80 Persen Bahan Baku Masih Impor, Industri Susu Nasional Didorong Lebih Mandiri

0
79
Susu cair
Proses susu cair. DOK: ITB

(Vibizmedia-Nasional) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat pengembangan industri susu nasional melalui percepatan hilirisasi, peningkatan kualitas bahan baku, pengembangan inovasi produk, serta penguatan kemitraan antara industri pengolahan susu dan peternak. Upaya tersebut menjadi bagian dari momentum peringatan Hari Susu Nusantara (HSN) 2026 untuk meningkatkan konsumsi susu masyarakat sekaligus memperkuat daya saing industri susu dalam negeri.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, susu merupakan komoditas strategis yang memiliki peran penting dalam mendukung ketahanan pangan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pemenuhan gizi masyarakat.

“Industri susu memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung peningkatan kualitas gizi masyarakat. Rendahnya tingkat konsumsi susu di Indonesia justru menjadi peluang besar bagi pengembangan industri susu nasional ke depan,” ujar Agus di Jakarta, Rabu (3/6).

Berdasarkan data World Population Review tahun 2022, konsumsi susu masyarakat Indonesia tercatat sekitar 17,76 liter per kapita per tahun. Angka tersebut masih berada di bawah sejumlah negara ASEAN seperti Malaysia, Singapura, dan Vietnam.

Di sisi lain, kebutuhan bahan baku industri pengolahan susu nasional mencapai sekitar 5 juta ton setara susu segar per tahun. Namun, sekitar 80 persen kebutuhan tersebut masih dipenuhi melalui impor.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika menegaskan, penguatan pasokan susu segar dalam negeri menjadi langkah penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor.

“Penguatan rantai pasok susu segar dalam negeri melalui program kemitraan menjadi salah satu kunci utama. Sinergi antara peternak rakyat, koperasi, dan industri pengolahan susu perlu terus diperkuat guna menciptakan ekosistem industri persusuan yang terintegrasi, produktif, dan berkelanjutan,” kata Putu.

Sebagai bentuk dukungan terhadap sektor hulu, Kemenperin telah mendorong peningkatan kualitas susu segar melalui penyediaan teknologi cooling unit dan digitalisasi di Tempat Penerimaan Susu (TPS). Hingga 2024, program digitalisasi telah diterapkan pada 96 TPS yang berada di bawah sembilan koperasi di Jawa Barat dan Jawa Timur, dengan melibatkan lebih dari 12.000 peternak sapi perah.

Selain itu, Kemenperin juga mengembangkan aplikasi pemantauan pasokan susu segar dalam negeri untuk memonitor ketersediaan bahan baku industri. Pemanfaatan teknologi digital tersebut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas rantai pasok industri susu nasional.

Pemerintah juga mendorong modernisasi industri melalui Program Restrukturisasi Mesin dan/atau Peralatan Industri Makanan dan Minuman yang diatur dalam Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 40 Tahun 2024. Program tersebut memberikan fasilitas penggantian sebagian biaya atau reimbursement hingga 35 persen untuk pembelian mesin dan peralatan baru, baik bagi industri pengolahan susu maupun koperasi dan kelompok peternak yang menjadi mitra industri.

Menurut Putu, meningkatnya pendapatan masyarakat, tren gaya hidup sehat, serta pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diyakini akan menjadi katalisator bagi peningkatan investasi dan produktivitas industri pengolahan susu nasional.

Melalui peringatan Hari Susu Nusantara 2026, Kemenperin berharap dapat mempercepat hilirisasi industri susu nasional, memperkuat kapasitas sektor hulu, dan mendorong kolaborasi yang semakin erat antara industri serta peternak. Dengan dukungan kebijakan yang berkelanjutan, industri susu nasional diharapkan semakin mandiri, berdaya saing, dan mampu memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri secara berkelanjutan