(Vibizmedia – Jakarta) Pemerintah Jepang akan membantu Indonesia memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan mengerahkan tiga helikopter. Bantuan tersebut dijadwalkan tiba di Indonesia pada 10 September 2026 dan akan mendukung upaya pemadaman di wilayah yang terdampak karhutla.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Berton SP Panjaitan, mengatakan pengerahan helikopter tersebut merupakan bagian dari kerja sama Indonesia dan Jepang dalam menghadapi ancaman karhutla.
“Terkait dengan kerja sama antara Indonesia dengan Jepang atas bantuan tiga helikopter akan segera datang. Kami mendapat informasinya tanggal 10 (September) baru akan tiba di sini,” ujar Berton dalam konferensi pers Update Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan di Indonesia, Senin (31/8/2026).
Menurut Berton, BNPB menyambut positif dukungan tersebut. Koordinasi awal dengan pihak terkait telah dilakukan dan akan terus diperkuat untuk memastikan kesiapan operasional ketiga helikopter setelah tiba di Indonesia.
Meski demikian, BNPB masih menunggu informasi teknis mengenai lokasi penempatan, pola operasi, serta durasi penggunaan helikopter. Pemerintah perlu memastikan bantuan tersebut dapat diarahkan ke wilayah yang paling membutuhkan berdasarkan perkembangan titik api dan kondisi lapangan.
“Sehingga data yang akuratnya nanti kita update. Untuk saat ini kami belum mendapatkan informasi lebih jelas,” kata Berton.
Penanganan Karhutla di Palangka Raya
Salah satu wilayah yang menjadi perhatian dalam penanganan karhutla adalah Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Kondisi geografis dan karakteristik lahan di wilayah Kalimantan membuat penanganan kebakaran, terutama pada lahan gambut, membutuhkan upaya pemadaman yang tidak hanya mengandalkan operasi udara, tetapi juga penanganan di tingkat tapak.
Palangka Raya juga memiliki pengalaman menghadapi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan. Karena itu, pengendalian titik api dilakukan melalui kombinasi pemantauan hotspot, patroli, pemadaman darat, operasi udara apabila diperlukan, serta upaya pembasahan lahan untuk mencegah api kembali muncul.
Perkembangan penanganan karhutla di Palangka Raya menjadi penting karena kebakaran di wilayah tersebut berpotensi menimbulkan asap yang mengganggu kualitas udara dan aktivitas masyarakat. Pemantauan kondisi udara dan titik panas juga diperlukan untuk menentukan langkah penanganan berikutnya.
Dalam konteks tersebut, tambahan dukungan berupa tiga helikopter dari Jepang dapat memperkuat kapasitas pemerintah dalam melakukan pemadaman dari udara, terutama apabila terjadi peningkatan titik api secara signifikan. Namun, efektivitas dukungan tersebut tetap akan bergantung pada hasil pemetaan kebutuhan dan penentuan lokasi operasi.
BNPB bersama pemerintah daerah dan kementerian/lembaga terkait juga terus melakukan koordinasi untuk memantau perkembangan karhutla di sejumlah daerah. Penanganan dilakukan dengan mengedepankan langkah cepat untuk mencegah titik api berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.
Bantuan Jepang diharapkan menjadi bagian dari penguatan kerja sama internasional dalam menghadapi karhutla. Selain dukungan peralatan, koordinasi antarlembaga dan penguatan kapasitas pemerintah daerah tetap menjadi faktor penting dalam memastikan kebakaran dapat dikendalikan secara efektif.
BNPB akan terus memperbarui informasi mengenai lokasi pengerahan serta mekanisme pengoperasian tiga helikopter tersebut setelah memperoleh kepastian dari pihak Jepang dan hasil koordinasi dengan instansi terkait.
Pemerintah juga mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan. Pencegahan sejak dini menjadi langkah penting untuk mengurangi potensi munculnya titik api, terutama ketika kondisi cuaca dan lahan semakin kering.









