BMKG Waspadai Lonjakan Polusi Udara di Tengah El Niño Kuat hingga Akhir 2026

0
86

(Vibizmedia – Jakarta) Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi memburuknya kualitas udara selama berlangsungnya fenomena El Niño pada 2026. Kondisi iklim yang ditandai dengan berkurangnya curah hujan tersebut dapat membuat atmosfer lebih sulit melakukan pembersihan alami terhadap polutan.

Ketua Tim Informasi Pencemaran Udara Direktorat Layanan Iklim Terapan BMKG, Dwi Atmoko, menjelaskan El Niño merupakan fenomena iklim yang ditandai oleh peningkatan suhu muka laut di wilayah tengah dan timur Samudra Pasifik dibandingkan kondisi normal. Perubahan tersebut kemudian memengaruhi pola atmosfer dan cuaca di berbagai wilayah, termasuk Indonesia.

Bagi Indonesia, El Niño umumnya berkaitan dengan kondisi yang lebih kering akibat berkurangnya pembentukan awan dan curah hujan. Ketika suhu muka laut di sekitar Indonesia relatif lebih rendah, proses penguapan juga dapat berkurang. Kondisi atmosfer tersebut kemudian menghambat pertumbuhan awan hujan.

“Pada saat musim El Nino di Indonesia pertumbuhan awannya tidak masif, sehingga hujannya juga lebih jarang. Potensi kekeringan juga semakin besar,” ujar Dwi dalam dialog KemenCast di Jakarta, Sabtu (29/8/2026).

Hujan Berkurang, Polutan Bertahan Lebih Lama

Menurut Dwi, dampak El Niño tidak berhenti pada meningkatnya risiko kekeringan. Kondisi atmosfer yang lebih kering juga dapat berpengaruh terhadap kualitas udara karena salah satu mekanisme alami untuk membersihkan polutan adalah melalui hujan.

Air hujan membantu membawa partikel pencemar dari atmosfer ke permukaan melalui proses yang dikenal sebagai washout. Selain itu, terdapat mekanisme scavenging, yaitu ketika partikel pencemar ikut terlibat dalam proses pembentukan awan dan kemudian turun bersama presipitasi.

Masalahnya, ketika curah hujan menurun akibat kondisi El Niño, kedua proses tersebut menjadi lebih terbatas. Sementara sumber emisi seperti kendaraan bermotor, industri, maupun pembakaran tetap menghasilkan polutan.

“Sumber emisi tetap aktif mengeluarkan emisinya, sedangkan proses untuk membersihkan atmosfernya tidak berjalan masif. Sehingga polutan akan berada di dalam atmosfer. Akibatnya, polusi udaranya juga semakin tinggi,” jelas Dwi.

Dengan demikian, periode kemarau yang lebih panjang dapat menciptakan kondisi yang memungkinkan polutan bertahan lebih lama di udara. Situasi tersebut perlu diwaspadai terutama di kawasan perkotaan dan wilayah yang menghadapi aktivitas pembakaran hutan dan lahan.

El Niño 2026 Berintensitas Kuat

BMKG secara berkala memantau kondisi suhu muka laut sebagai salah satu indikator perkembangan El Niño. Pemantauan dilakukan setiap 10 hari atau dasarian.

Berdasarkan pemantauan terakhir pada Agustus 2026, anomali suhu muka laut yang menjadi indikator El Niño tercatat sebesar 2,26 derajat Celsius. Angka tersebut menunjukkan fenomena El Niño berada pada kategori kuat.

“Kalau lebih besar dari positif 2, itu menandakan El Nino kuat. Jadi saat ini memang sedang terjadi El Nino event dengan intensitas kuat, sangat kuat,” kata Dwi.

BMKG memperkirakan El Niño masih akan berlangsung hingga sekitar Desember 2026. Meskipun intensitasnya diprediksi menurun setelah itu, pengaruhnya terhadap Indonesia masih berpotensi dirasakan hingga Januari-Februari 2027.

