Dari Tenda Pengungsian, Senyum Anak-anak Nagekeo Kembali Tumbuh

0
288
Posko pengungsi
Presiden Prabowo Subianto meninjau posko pengungsian di Lapangan Berdikari, Kabupaten Nagekeo, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Rabu, 26 Agustus 2026. FOTO: BIRO PERS SETPRES

(Vibizmedia-Nasional) Suasana tenda pengungsian di Lapangan Berdikari, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), mendadak riuh pada Rabu (26/8/2026). Warga berdesakan mendekat, sementara anak-anak menyelinap di antara kerumunan ketika seorang pejabat negara datang menyapa para pengungsi.

Sejumlah warga mengangkat telepon genggam untuk mengabadikan momen. Beberapa di antaranya berjabat tangan dan berbincang. Namun, perhatian justru tertuju pada anak-anak yang dengan wajah penuh rasa ingin tahu ikut mendekat.

Satu per satu tangan kecil terulur ketika mainan dibagikan kepada mereka. Senyum pun terlihat di wajah anak-anak yang selama beberapa hari terakhir harus menjalani kehidupan di tenda pengungsian setelah gempa mengguncang wilayah NTT.

Gempa magnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026 mengubah kehidupan warga dalam hitungan detik. Rumah yang selama ini menjadi tempat berlindung harus ditinggalkan. Aktivitas sekolah, bermain, dan rutinitas sehari-hari ikut terganggu.

Tenda pengungsian kemudian menjadi tempat mereka makan, beristirahat, bermain, bertemu teman, sekaligus menunggu keadaan kembali aman.

Dalam situasi seperti itu, perhatian terhadap anak-anak menjadi bagian penting dari proses pemulihan. Mereka membutuhkan ruang untuk bermain, menggambar, berinteraksi, dan mendapatkan kembali rasa aman setelah mengalami bencana.

Pemerintah juga menyiapkan langkah sementara agar kegiatan belajar anak-anak dapat kembali berjalan.

“Sudah kita siapkan perbaikan-perbaikan, langkah-langkah sementara supaya sekolah bisa segera buka, segera kita jalankan mungkin untuk keamanan, sekolah-sekolah mungkin di tenda dulu,” ujar Presiden di hadapan para pengungsi.

Pemerintah menegaskan masyarakat terdampak akan terus mendapatkan pendampingan selama proses pemulihan berlangsung.

“Percayalah, pemerintah tidak akan membiarkan saudara sendiri. Kita hadir dan kita akan terus membantu saudara-saudara,” lanjutnya.

Sebelum menemui warga, pemerintah telah menggelar rapat untuk mengevaluasi perkembangan penanganan pascabencana. Proses pemulihan diarahkan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan darurat, tetapi juga memastikan masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan secara normal.

Pemulihan mencakup perbaikan rumah, fasilitas pendidikan dan kesehatan, pemulihan aktivitas ekonomi, serta pembangunan kembali berbagai infrastruktur yang terdampak.

Di tengah suasana pengungsian yang masih penuh ketidakpastian, anak-anak justru menghadirkan warna berbeda. Mereka mendekat, tersenyum, menerima mainan dan kembali bermain.

Tawa anak-anak itu memang tidak serta-merta menghapus pengalaman pahit akibat gempa. Namun, senyum mereka menjadi tanda bahwa kehidupan perlahan mulai bergerak kembali.

Dari tenda pengungsian di Nagekeo, harapan itu sederhana: sekolah kembali dibuka, rumah kembali berdiri, dan anak-anak dapat kembali bermain serta belajar dengan aman.