Dunia Tak Pernah Cukup dengan Energi AS

0
66
Amerika

(Vibizmedia-Kolom) Dunia sedang berlomba memburu energi Amerika Serikat, menempatkan pengendara Amerika dan pembeli luar negeri pada jalur benturan kepentingan.

Presiden Trump dan pemerintahannya berhasil menekan serta mengambil berbagai langkah untuk menahan kenaikan harga energi di Amerika. Kondisi itu, ditambah fakta bahwa negara tersebut memiliki surplus energi yang sangat besar, mendorong pembeli luar negeri memborong minyak, bensin, bahan bakar jet, dan produk energi lain dari AS dalam jumlah besar, menggantikan pasokan yang tidak lagi mereka dapatkan dari Timur Tengah. Harga minyak AS pada penutupan perdagangan Jumat berada di level US$105,42 per barel, turun lebih dari US$7 dibanding puncaknya bulan lalu.

Untuk saat ini, AS masih mampu memenuhi kebutuhan domestik sekaligus menggantikan sebagian pasokan Teluk yang hilang. Belum pernah ada negara dalam sejarah dunia yang mengekspor energi sebanyak ini, pada akhir bulan lalu, AS mengirimkan 14,2 juta barel minyak mentah dan produk turunannya per hari—setara dengan sekitar satu dari tujuh barel konsumsi global pada kondisi normal.

Namun masalah mulai muncul. Produsen minyak AS nyaris tidak meningkatkan produksi, kilang beroperasi pada kapasitas penuh, dan stok domestik terkuras dengan cepat. Akibatnya, konsumen Amerika diperkirakan harus terus membayar harga bahan bakar lebih mahal agar pasokan tetap bertahan di dalam negeri.

Matt Smith, direktur riset komoditas di penyedia data komoditas dan pelayaran Kpler, mengatakan bahwa situasi tersebut pada akhirnya bisa berakhir buruk. Menurut dia, pasar pada dasarnya harus ditekan hingga harga naik lebih tinggi agar arus barel yang keluar dari AS dapat melambat.

Pemerintahan Trump berupaya menahan lonjakan harga, termasuk dengan melonggarkan pembatasan perdagangan antar pelabuhan AS dan melepaskan minyak dari cadangan strategis nasional. Trump juga mengatakan pekan lalu bahwa dirinya mendukung penangguhan pajak federal atas bensin. Harga bensin nasional rata-rata mencapai US$4,51 per galon sekitar Rp21.018 per liter pada Minggu dan berpotensi terus naik menjelang akhir pekan Memorial Day, yang menandai dimulainya musim perjalanan musim panas yang sibuk.

Pemerintah menegaskan tidak akan melarang ekspor energi. Menteri Energi Chris Wright mengatakan kepada CNBC pekan lalu bahwa masa depan ekonomi AS bergantung pada penjualan energi ke luar negeri dan bahwa hal tersebut menjadi salah satu agenda utama Trump.

Wright juga menegaskan bahwa AS tidak dapat menjadi eksportir energi utama dunia apabila sewaktu-waktu memutuskan menghentikan ekspor energinya sendiri.

Untuk sementara, perebutan pasokan ini menguji batas kemampuan sistem energi Amerika. Barel-barel minyak kini muncul di lokasi yang tidak biasa karena kilang mencari jalur untuk mengalirkan produk ke pasar internasional.

Pelabuhan New York, Philadelphia, dan Albany di negara bagian New York mengekspor 174.000 barel per hari bensin, diesel, dan produk minyak lainnya bulan lalu, menurut Kpler. Volume itu 10 kali lebih besar dibanding periode yang sama tahun lalu. Hingga pertengahan Mei, laju ekspor bahkan meningkat menjadi lebih dari 200.000 barel per hari—menjadi laju bulanan tertinggi dalam catatan Kpler sejak 2017.