Hal tersebut terjadi karena respons laut terhadap perubahan suhu berlangsung relatif lambat. Laut membutuhkan waktu untuk melepaskan panas yang telah tersimpan sehingga perubahan kondisi El Niño tidak serta-merta menghilangkan dampaknya terhadap atmosfer Indonesia.

“Jadi meskipun El Nino-nya sudah lewat, tetapi ketika di Indonesia suhu muka lautnya tidak segera hangat, maka pembentukan awan juga tersupresi lagi, terhambat lagi. Karena itu, efek El Nino masih dapat dirasakan hingga Januari-Februari, meskipun semakin melemah,” ujarnya.

Kebakaran Hutan Perburuk Kualitas Udara

Dampak kondisi kering juga mulai terlihat di sejumlah wilayah Indonesia. Dwi menyebut kawasan Kalimantan menjadi salah satu wilayah yang perlu mendapat perhatian karena meningkatnya jumlah titik panas (hotspot), yang menunjukkan adanya potensi kebakaran hutan dan lahan.

Kebakaran hutan dan lahan dapat memperburuk kualitas udara karena menghasilkan berbagai zat pencemar, termasuk partikulat halus PM2.5 dan karbon monoksida (CO). Partikel PM2.5 menjadi perhatian karena ukurannya sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan.

“Kalau kita lihat dari beberapa stasiun pengamatan kualitas udara BMKG di Pontianak, misalnya, konsentrasi PM2,5-nya itu sudah pada taraf tidak sehat dan bahkan sangat tidak sehat,” ungkap Dwi.

BMKG memperkirakan September, Oktober, dan November 2026 berpotensi menjadi periode ketika dampak El Niño berada pada tingkat tinggi hingga sangat tinggi. Memasuki Desember hingga awal 2027, intensitas fenomena tersebut diperkirakan mulai berkurang.

Meski demikian, masyarakat tetap perlu mewaspadai dampak turunannya karena pelemahan El Niño tidak otomatis membuat seluruh kondisi lingkungan kembali normal dalam waktu singkat.

Dampak Meluas ke Pangan, Energi, dan Air

El Niño juga memiliki konsekuensi yang lebih luas dibandingkan sekadar perubahan pola hujan dan kualitas udara. Sektor pertanian menjadi salah satu bidang yang rentan terdampak karena berkurangnya ketersediaan air dapat mengganggu produktivitas sawah dan tanaman hortikultura.

Sektor energi juga perlu memperhitungkan dampak kondisi tersebut. Pembangkit listrik tenaga air (PLTA), misalnya, bergantung pada ketersediaan debit sungai. Ketika curah hujan menurun dalam periode panjang, debit sungai berpotensi ikut berkurang sehingga dapat memengaruhi kemampuan pembangkit menghasilkan energi.

Tekanan serupa dapat terjadi pada sektor perkebunan yang membutuhkan pasokan air untuk menjaga produktivitas tanaman. Ketersediaan air baku juga menjadi perhatian, khususnya bagi perusahaan penyedia air minum yang mengandalkan sumber air dari sungai, danau, maupun curah hujan.

Jika kondisi kering berlangsung panjang, keterbatasan air dapat berdampak pada pemenuhan kebutuhan masyarakat, baik untuk konsumsi maupun berbagai aktivitas sehari-hari.

Karena itu, BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk terus memantau perkembangan El Niño, kondisi kualitas udara, potensi kekeringan, serta informasi iklim secara berkala.

Informasi tersebut dapat diperoleh melalui kanal resmi BMKG, termasuk situs BMKG, laman informasi iklim BMKG, media sosial Info BMKG, dan aplikasi Info BMKG.

Pemantauan secara berkala diharapkan membantu masyarakat menyesuaikan aktivitas dengan kondisi cuaca dan lingkungan, sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi berbagai dampak El Niño hingga awal 2027.