Cegah Fatherless dan Dampak Digital, Wihaji Ajak Perkuat Peran Keluarga

0
78
Foto: Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN

(Vibizmedia – Jakarta) Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 yang jatuh pada 29 Juni menjadi momentum refleksi penting bagi bangsa Indonesia. Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji, mengajak seluruh orang tua untuk menjadikan rumah sebagai tempat pulang terbaik bagi anak, di tengah derasnya arus teknologi digital dan perubahan sosial.

Dalam amanatnya, Wihaji menegaskan bahwa keluarga harus menjadi ruang yang aman, penuh kasih sayang, dan harapan. Ia mengingatkan bahwa ketangguhan keluarga merupakan fondasi utama agar anak-anak tidak kehilangan arah di tengah era disrupsi teknologi dan derasnya arus informasi.

Ia juga mengajak masyarakat untuk kembali merefleksikan peran keluarga dengan mempertanyakan apakah rumah telah menjadi tempat bernaung yang aman, tangguh, dan mampu melahirkan generasi unggul.

Indonesia saat ini tengah menikmati bonus demografi yang menjadi peluang besar menuju negara maju. Namun, peluang tersebut hanya dapat dimanfaatkan apabila lahir sumber daya manusia yang sehat, cerdas, berkarakter, dan tangguh. Dalam hal ini, Wihaji menekankan tiga aspek utama dalam keluarga, yakni kesehatan melalui penuntasan stunting dan pemenuhan gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan, pendidikan karakter dengan membiasakan nilai kejujuran dan disiplin sejak dini, serta ketahanan mental dengan menjadikan rumah sebagai pelabuhan emosional bagi anak.

Wihaji juga memberikan perhatian khusus terhadap peran ayah dalam pengasuhan. Ia menegaskan bahwa tanggung jawab membesarkan anak tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada ibu. Kehadiran fisik sekaligus kedekatan emosional ayah dinilai sangat penting dalam membentuk kestabilan kepribadian anak. Ia pun mengingatkan agar anak tidak tumbuh dalam kondisi fatherless, yakni ketika ayah hadir secara fisik namun absen secara emosional.

Di tengah meningkatnya penggunaan gawai, Wihaji mengajak orang tua untuk kembali membangun komunikasi yang hangat di dalam keluarga. Ia menekankan bahwa perhatian dan kasih sayang tidak dapat digantikan oleh layar ponsel maupun algoritma media sosial. Interaksi langsung antara orang tua dan anak menjadi kunci dalam membangun kedekatan emosional yang kuat.

Menurutnya, berbagai persoalan sosial seperti tawuran, perundungan, hingga penyalahgunaan narkoba kerap berakar dari lemahnya fungsi keluarga. Oleh karena itu, ia mendorong agar rumah menjadi tempat paling nyaman bagi anak untuk berbagi cerita, memperoleh kasih sayang, dan menemukan arah kehidupan.

Menutup amanatnya, Wihaji menegaskan bahwa keluarga merupakan fondasi utama pembangunan bangsa. Kemajuan ekonomi dan infrastruktur tidak akan memiliki arti tanpa didukung sumber daya manusia yang berkarakter, sehat, dan tangguh.

Ia pun mengajak seluruh masyarakat untuk membangun keluarga Indonesia yang sehat, cerdas, dan berkarakter mulia di tengah tantangan era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity), sebagai langkah strategis dalam memanfaatkan bonus demografi dan mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

Kalau ingin, saya juga bisa buatkan versi lebih ringkas untuk rilis berita atau versi yang lebih emosional untuk opini/editorial.