Lampaui Sejumlah Negara G20, Ekonomi Indonesia Tetap Tangguh

0
74
Foto: Kemenko Perekonomian

(Vibizmedia – Nasional) Di tengah dinamika global yang masih bergerak menuju keseimbangan baru, perekonomian Indonesia justru menunjukkan ketahanan yang solid. Pada Triwulan I-2026, ekonomi nasional tumbuh 5,61% (yoy), mencerminkan fundamental yang kuat sekaligus melampaui kinerja sejumlah negara G20 seperti China dan Korea Selatan, serta berada di atas berbagai proyeksi lembaga internasional.

Pertumbuhan ini terutama ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,52% (yoy), didorong momentum Ramadan dan Idulfitri yang meningkatkan aktivitas belanja dan mobilitas masyarakat. Dari sisi fiskal, realisasi belanja negara mencapai Rp815 triliun atau 21,2% APBN, melalui percepatan belanja K/L, program Makan Bergizi Gratis hingga Rp51 triliun per Maret 2026, serta berbagai stimulus seperti diskon tarif dan penyaluran THR ASN yang turut diperkuat kontribusi sektor swasta.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyampaikan bahwa sejumlah indikator ekonomi terkini juga menunjukkan prospek positif. Inflasi April tercatat 2,42% dan tetap berada dalam kisaran sasaran, Indeks Keyakinan Konsumen mencapai 122,9, serta neraca perdagangan mencatat surplus USD3,32 miliar—melanjutkan tren surplus selama 71 bulan berturut-turut. Selain itu, pertumbuhan dana pihak ketiga mencapai 13,55% (yoy) dan kredit tumbuh 9,49% (yoy).

Perbaikan juga terlihat dari sisi sosial. Penyerapan tenaga kerja meningkat 1,89 juta orang dalam periode Februari 2025 hingga Februari 2026, sehingga total penduduk bekerja mencapai 147,67 juta orang. Tingkat pengangguran terbuka turun menjadi 4,68%, disertai penurunan angka kemiskinan menjadi 8,25% dan Rasio Gini ke level 0,363, yang menunjukkan kualitas pertumbuhan yang semakin inklusif.

Berbagai kebijakan dan stimulus Pemerintah sepanjang Triwulan I-2026 terbukti efektif mendorong pertumbuhan sekaligus meredam dampak gejolak global. Misalnya, program diskon tarif transportasi saat Idulfitri 2026 mendorong peningkatan mobilitas, dengan angkutan kereta api ekonomi tumbuh 7,6% (yoy), angkutan laut 2,56% (yoy), dan penyeberangan meningkat 13,7% (yoy), didukung subsidi APBN sebesar Rp169 miliar.

Di sisi pembiayaan, penyaluran kredit program juga menunjukkan kinerja progresif. Kredit Usaha Rakyat (KUR) telah tersalurkan Rp96,18 triliun atau 34,41% dari target, Kredit Alsintan Rp55,92 miliar, Kredit Industri Padat Karya Rp82,93 miliar, serta Kredit Program Perumahan mencapai Rp14,92 triliun atau 42,89% dari target.

Ke depan, Pemerintah akan terus mengoptimalkan kebijakan fiskal untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi 2026 yang ditargetkan sebesar 5,4%, sekaligus menjadi bantalan terhadap tekanan global. Sejumlah langkah yang disiapkan antara lain penyaluran gaji ke-13 ASN sekitar Rp55 triliun, bantuan pangan bagi 33,2 juta keluarga penerima manfaat, serta keberlanjutan subsidi dan kompensasi energi sebesar Rp356,8 triliun dalam APBN 2026.

Selain itu, Pemerintah juga mendorong berbagai program strategis seperti revitalisasi pendidikan, pembangunan 3 juta rumah melalui skema FLPP, bantuan perumahan swadaya, hingga implementasi mandatori B50 dan percepatan energi baru terbarukan guna meningkatkan efisiensi ekonomi.

Untuk memperkuat akselerasi, Pemerintah membentuk Satgas Percepatan Program Pemerintah untuk Mendukung Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi (P3M-PPE) melalui Keppres Nomor 4 Tahun 2026. Satgas ini telah merumuskan berbagai kebijakan strategis, termasuk penurunan bea masuk impor LPG dan bahan baku plastik, reformasi perizinan impor, penyederhanaan regulasi teknis, hingga integrasi perizinan melalui sistem OSS.

Dengan kombinasi kebijakan fiskal, reformasi struktural, dan penguatan daya beli masyarakat, Pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tetap terjaga dan berkelanjutan di tengah ketidakpastian global.