Sawit Jadi Tulang Punggung Ekonomi, Dari Devisa hingga Energi

0
45
Direktur Keuangan, Manajemen Risiko, dan Umum Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Zaid Burhan Ibrahim, menyampaikan paparan dalam kegiatan Kunjungan Kerja Pers BPDP 2026 di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, Kamis (30/7/2026). (Foto: InfoPublik)

(Vibizmedia – Nasional) Industri kelapa sawit tetap menjadi salah satu penopang utama perekonomian Indonesia. Selain sebagai penyumbang devisa terbesar di sektor perkebunan, komoditas ini berperan penting dalam membuka lapangan kerja, memperkuat ketahanan energi nasional, serta mendorong pertumbuhan ekonomi di berbagai wilayah.

Direktur Keuangan, Manajemen Risiko, dan Umum Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Zaid Burhan Ibrahim, menyampaikan bahwa kelapa sawit memiliki tingkat produktivitas lahan tertinggi dibandingkan minyak nabati lainnya. Dengan rata-rata produksi sekitar 4 ton minyak per hektare, sawit dinilai sebagai komoditas paling efisien untuk memenuhi kebutuhan minyak nabati global yang terus meningkat.

“Kelapa sawit memiliki produktivitas lahan terbaik dibandingkan minyak nabati lainnya, sehingga menjadi pilihan yang berkelanjutan dalam memenuhi kebutuhan minyak dunia,” ujar Zaid dalam paparannya pada kegiatan Kunjungan Kerja Pers BPDP 2026 di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah.

Ia menjelaskan, besarnya kontribusi industri sawit tidak terlepas dari peran pekebun rakyat. Saat ini, sekitar 41 persen total luas perkebunan sawit nasional dikelola oleh petani, hampir seimbang dengan perkebunan besar swasta yang menguasai 55 persen. Dari sisi produksi, kebun rakyat menyumbang sekitar 16,64 juta ton atau 36 persen dari total produksi sawit nasional pada 2025.

“Hal ini menunjukkan bahwa pekebun rakyat telah menjadi aktor utama dalam industri sawit nasional, bukan lagi sekadar pelengkap,” jelasnya.

Zaid juga menegaskan bahwa sawit masih menjadi komoditas ekspor unggulan dengan nilai lebih dari USD20 miliar per tahun. Menariknya, lebih dari 80 persen ekspor tersebut sudah berupa produk hilir, sehingga memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian.

“Hilirisasi menjadi kunci agar Indonesia tidak hanya mengekspor bahan mentah, tetapi juga produk bernilai tinggi yang mampu meningkatkan daya saing di pasar global,” katanya.

Produk turunan sawit kini telah dimanfaatkan secara luas, mulai dari minyak goreng, margarin, vitamin, kosmetik, sabun, deterjen, hingga bahan bakar nabati seperti biodiesel. Bahkan limbah sawit juga dimanfaatkan sebagai biomassa, pakan ternak, dan bioetanol yang memberikan nilai ekonomi tambahan.

Selain itu, industri sawit juga menjadi salah satu sektor dengan penyerapan tenaga kerja terbesar. BPDP mencatat sekitar 16,5 juta orang bergantung pada sektor ini, terdiri dari 9,7 juta tenaga kerja langsung dan 7,8 juta tenaga kerja tidak langsung di berbagai sektor pendukung.

“Industri sawit tidak hanya soal komoditas, tetapi juga menyangkut kehidupan jutaan masyarakat Indonesia,” ujar Zaid.

Dukungan terhadap Program Biodiesel

Dalam upaya mendukung transisi energi nasional, BPDP terus mendorong implementasi program biodiesel. Zaid menjelaskan bahwa penerapan mandatori B40 pada 2025 diperkirakan mampu menghemat devisa hingga Rp147,5 triliun, menurunkan emisi karbon lebih dari 41 juta ton CO₂ ekuivalen, serta mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar fosil.

“Hingga semester pertama 2025, program B40 telah menghemat devisa sekitar USD3,68 miliar atau setara Rp60,37 triliun. Ini membuktikan bahwa sawit berperan penting dalam ketahanan energi sekaligus transisi menuju energi hijau,” ujarnya.

Meski demikian, industri sawit masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti produktivitas kebun rakyat yang belum optimal, persoalan legalitas lahan, kampanye negatif di pasar global, serta hambatan perdagangan internasional. Untuk itu, BPDP terus memperkuat berbagai program strategis, antara lain Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), penyediaan sarana dan prasarana, pengembangan SDM, riset, promosi, serta dukungan terhadap program biodiesel.

Sepanjang 2015–2025, BPDP telah menyalurkan berbagai dukungan, termasuk peremajaan sawit rakyat seluas 408.146 hektare yang melibatkan lebih dari 182 ribu pekebun, pemberian beasiswa kepada 13.265 mahasiswa, pelatihan bagi 29.173 pekebun, serta pendanaan ratusan riset untuk meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan sektor ini.

“Ke depan, BPDP akan terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah, dunia usaha, asosiasi, perguruan tinggi, dan para pekebun agar industri perkebunan Indonesia semakin berdaya saing, berkelanjutan, dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas,” tutup Zaid.