Lonjakan ekspor dari kawasan tersebut menjadi tanda bahwa kilang di Gulf Coast kemungkinan mulai kehabisan kapasitas dermaga untuk memuat kapal tanker, kata Brian Stetter, direktur bahan bakar dan pengilangan Amerika di S&P Global. Ia mengatakan perusahaan tampaknya mulai mengirim barel mereka melalui Colonial Pipeline, jalur pipa utama yang mengangkut sekitar 45% seluruh bahan bakar yang dikonsumsi di Pantai Timur AS.

Menurut Stetter, Pantai Timur sebenarnya mengalami kekurangan pasokan, tetapi pasar melihat ada wilayah lain yang bahkan lebih ketat kondisinya sehingga memicu arus perdagangan yang sangat tidak biasa.

Barel-barel tersebut sejauh bulan ini sebagian besar dikirim ke Eropa, termasuk Prancis, Belgia, Belanda, dan Inggris, kata Smith dari Kpler. Para analis menilai hal itu menunjukkan bahwa kekurangan produk olahan energi telah menyebar dari Asia ke Eropa.

Diesel menjadi komoditas yang paling diburu. Menurut Energy Information Administration (EIA), AS sempat mengekspor sekitar 1,86 juta barel diesel pada satu titik awal bulan ini, menjadi volume tertinggi sepanjang sejarah. Lonjakan pengiriman itu membuat stok diesel dan bahan bakar lain di Gulf Coast turun hampir 19% dibanding level sebelum perang, menurut EIA.

Perusahaan pengilangan AS seperti Marathon Petroleum dan Valero mengatakan mereka memproduksi diesel semaksimal mungkin. Perusahaan-perusahaan tersebut mengirim bahan bakar ke negara-negara yang biasanya bergantung pada Asia sebagai pemasok, seperti Australia, yang sebelum perang Iran sangat bergantung pada Korea Selatan. Negara itu kini tidak lagi bisa mengakses minyak mentah Timur Tengah sebanyak sebelumnya untuk diolah menjadi diesel.

Menurut Kpler, AS mengekspor 2,7 juta barel diesel, bensin, dan produk olahan lainnya ke Australia pada Maret. Sebelum perang pecah, ekspor ke negara itu hanya terjadi sesekali. Tambahan 1,8 juta barel kembali dikirim ke Australia pada April.

Rick Hessling, kepala komersial Marathon Petroleum, mengatakan kepada para analis awal bulan ini bahwa kilang perusahaan di Los Angeles untuk pertama kalinya mengirim diesel ke Australia. Ia juga mengatakan perusahaan mulai mengirim nafta—bahan petrokimia yang digunakan untuk cat dan tinta—ke Asia untuk pertama kalinya.

Hessling menambahkan bahwa perusahaan melakukan berbagai langkah kreatif dan menciptakan pola perdagangan ekspor yang tidak biasa selama kuartal terakhir.

Para pembeli luar negeri itu ikut mendorong harga bahan bakar lebih tinggi di negara bagian tersebut. Harga diesel di California pada Minggu rata-rata mencapai US$7,42 per galon, naik dari US$5,10 sebelum perang.

Bukan hanya bahan bakar transportasi yang mengalir keluar dari AS. Kapal tanker juga memadati Gulf Coast untuk mengangkut minyak mentah. Menurut EIA, stok minyak mentah komersial di luar Strategic Petroleum Reserve turun 4,3 juta barel pada pekan yang berakhir 8 Mei. Di Cushing, Oklahoma—salah satu fasilitas penyimpanan minyak terbesar di dunia tempat harga acuan minyak AS ditetapkan—stok diperkirakan bisa turun ke level yang mengganggu operasional dalam dua bulan ke depan, menurut sejumlah analis.

Jika itu terjadi, harga minyak AS harus naik untuk menghambat penarikan stok lebih lanjut. Yang paling penting, harga acuan minyak AS kemungkinan akan bergerak lebih tinggi dibanding harga minyak global, sehingga pembeli luar negeri akan mengurangi minat mereka, ekspor menurun, dan lebih banyak minyak tersedia untuk pasar domestik.

Andy Lipow, presiden Lipow Oil Associates di Houston, mengatakan bahwa yang sedang terjadi saat ini adalah likuidasi persediaan minyak. Menurut dia, dunia telah melakukan hal tersebut selama dua bulan terakhir.