52 IKM Jogja Bawa Tradisi dan Inovasi Tembus Pasar Global

0
116
Industri Kecil Menengah
Industri Kecil Menengah. FOTO: VIBIZMEDIA.COM/MARULI SINAMBELA

(Vibizmedia-Nasional) Produk kerajinan Yogyakarta kembali mendapat panggung untuk memperluas pasar. Sebanyak 52 industri kecil dan menengah (IKM) serta perajin dari lima kabupaten/kota di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ambil bagian dalam Pameran Kerajinan Jogja Istimewa (PKJI) 2026 di Jakarta.

Memasuki penyelenggaraan tahun kedelapan, PKJI 2026 digelar pada 31 Agustus hingga 3 September 2026 di Plasa Industri, Gedung Kementerian Perindustrian, Jakarta. Mengusung tema “Kerajinan Jogja: Harmoni Tradisi dan Inovasi”, pameran ini menjadi ruang promosi sekaligus membuka peluang pasar dan kemitraan bagi pelaku IKM kerajinan Yogyakarta.

Beragam produk ditampilkan, mulai dari batik, lurik, fesyen, kriya, aksesori, kerajinan berbahan alam hingga berbagai produk kreatif lainnya. Produk-produk tersebut membawa karakter budaya Yogyakarta sekaligus dikemas dengan sentuhan desain dan inovasi yang mengikuti perkembangan selera konsumen.

Wakil Ketua Harian I Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) Loemongga Agus Gumiwang mengatakan, PKJI menjadi salah satu bentuk komitmen bersama untuk menjaga sekaligus mengembangkan kekayaan wastra dan kriya Indonesia.

Menurutnya, pengembangan kerajinan tidak cukup hanya dengan menjaga tradisi. Para perajin juga perlu diberikan ruang untuk berinovasi dan memperluas akses pasar agar produk wastra dan kriya semakin kompetitif, termasuk di pasar global.

“Dekranas terus berupaya menghadirkan ruang bagi para perajin dan pelaku usaha untuk berkembang, berinovasi, serta memperluas akses pasar melalui berbagai program pembinaan, promosi, dan kemitraan,” kata Loemongga.

Peluang pasar global juga semakin terbuka seiring berkembangnya tren slow fashion atau fesyen berkelanjutan. Produk wastra Nusantara dinilai memiliki keunggulan karena menggunakan bahan alami, mengandalkan teknik produksi tradisional, serta memiliki nilai budaya dan keterampilan perajin yang sulit ditemukan pada produk massal.

Loemongga menilai karakter tersebut dapat menjadi nilai tambah bagi produk kerajinan Indonesia. Wastra tidak hanya menawarkan keindahan motif, tetapi juga membawa cerita dan identitas budaya yang semakin relevan dengan tren konsumsi berkelanjutan.

Potensi tersebut tercermin dari kinerja ekspor. Data Pusat Data dan Informasi Kementerian Perindustrian mencatat nilai ekspor industri kerajinan pada Triwulan II 2026 mencapai USD909,95 juta, naik 6,54 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan ekspor tersebut menunjukkan produk kerajinan Indonesia semakin memiliki tempat di pasar internasional. Namun, penguatan industri kerajinan tetap membutuhkan regenerasi agar keterampilan dan pengetahuan tradisional tidak berhenti pada generasi saat ini.

Loemongga berharap kegiatan PKJI tidak hanya menjadi ajang transaksi, tetapi juga sarana edukasi dan apresiasi terhadap warisan budaya. Generasi muda didorong melihat wastra dan kriya bukan semata sebagai peninggalan masa lalu, melainkan sebagai bagian dari industri kreatif yang memiliki prospek ekonomi.

Sementara itu, Ketua Harian Dekranasda DIY GKBRAA Paku Alam mengatakan tema PKJI 2026 menggambarkan upaya menjaga kekayaan tradisi dan kearifan lokal Yogyakarta sekaligus mendorong perajin untuk terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan pasar.

Menurutnya, inovasi tetap diperlukan, tetapi tidak boleh menghilangkan karakter dan jati diri Yogyakarta.

“Jangan takut untuk berinovasi, tetapi tetaplah berpegang pada karakter dan jati diri Yogyakarta,” ujarnya.

Pemilihan Jakarta sebagai lokasi pameran juga dinilai strategis karena merupakan salah satu pusat perdagangan dan bisnis nasional. Kehadiran produk kerajinan Yogyakarta di Jakarta diharapkan mempertemukan perajin dengan buyer, desainer, pelaku usaha, komunitas, pemerintah, dan mitra strategis lainnya.

Dengan demikian, pameran tidak berhenti pada promosi produk, tetapi dapat menghasilkan transaksi, kemitraan, kolaborasi, sekaligus memperluas jaringan usaha.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian Reni Yanita mengatakan, kekuatan IKM kerajinan terletak pada perpaduan antara nilai budaya dan kreativitas.

Karena itu, inovasi perlu terus dikembangkan melalui desain, peningkatan kualitas, pemanfaatan teknologi, serta pengembangan produk tanpa menghilangkan identitas budaya.

“Kerajinan memiliki keunggulan karena tidak hanya menawarkan produk, tetapi juga membawa cerita, identitas, dan nilai budaya dari daerah asalnya,” kata Reni.

Menurutnya, PKJI 2026 membuktikan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan pengembangan industri. Tradisi tetap dapat hidup ketika diterjemahkan melalui kreativitas dan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan zaman.

Selain pameran, PKJI 2026 juga menghadirkan business matching dan berbagai workshop industri kerajinan. Rangkaian kegiatan tersebut diharapkan memperkuat kapasitas pelaku IKM sekaligus membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk kerajinan Yogyakarta.

Dengan perpaduan tradisi, inovasi, dan perluasan jejaring bisnis, PKJI 2026 diharapkan menjadi salah satu pintu bagi produk kerajinan Jogja untuk semakin kuat di pasar nasional dan melangkah lebih jauh ke pasar global.