Kemitraan RI–Australia Makin Solid, Fokus pada Mineral Kritis dan Ketahanan Energi

0
92
Foto: Kemenko Ekon

(Vibizmedia – Paris) Hubungan bilateral dan kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Australia memasuki fase baru yang semakin erat dan strategis. Dalam pertemuan antara Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Menteri Perdagangan dan Pariwisata Australia Don Farrell di sela Pertemuan Tingkat Menteri (PTM) OECD 2026, kedua negara sepakat memperkuat kolaborasi ekonomi untuk menghadapi tantangan global.

Pertemuan ini tidak sekadar menjadi agenda di sela forum internasional, tetapi menegaskan komitmen kuat kedua negara untuk terus bersinergi di tengah dinamika global. Australia juga menyatakan dukungannya terhadap proses aksesi Indonesia menjadi anggota OECD serta keanggotaan dalam CPTPP.

Sejumlah isu strategis menjadi fokus pembahasan. Dalam sektor mineral kritis, Indonesia dan Australia sepakat memadukan keunggulan masing-masing, yakni cadangan nikel Indonesia dan kapasitas serta pasokan lithium dari Australia. Sebagai tindak lanjut, Australia akan menyediakan prospektus proyek lithium siap investasi (shovel-ready) untuk menarik minat investor.

Australia juga menegaskan dukungan penuh terhadap langkah Indonesia bergabung dengan OECD dan CPTPP, yang dinilai penting untuk memperkuat posisi ekonomi Indonesia di tingkat global. Kekhawatiran terkait posisi Meksiko pun disebut telah diselesaikan melalui jalur diplomasi.

Di bidang energi, Indonesia mengusulkan pembangunan fasilitas penyimpanan minyak strategis di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dekat Selat Malaka. Proyek ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan energi kawasan sekaligus mengurangi ketergantungan pada pasokan dari Timur Tengah. Rencana tersebut akan melibatkan Dana Abadi Indonesia (Sovereign Wealth Fund) serta menawarkan berbagai insentif fiskal bagi investor Australia.

Kerja sama juga diperkuat melalui keberlanjutan program Prospera Phase Two yang selama ini berkontribusi dalam menjaga stabilitas keuangan, memperkuat ketahanan makroekonomi, dan mendorong peningkatan produktivitas di Indonesia.

Dalam sektor perdagangan dan pangan, kedua negara sepakat membenahi rantai pasok biji-bijian serta mempercepat proses perizinan impor produk pertanian. Sertifikasi halal bagi produk Australia juga dipastikan berjalan lancar melalui mekanisme Mutual Recognition Arrangement (MRA).

Selain itu, kedua pihak turut membahas berbagai tantangan global, termasuk dampak kebijakan perdagangan sepihak Amerika Serikat seperti tarif Section 301, serta perkembangan geopolitik di Timur Tengah yang memengaruhi konektivitas penerbangan internasional.

Menatap ke depan, kedua negara menegaskan pentingnya sinergi di tengah ketidakpastian ekonomi global. Hubungan Indonesia dan Australia tidak hanya berfokus pada peningkatan nilai perdagangan, tetapi juga pada upaya bersama untuk membangun ketahanan ekonomi dan pertumbuhan yang berkelanjutan.

Dalam konteks transisi energi, meskipun masih mengandalkan energi fosil, kedua negara berkomitmen untuk menjajaki potensi energi terbarukan, termasuk pengembangan infrastruktur energi masa depan seperti proyek kabel surya lintas negara.

Pertemuan ini menegaskan posisi Indonesia dan Australia sebagai mitra strategis yang saling melengkapi. Dengan langkah tindak lanjut yang jelas, kerja sama ini diharapkan tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga berkontribusi pada stabilitas kawasan. Kedua pihak pun berkomitmen untuk terus memantau implementasi berbagai kesepakatan demi memastikan manfaat optimal bagi masyarakat di kedua negara.

Dalam pertemuan tersebut, Menko Airlangga didampingi oleh Duta Besar RI untuk Prancis Mohamad Oemar, Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso, serta Deputi Bidang Kerja Sama Ekonomi Internasional dan Investasi Edi Prio Pambudi.