Indeks Modal Manusia Indonesia Naik Jadi 0,562, Bappenas Jadikan Baseline Menuju Indonesia Emas 2045

0
89
Foto: Bappenas

(Vibizmedia – Jakarta) Indeks Modal Manusia (IMM) Indonesia pada 2025 tercatat sebesar 0,562, meningkat dibandingkan angka 0,540 pada 2020 yang sebelumnya dipublikasikan World Bank. Kenaikan tersebut menjadi indikasi adanya perbaikan kualitas modal manusia Indonesia sekaligus memberikan pijakan baru bagi pemerintah untuk memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM) dalam jangka panjang.

Kementerian PPN/Bappenas meluncurkan Angka IMM Tahun 2025 sekaligus Buku Pedoman Penghitungan IMM di Kantor Bappenas, Jakarta, Senin (31/8/2026). Pengukuran tersebut menjadi baseline baru yang akan digunakan pemerintah untuk memantau perkembangan kualitas modal manusia secara lebih terukur dan berbasis bukti.

Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy mengatakan pembangunan manusia harus ditempatkan sebagai investasi utama dalam pembangunan nasional. Manusia, menurutnya, bukan sekadar penerima manfaat pembangunan, melainkan menjadi faktor utama yang menentukan produktivitas dan daya saing suatu negara.

“Human Capital Index adalah perbaikan daripada Human Development Index. Inti dari perbedaan itu adalah yang dulu dianggap sebagai objek pembangunan, sekarang menjadi subjek pembangunan. Yang terpenting daripada suatu negara itu adalah orangnya, dan orangnya dicerminkan dari modal manusianya,” ujar Rachmat.

Ia menambahkan, pembangunan modal manusia perlu dilakukan sejak tahap paling awal kehidupan. Kesehatan ibu selama kehamilan, pemenuhan gizi, kesehatan anak, pendidikan, hingga pengembangan keterampilan merupakan rangkaian investasi yang saling berkaitan dan menentukan kualitas seseorang ketika memasuki usia produktif.

“Modal manusia dicerminkan dari kesehatannya, dan kesehatan itu ada sejak dalam kandungan. Jadi sejak dalam kandungan, manusia Indonesia harus sehat,” katanya.

Apa Itu Indeks Modal Manusia?

IMM merupakan indikator yang digunakan untuk menggambarkan seberapa besar potensi produktivitas yang dapat dicapai seseorang ketika dewasa berdasarkan kondisi kesehatan, pendidikan, dan kelangsungan hidup yang dialaminya sejak awal kehidupan.

Indeks ini merupakan adaptasi Indonesia terhadap Human Capital Index (HCI) yang dikembangkan World Bank. Karena disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan nasional, IMM memperhitungkan karakteristik data dan konteks Indonesia sehingga dapat digunakan tidak hanya untuk melihat kondisi nasional, tetapi juga membandingkan perkembangan modal manusia antarwilayah.

Skala IMM berada antara 0 dan 1. Semakin mendekati angka 1, semakin besar potensi modal manusia yang tercermin dalam indikator tersebut.

Dengan nilai 0,562, secara sederhana dapat diartikan bahwa anak yang lahir di Indonesia saat ini diperkirakan memiliki potensi untuk mencapai sekitar 56,2 persen dari produktivitas optimal yang seharusnya dapat dicapai apabila seluruh kondisi kesehatan, pendidikan, dan kelangsungan hidup berada pada tingkat optimal sebagaimana yang menjadi dasar pengukuran indeks.

Angka tersebut bukan berarti 56,2 persen penduduk Indonesia produktif atau hanya 56,2 persen masyarakat yang memiliki pendidikan dan kesehatan yang baik. IMM merupakan indeks komposit yang menggambarkan potensi produktivitas manusia di masa depan berdasarkan sejumlah indikator pembangunan manusia.

