(Vibizmedia – Jakarta) Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendorong penguatan integrasi data meteorologi, kualitas udara, dan kesehatan sebagai bagian dari sistem peringatan dini terhadap risiko penyakit. Kolaborasi lintas sektor dinilai penting agar perubahan kondisi cuaca dan lingkungan dapat segera diterjemahkan menjadi informasi kesehatan yang mudah dipahami dan ditindaklanjuti masyarakat.
Ketua Tim Informasi Pencemaran Udara Direktorat Layanan Iklim Terapan BMKG, Dwi Atmoko, mengatakan keterhubungan data tersebut dapat membantu pemerintah melihat hubungan antara perubahan atmosfer, kondisi kualitas udara, dan potensi munculnya gangguan kesehatan.
Menurutnya, informasi mengenai cuaca dan kualitas udara tidak dapat dipisahkan dari kondisi kesehatan masyarakat. Faktor seperti suhu, kelembapan, curah hujan, konsentrasi partikulat udara, hingga fenomena iklim seperti El Niño dapat memengaruhi kondisi lingkungan dan pada akhirnya meningkatkan risiko terhadap kesehatan apabila tidak diantisipasi.
Fenomena El Niño merupakan kondisi pemanasan suhu muka laut di bagian tengah dan timur Samudra Pasifik tropis yang dapat mengubah pola cuaca di berbagai wilayah dunia, termasuk Indonesia. Di Indonesia, El Niño umumnya berkaitan dengan berkurangnya curah hujan dan meningkatnya risiko musim kemarau yang lebih panjang atau lebih kering dari kondisi normal.
Kondisi yang lebih kering tersebut dapat membawa sejumlah konsekuensi. Berkurangnya hujan membuat partikel pencemar lebih lama berada di atmosfer, sementara peningkatan aktivitas pembakaran lahan atau hutan pada periode kering dapat memperburuk kualitas udara. Situasi tersebut berpotensi meningkatkan paparan masyarakat terhadap partikulat, terutama PM2.5, yang diketahui berkaitan dengan gangguan kesehatan sistem pernapasan.
Karena itu, integrasi data cuaca, kualitas udara, dan kesehatan diperlukan agar pemerintah tidak hanya mengetahui perubahan kondisi lingkungan, tetapi juga dapat memperkirakan konsekuensi kesehatan yang mungkin timbul.
Dwi mengatakan kolaborasi lintas sektor tersebut telah mulai dikembangkan di DKI Jakarta yang menjadi salah satu testbed BMKG. Dalam skema tersebut, BMKG, Dinas Kesehatan DKI Jakarta, dan Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta saling berbagi data untuk kemudian menyusun program dan kajian secara bersama.
“DKI Jakarta ini menjadi testbed-nya BMKG, bagaimana BMKG itu membuka diri, kemudian Dinas Kesehatan membuka diri, DLH juga membuka diri. Kami saling sharing data, kemudian duduk sama-sama, code signing programnya apa,” ujar Dwi dalam Dialog KemenCast, Sabtu (29/8/2026).
Salah satu kajian yang sedang dilakukan bersama Dinas Kesehatan DKI Jakarta adalah penelitian mengenai dampak paparan partikulat halus atau PM2.5 terhadap kejadian pneumonia. Kajian ini diharapkan dapat memperkuat pemahaman mengenai hubungan antara perubahan kualitas udara dengan risiko penyakit pernapasan.
“Dengan Dinkes DKI kita sedang membuat bagaimana studi, bagaimana dampak dari PM2.5 terhadap pneumonia, sekarang sedang berjalan. Nanti kalau ini ternyata hasilnya positif, ini menjadi informasi baru bagi inovasi Dinkes dengan BMKG dan juga DLH,” kata Dwi.
El Niño dan Pentingnya Sistem Peringatan Dini
Integrasi data menjadi semakin relevan karena perubahan iklim dan fenomena cuaca ekstrem dapat memberikan dampak berantai terhadap kehidupan masyarakat. El Niño, misalnya, tidak hanya berkaitan dengan persoalan kekeringan dan ketersediaan air, tetapi juga dapat berpengaruh terhadap kondisi lingkungan, kualitas udara, sektor pertanian, hingga kesehatan.
Pada periode kering yang lebih panjang, risiko kebakaran hutan dan lahan dapat meningkat. Asap yang dihasilkan dari kebakaran tersebut dapat membawa partikulat dan polutan lain ke udara sehingga memperbesar paparan masyarakat. Kondisi ini terutama perlu diwaspadai oleh kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki aktivitas tinggi di luar ruangan.
Dengan menggabungkan prakiraan cuaca, pemantauan kualitas udara, dan data epidemiologi, pemerintah dapat membangun sistem yang tidak hanya memberikan informasi mengenai kondisi atmosfer, tetapi juga memperkirakan potensi dampaknya terhadap kesehatan masyarakat.
Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, Then Suyanti, mengatakan gagasan mengenai integrasi data tersebut telah dibahas lintas lembaga. Salah satu opsi yang didorong adalah memanfaatkan ekosistem Satu Sehat sebagai kanal untuk menyampaikan informasi kesehatan kepada masyarakat.
Integrasi data juga menjadi bagian dari pembahasan Komite Penanggulangan Penyakit Respirasi dan Dampak Polusi Udara. Forum tersebut diharapkan memperkuat koordinasi antarlembaga dalam membangun sistem informasi yang menghubungkan kondisi lingkungan dengan potensi peningkatan penyakit, termasuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan pneumonia.
“Ya akan ada Komite, saat ini sedang menunggu persetujuan,” ujar Then.
Kolaborasi antara lembaga meteorologi, kesehatan, dan lingkungan diharapkan dapat membuat sistem peringatan dini menjadi lebih komprehensif. Informasi tidak berhenti pada pemberitahuan bahwa cuaca sedang kering atau kualitas udara memburuk, tetapi juga memberikan gambaran mengenai potensi risiko kesehatan serta langkah perlindungan yang dapat dilakukan masyarakat.
Dengan pendekatan tersebut, perubahan cuaca dan fenomena iklim seperti El Niño dapat diantisipasi tidak hanya dari sisi kebencanaan dan lingkungan, tetapi juga dari perspektif kesehatan masyarakat. Pada akhirnya, integrasi data lintas sektor diharapkan mampu memperkuat kemampuan pemerintah dalam memberikan peringatan lebih awal sekaligus melindungi masyarakat dari dampak kesehatan akibat perubahan kondisi lingkungan.









