Kurangi Ketergantungan Digital, Permainan Tradisional Kembali Didorong

0
46
Menbud Fadli Zon memberikan sambutan dalam Festival Generasi Berani Exploring dalam rangka Hari Anak Nasional 2026, di Cibis Park (Foto: InfoPublik/IKemkomdigi)

(Vibizmedia – Jakarta) Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan pentingnya menghidupkan kembali permainan tradisional sebagai bagian dari keseharian anak Indonesia, guna memperkuat pembentukan karakter sekaligus mengurangi ketergantungan pada ruang digital.

Ia menilai kehadiran Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP Tunas) menjadi momentum strategis untuk mendorong kebangkitan kembali permainan rakyat di tengah pesatnya digitalisasi.

Menurut Fadli, perlindungan anak tidak cukup hanya dengan membatasi akses terhadap platform digital berisiko, tetapi juga harus disertai penyediaan ruang bagi anak untuk bermain, berinteraksi, dan belajar melalui budaya.

Dalam Festival Generasi Berani Exploring pada peringatan Hari Anak Nasional 2026 di Cibis Park, Jakarta, ia menyampaikan bahwa era digital tidak bisa dihindari, namun dampaknya dapat diantisipasi melalui langkah yang tepat.

Fadli juga menekankan pentingnya kolaborasi antara Kementerian Kebudayaan dan Kementerian Komunikasi dan Digital sebagai upaya strategis memperkuat perlindungan anak berbasis pendekatan budaya.

Ia menjelaskan, permainan tradisional bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari objek pemajuan kebudayaan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017. Permainan rakyat termasuk dalam salah satu dari sepuluh objek pemajuan kebudayaan bersama unsur budaya lainnya.

Karena itu, pemerintah berkomitmen mengembalikan permainan tradisional sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari anak. Fadli menilai permainan tersebut juga menjadi sarana pembelajaran karakter yang diwariskan lintas generasi.

Indonesia sendiri memiliki lebih dari 2.000 jenis permainan tradisional yang tersebar di berbagai daerah, mencerminkan keragaman budaya dari lebih dari 1.340 kelompok etnis di Tanah Air.

Sebagai langkah pelestarian, Kementerian Kebudayaan tengah menyiapkan program pendataan dan registrasi permainan tradisional dari seluruh Indonesia, sekaligus merintis pembentukan Museum Permainan Tradisional sebagai pusat dokumentasi, edukasi, dan promosi.

Fadli menambahkan, nilai permainan tradisional jauh melampaui hiburan. Melalui permainan, anak-anak belajar kejujuran, kerja sama, sportivitas, disiplin, hingga kemampuan memecahkan masalah—hal-hal yang tidak sepenuhnya dapat digantikan oleh interaksi digital.

Ia berharap gerakan Generasi Berani Exploring dapat menjadi awal kebangkitan permainan tradisional sekaligus memperkuat interaksi sosial anak di tengah perkembangan teknologi.

Fadli juga mengapresiasi dukungan berbagai pihak, mulai dari dunia usaha, komunitas, akademisi, hingga kementerian terkait dalam mendorong gerakan ini.

Ke depan, upaya tersebut akan terus diperkuat melalui program edukasi, festival budaya, serta pemanfaatan berbagai platform untuk memperkenalkan kembali permainan tradisional kepada generasi muda, sekaligus menjaga identitas budaya Indonesia tetap hidup.