(Vibizmedia – Jakarta) Perekonomian Indonesia yang tumbuh 5,45 persen secara cumulative to cumulative (c-to-c) pada semester I-2026 menjadi pijakan bagi pemerintah untuk mengejar pertumbuhan yang lebih tinggi pada 2027. Ketahanan ekonomi juga tercermin dari sejumlah indikator, antara lain Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang mencapai 116,8 pada Juli 2026. Pada periode yang sama, Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur berada di level 50,2, menandakan aktivitas industri masih berada dalam zona ekspansi sekaligus mencerminkan optimisme bisnis tertinggi dalam enam bulan terakhir.
Momentum tersebut turut terlihat di Jawa Tengah. Perekonomian provinsi ini tumbuh 5,80 persen pada semester I-2026 secara c-to-c. Sektor industri manufaktur atau pengolahan menjadi penyumbang terbesar terhadap perekonomian Jawa Tengah dengan kontribusi mencapai 33,18 persen.
Selain industri, investasi fisik yang tercermin dalam Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) juga memiliki peranan besar. Kontribusi PMTB terhadap perekonomian Jawa Tengah mencapai 31,52 persen, lebih tinggi dibandingkan kontribusi nasional sebesar 29,36 persen. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penguatan industri dan investasi menjadi dua faktor penting dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah.
“Karena itu, forum ini sangat tepat untuk mendorong kembali masalah investasi dan industri manufaktur. Kalau kita lihat beberapa komposisi pengembangan di Jawa Tengah, potensi investasi masih akan sangat besar,” ujar Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso dalam Central Java Investment Business Forum (CJIBF) 2026 di Jakarta, Kamis (27/8).
Investasi Jawa Tengah Terus Menguat
Kinerja investasi turut memperlihatkan besarnya daya tarik Jawa Tengah sebagai basis produksi dan industri. Hingga semester I-2026, realisasi investasi di provinsi tersebut mencapai Rp48,54 triliun, atau 48,99 persen dari target sepanjang 2026 sebesar Rp99,09 triliun.
Realisasi tersebut terdiri atas Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp25,92 triliun atau 53,40 persen dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp22,62 triliun atau 46,60 persen.
Dari sisi wilayah, lima daerah dengan realisasi investasi terbesar adalah Kota Semarang sebesar Rp6,57 triliun, Kabupaten Kendal Rp6,56 triliun, Kabupaten Batang Rp6,11 triliun, Kabupaten Temanggung Rp4,58 triliun, dan Kabupaten Demak Rp3,34 triliun.
Kinerja Kendal dan Batang menjadi perhatian karena kedua wilayah tersebut berkembang sebagai pusat kawasan industri yang memiliki keterkaitan kuat dengan sektor manufaktur dan rantai pasok.
KEK Kendal dan KIT Batang Jadi Magnet Investor
Salah satu kekuatan Jawa Tengah dalam menarik investasi adalah keberadaan kawasan industri yang menawarkan infrastruktur dan ekosistem usaha yang lebih terintegrasi. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kendal menjadi salah satu contoh kawasan yang berkembang sebagai tujuan investasi manufaktur, sementara Kawasan Industri Terpadu Batang (KIT Batang) juga terus menarik minat investor.
Menurut Susiwijono, minat investor terhadap kedua kawasan tersebut masih sangat besar. Tingginya tingkat pemanfaatan lahan bahkan mendorong adanya pembahasan mengenai perluasan dan pengembangan kawasan.
“Potensi investor yang masih akan datang ke dalam dua KEK itu luar biasa. Lahannya sudah 100 persen, sudah utilized semuanya. Kami mengajukan perluasan dan pengembangan, dan masih perlu proses, tetapi investornya sudah mengantri,” jelasnya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa investasi di Jawa Tengah tidak hanya bertumpu pada pembangunan kawasan baru, tetapi juga pada penguatan kawasan yang telah memiliki ekosistem industri dan basis investor.
KEK Kendal sendiri dikembangkan sebagai kawasan industri yang terintegrasi dengan fasilitas pendukung perdagangan dan investasi. Kawasan tersebut diarahkan untuk menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru di Jawa Tengah, khususnya melalui industri manufaktur berorientasi ekspor.
Sementara itu, KIT Batang merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk menyediakan kawasan industri yang memiliki infrastruktur siap pakai sekaligus mendukung masuknya investasi berskala besar. Lokasinya yang berada di jalur pantai utara Jawa juga memberikan keuntungan dari sisi konektivitas dengan berbagai pusat ekonomi dan jaringan logistik.
“Artinya sebenarnya potensi investasi Jawa Tengah itu besar sekali. Di Jawa Tengah ada dua KEK, dan keduanya betul-betul pertumbuhannya luar biasa, terutama dari sisi industri manufaktur,” kata Susiwijono.
Kepastian Perizinan Jadi Kunci
Meski potensi investasi besar, pemerintah mengakui masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu diselesaikan agar minat investor dapat dikonversi menjadi realisasi investasi. Salah satu aspek yang mendapat perhatian adalah kepastian perizinan, terutama perizinan dasar.
Susiwijono menilai pemerintah daerah memiliki posisi penting karena menjadi pihak yang berhadapan langsung dengan investor dalam proses operasional investasi. Karena itu, pelayanan investasi perlu memberikan kepastian, kecepatan, sekaligus jalur penyelesaian apabila investor menghadapi kendala.
Menurutnya, persoalan investasi di lapangan tidak selalu sesederhana persoalan perizinan. Setelah kebijakan dirancang dan investasi berjalan, investor dapat menghadapi berbagai persoalan operasional yang membutuhkan koordinasi lintas kewenangan.
Karena itu, pemerintah pusat mendorong tersedianya mekanisme konsultasi dan penyelesaian masalah yang memungkinkan pemerintah daerah maupun pelaku usaha menyampaikan persoalan kepada regulator terkait.
Pendekatan tersebut menjadi semakin penting seiring terbukanya akses pasar melalui berbagai perjanjian perdagangan internasional. Implementasi sejumlah kesepakatan perdagangan dengan negara mitra mulai tahun depan diperkirakan dapat meningkatkan arus perdagangan sekaligus menciptakan peluang masuknya investasi baru ke Indonesia.
Dengan demikian, keberadaan KEK Kendal dan KIT Batang tidak hanya penting sebagai lokasi kegiatan industri, tetapi juga sebagai bagian dari strategi membangun rantai nilai manufaktur yang lebih kuat di Jawa Tengah. Kawasan-kawasan tersebut diharapkan mampu menarik investasi, menciptakan lapangan kerja, memperkuat industri pemasok lokal, serta meningkatkan kapasitas ekspor.
Bagi Jawa Tengah, penguatan industri manufaktur yang ditopang investasi menjadi modal penting untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan kontribusi provinsi tersebut terhadap perekonomian nasional.
Turut hadir dalam CJIBF 2026 antara lain Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Jawa Tengah Sakina Rosellasari, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah Mohamad Noor Nugroho, serta Ketua Umum APINDO Shinta W. Kamdani.