Berbeda dengan IPM

IMM memiliki tujuan yang berbeda dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). IPM lebih banyak digunakan untuk menggambarkan capaian pembangunan manusia pada kondisi saat ini melalui tiga dimensi utama, yakni kesehatan, pendidikan, dan standar hidup layak.

Sementara itu, IMM memiliki perspektif yang lebih kuat terhadap produktivitas manusia pada masa depan. Pendekatannya mengikuti siklus kehidupan, mulai dari kelangsungan hidup, perkembangan kesehatan dan pendidikan, hingga potensi produktivitas ketika seseorang memasuki usia kerja.

Dengan demikian, IMM dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan yang berbeda dari IPM: bukan hanya bagaimana kondisi manusia saat ini, tetapi seberapa besar investasi yang dilakukan saat ini dapat menghasilkan manusia yang sehat, terdidik, dan produktif pada masa mendatang.

Pendekatan tersebut menjadikan IMM relevan sebagai instrumen kebijakan jangka panjang karena kualitas modal manusia tidak terbentuk secara instan. Intervensi terhadap kesehatan, gizi, pendidikan, dan keterampilan pada masa kanak-kanak dapat menentukan produktivitas seseorang puluhan tahun kemudian.

IMM 2025 Menjadi Baseline Baru

Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kementerian PPN/Bappenas Pungkas Bahjuri Ali mengatakan nilai IMM 2025 menjadi titik awal baru dalam pengukuran modal manusia Indonesia.

“Angka IMM Tahun 2025 merupakan baseline awal pengukuran modal manusia di Indonesia. Pengukuran ini juga telah menghasilkan nilai IMM di tingkat provinsi dan kabupaten/kota sehingga dapat memberikan gambaran awal mengenai kondisi modal manusia dan variasinya antarwilayah,” ujarnya.

Jika dibandingkan dengan angka 2020 sebesar 0,540, nilai 2025 sebesar 0,562 menunjukkan kenaikan 0,022 poin. Peningkatan tersebut menjadi sinyal positif, tetapi sekaligus menunjukkan bahwa masih terdapat ruang yang cukup besar untuk meningkatkan kualitas modal manusia.

Pemerintah menargetkan IMM mencapai 0,590 pada akhir RPJMN 2025–2029. Artinya, peningkatan kualitas SDM masih menjadi pekerjaan besar selama periode pembangunan lima tahun tersebut.

Target tersebut tidak hanya berkaitan dengan peningkatan angka indeks secara nasional, tetapi juga bagaimana pemerintah memastikan perbaikan berlangsung secara merata di berbagai daerah.

Kesenjangan Antardaerah Masih Lebar

Salah satu manfaat pengukuran IMM 2025 adalah tersedianya gambaran modal manusia hingga tingkat daerah. Hasil pengukuran menunjukkan adanya perbedaan yang cukup besar antarprovinsi.

Daerah Istimewa Yogyakarta mencatat IMM tertinggi sebesar 0,705, sedangkan Papua Pegunungan berada pada posisi terendah dengan 0,366.

Rentang tersebut menunjukkan bahwa kualitas modal manusia Indonesia masih menghadapi persoalan kesenjangan wilayah. Karena itu, kebijakan pembangunan SDM tidak dapat hanya mengandalkan pendekatan seragam secara nasional.

Daerah dengan capaian rendah membutuhkan intervensi yang lebih spesifik, terutama dalam memperbaiki akses terhadap layanan kesehatan, pendidikan, gizi, dan berbagai layanan dasar lainnya.

Dengan tersedianya IMM hingga tingkat provinsi dan kabupaten/kota, pemerintah juga memiliki instrumen untuk mengidentifikasi wilayah yang membutuhkan perhatian lebih besar sekaligus mengevaluasi efektivitas kebijakan pembangunan manusia.

Mengapa Kesehatan dan Pendidikan Penting?

Modal manusia dibangun melalui proses yang panjang. Kesehatan menjadi fondasi awal karena kondisi kesehatan sejak kehamilan dan masa kanak-kanak dapat memengaruhi perkembangan fisik dan kognitif seseorang.

