Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,29 Persen di Tengah Gejolak Global

0
56
Ilustrasi Foto udara proyek pembangunan gedung perusahaan di Kawasan Industri Wijayakusuma (KIW), Semarang, Jawa Tengah, Senin (20 Juli 2026).(Foto: Infopublik)

(Vibizmedia – Economy & Business) Perekonomian Indonesia tetap menunjukkan ketahanan di tengah ketidakpastian ekonomi dunia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan II-2026 mencapai 5,29 persen secara tahunan (year-on-year/y-on-y), lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar 5,12 persen.

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Moh Edy Mahmud mengatakan, capaian tersebut terutama ditopang oleh kuatnya konsumsi rumah tangga yang tetap terjaga di tengah berbagai tantangan global. Konsumsi rumah tangga menjadi kontributor terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi dengan sumber pertumbuhan sebesar 2,67 persen dan tumbuh 5,06 persen dibandingkan triwulan II-2025.

“Konsumsi rumah tangga menjadi penyumbang pertumbuhan terbesar dengan sumber pertumbuhan mencapai 2,67 persen dan tumbuh 5,06 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu,” ujar Edy dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (5/8/2026).

Daya beli masyarakat terjaga didukung berbagai kebijakan pemerintah, mulai dari pengendalian inflasi, pemberian diskon tiket transportasi selama libur sekolah, hingga pembayaran gaji ke-13 bagi aparatur sipil negara (ASN), TNI, Polri, dan para pensiunan. Peningkatan aktivitas masyarakat juga terlihat dari naiknya tingkat hunian hotel berbintang yang mencapai 51,29 persen, lebih tinggi dibandingkan 48,42 persen pada periode yang sama tahun lalu.

Selain konsumsi rumah tangga, investasi juga menjadi motor penggerak ekonomi. BPS mencatat Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 6,87 persen, didorong meningkatnya investasi swasta maupun pemerintah. Sementara itu, konsumsi pemerintah melonjak 15,97 persen seiring percepatan realisasi belanja pegawai, pembayaran gaji ke-13, pembayaran tenaga pendidik non-PNS, peningkatan belanja barang dan jasa, serta penyaluran Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dari sisi lapangan usaha, sektor industri pengolahan masih menjadi penyumbang terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dengan kontribusi 18,50 persen. Selanjutnya disusul sektor pertanian sebesar 13,57 persen, perdagangan 13,02 persen, konstruksi 9,79 persen, dan pertambangan 8,87 persen.

Sejumlah sektor mencatat pertumbuhan yang cukup tinggi. Pengadaan listrik dan gas tumbuh 10,81 persen seiring meningkatnya penjualan listrik di berbagai segmen pelanggan. Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum naik 10,60 persen, didukung meningkatnya okupansi hotel dan aktivitas jasa boga yang terdorong oleh pelaksanaan Program MBG. Sementara itu, sektor informasi dan komunikasi tumbuh 6,97 persen berkat meningkatnya penggunaan layanan telekomunikasi di berbagai sektor ekonomi.

Industri pengolahan juga tumbuh 4,52 persen, terutama ditopang meningkatnya permintaan produk makanan dan minuman, barang logam, komputer dan elektronik, serta industri kimia, farmasi, dan obat tradisional. Di sisi lain, sektor perdagangan besar dan eceran, termasuk reparasi mobil dan sepeda motor, tumbuh 6,39 persen karena meningkatnya aktivitas perdagangan, pasokan barang, serta penjualan kendaraan bermotor.

Secara regional, pertumbuhan ekonomi di wilayah Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, serta Sulawesi berada di atas rata-rata nasional. Bali dan Nusa Tenggara mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 6,10 persen, disusul Jawa 5,65 persen dan Sulawesi 5,53 persen.

Menurut BPS, di tengah perlambatan ekonomi sejumlah negara, capaian Indonesia menunjukkan fondasi ekonomi domestik yang tetap kuat. Momentum pertumbuhan tersebut didukung konsumsi masyarakat, investasi yang meningkat, serta aktivitas produksi yang terus terjaga, sehingga mampu menjaga kinerja ekonomi nasional tetap solid sepanjang triwulan II-2026.