Hari Indonesia Menabung 2026, Pemerintah Perkuat Literasi dan Inklusi Keuangan Generasi Muda

0
45
Foto: Kemenko Perekonomian

(Vibizmedia – Jakarta) Peningkatan literasi dan inklusi keuangan terus menjadi salah satu agenda penting Pemerintah dalam memperkuat kesejahteraan masyarakat sekaligus membangun ketahanan ekonomi nasional. Kemudahan akses terhadap produk dan layanan keuangan perlu berjalan beriringan dengan kemampuan masyarakat dalam memahami, memilih, dan mengelola keuangan secara bertanggung jawab.

Semangat tersebut kembali ditekankan melalui Hari Indonesia Menabung (HIM) dan Bulan Literasi Keuangan Tahun 2026, yang menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menabung serta membangun kebiasaan mengelola keuangan secara sehat sejak usia dini.

Melalui Dewan Nasional Keuangan Inklusif (DNKI), yang diketuai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Pemerintah terus memperluas akses sekaligus memperkuat pemahaman masyarakat terhadap layanan keuangan. Sasaran program tidak hanya masyarakat dewasa, tetapi juga anak-anak dan generasi muda melalui lingkungan pendidikan, termasuk sekolah dan pesantren.

Program tersebut dirancang bukan sekadar agar masyarakat memiliki rekening atau dapat menggunakan layanan perbankan. Lebih jauh, Pemerintah ingin membangun kebiasaan finansial yang positif, seperti menabung secara rutin, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta merencanakan penggunaan uang untuk kebutuhan jangka pendek maupun masa depan.

“Untuk adik-adik semuanya, sekali lagi dengan menabung berarti kita memastikan masa depan kita. Karena itu pentingnya, sejak awal ayo terus menabung untuk membangun masa depan Indonesia yang lebih baik,” ujar Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso dalam acara Puncak Hari Indonesia Menabung dan Bulan Literasi Keuangan Tahun 2026 di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 13 Bekasi, Jumat (28/8).

Memperluas Akses Keuangan Pelajar

Upaya meningkatkan inklusi keuangan menunjukkan perkembangan positif. Tingkat inklusi keuangan nasional telah mencapai 93,6 persen, melampaui target yang sebelumnya ditetapkan Pemerintah.

Perkembangan tersebut juga ditopang semakin terbukanya akses layanan keuangan bagi pelajar. Kehadiran layanan perbankan melalui skema Laku Pandai serta pemanfaatan teknologi digital memberikan pilihan yang lebih mudah bagi siswa untuk mulai mengenal layanan keuangan sekaligus membangun kebiasaan menabung.

Dalam konteks Hari Indonesia Menabung, pembiasaan menabung sejak sekolah memiliki arti penting. Anak-anak tidak hanya diperkenalkan pada aktivitas menyimpan uang, tetapi juga belajar mengenai disiplin, perencanaan, tanggung jawab, dan kemampuan menentukan prioritas.

Kebiasaan tersebut diharapkan menjadi fondasi bagi generasi muda dalam menghadapi kebutuhan finansial yang semakin kompleks ketika memasuki usia produktif.

Literasi dan Inklusi Harus Berjalan Bersama

Tingginya tingkat inklusi keuangan menunjukkan bahwa akses masyarakat terhadap layanan keuangan semakin luas. Namun, akses saja belum cukup. Masyarakat juga membutuhkan literasi agar mampu menggunakan produk keuangan secara tepat dan terhindar dari berbagai risiko, termasuk keputusan finansial yang tidak sehat.

Karena itu, Bulan Literasi Keuangan 2026 menjadi momentum untuk memperkuat pemahaman masyarakat mengenai pengelolaan keuangan. Bagi generasi muda, edukasi tersebut semakin relevan seiring meningkatnya penggunaan layanan keuangan digital.

Teknologi memberikan peluang besar untuk memperluas jangkauan inklusi keuangan, terutama kepada kelompok masyarakat yang sebelumnya sulit memperoleh layanan keuangan formal. Namun, pemanfaatannya harus disertai kemampuan memahami risiko, keamanan transaksi, serta konsekuensi dari setiap keputusan keuangan.

Pemerintah memandang penguatan literasi keuangan di kalangan pelajar sebagai investasi jangka panjang. Generasi yang sejak dini memahami pentingnya menabung dan mengelola uang diharapkan tumbuh menjadi masyarakat yang lebih mandiri secara finansial.

Menabung sebagai Kebiasaan Positif

Meski tingkat inklusi keuangan nasional telah mencapai capaian yang tinggi, Pemerintah masih melihat adanya ruang untuk memperluas akses dan meningkatkan kualitas pemanfaatan layanan keuangan, khususnya di kalangan anak-anak dan pelajar.

Sinergi antara pemerintah, industri jasa keuangan, sekolah, perbankan, keluarga, dan masyarakat menjadi penting agar budaya menabung tidak berhenti sebagai kampanye sesaat. Kebiasaan tersebut perlu dibangun secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

“Jadi, saya kira kebiasaan menabung ini kebiasaan yang sangat baik untuk kita semuanya. Mudah-mudahan dengan menabung ini kita bisa mendorong perekonomian kita yang lebih baik lagi,” pungkas Susiwijono.

Melalui momentum Hari Indonesia Menabung dan Bulan Literasi Keuangan 2026, Pemerintah berharap semakin banyak generasi muda yang tidak hanya memiliki akses terhadap layanan keuangan, tetapi juga memahami cara menggunakannya secara bijak. Pada akhirnya, literasi dan inklusi keuangan diharapkan menjadi bagian dari upaya membentuk masyarakat yang lebih sejahtera, mandiri, dan memiliki ketahanan ekonomi yang kuat.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan beserta jajaran, Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan, Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan Kementerian Keuangan, perwakilan pemerintah daerah, serta perwakilan perbankan.