam memperluas akses negara berkembang terhadap perdagangan dan rantai pasok global.

“Tujuannya adalah agar negara-negara BRICS menjadi motor untuk memberikan akses yang lebih luas kepada negara-negara Global South, untuk perdagangan dan juga integrasi ekonomi yang lebih kuat ke dalam supply chain global,” ungkap Tata.

Melalui partisipasi aktif dalam forum BRICS, Indonesia menegaskan visinya untuk membangun arsitektur ekonomi global yang lebih inklusif, adil, dan berkelanjutan. Keterlibatan dalam agenda BRICS, termasuk aksesi ke NDB, mencerminkan upaya Indonesia untuk menjadi bagian aktif dalam menata ulang tatanan global demi kesejahteraan kolektif negara-negara berkembang.