Karena itu, intervensi seperti kesehatan ibu dan anak, pemenuhan gizi, imunisasi, pencegahan stunting, serta layanan kesehatan dasar memiliki kaitan dengan pembentukan modal manusia.

Tahap berikutnya adalah pendidikan. Akses terhadap pendidikan yang berkualitas membantu meningkatkan kemampuan kognitif, pengetahuan, serta keterampilan yang pada akhirnya menentukan produktivitas seseorang ketika memasuki dunia kerja.

Investasi tersebut kemudian perlu dilanjutkan dengan peningkatan keterampilan, kualitas pekerjaan, dan produktivitas pada usia kerja. Dengan perspektif tersebut, pembangunan manusia tidak dapat dipisahkan antara kebijakan kesehatan, pendidikan, ketenagakerjaan, perlindungan sosial, dan pembangunan ekonomi.

IMM Masuk Perencanaan Pembangunan

Pemerintah menempatkan IMM sebagai salah satu indikator dalam mengukur pencapaian sasaran peningkatan daya saing SDM dalam RPJPN 2025–2045.

Indikator tersebut kemudian diterjemahkan dalam RPJMN 2025–2029 dan diintegrasikan ke dalam berbagai dokumen perencanaan pemerintah, termasuk rencana strategis kementerian/lembaga, Rencana Kerja Pemerintah (RKP), serta dokumen perencanaan pembangunan daerah.

Dengan demikian, IMM tidak hanya berfungsi sebagai alat ukur statistik. Indeks ini diharapkan menjadi instrumen untuk membantu pemerintah menentukan prioritas intervensi, mengalokasikan sumber daya, serta mengevaluasi apakah program pembangunan benar-benar menghasilkan perbaikan kualitas manusia.

Peluncuran Buku Pedoman Penghitungan IMM juga menjadi bagian penting dari proses tersebut. Pedoman ini diperlukan agar penghitungan IMM dapat dilakukan dengan metodologi yang seragam, konsisten, transparan, dan dapat dibandingkan antarperiode maupun antarwilayah.

Tantangan Menuju 2045

Peningkatan IMM dari 0,540 pada 2020 menjadi 0,562 pada 2025 memberikan modal awal bagi Indonesia untuk mengejar target yang lebih tinggi. Namun, tantangan pembangunan manusia masih cukup kompleks, terutama terkait kesenjangan antardaerah dan kualitas layanan dasar.

Pemerintah perlu memastikan bahwa investasi pada kesehatan dan pendidikan tidak berhenti pada peningkatan akses, tetapi juga menghasilkan peningkatan kualitas. Pada saat yang sama, penguatan keterampilan dan produktivitas tenaga kerja menjadi semakin penting menghadapi perubahan struktur ekonomi, perkembangan teknologi, dan kebutuhan industri.

Ke depan, kualitas data juga menjadi faktor penting. Bappenas akan terus menyempurnakan metodologi dan tata kelola IMM agar indikator tersebut semakin mampu menggambarkan kondisi modal manusia Indonesia secara akurat.

Menteri Rachmat Pambudy berharap IMM dapat digunakan secara luas sebagai instrumen untuk memastikan investasi pembangunan benar-benar memberikan dampak terhadap kualitas manusia.

“Saya berharap IMM dapat dimanfaatkan secara luas, serta memastikan setiap investasi pembangunan benar-benar berdampak pada peningkatan kualitas sumber daya manusia,” pungkasnya.

Kenaikan IMM menjadi 0,562 pada 2025 dengan target 0,590 pada 2029 pada akhirnya bukan sekadar persoalan mengejar angka indeks. Lebih jauh, capaian tersebut mencerminkan tantangan Indonesia untuk memastikan setiap anak yang lahir hari ini memiliki kesempatan memperoleh kesehatan, pendidikan, gizi, dan lingkungan yang memadai agar kelak tumbuh menjadi manusia yang produktif dan berdaya saing.

Inilah yang menjadi salah satu fondasi penting menuju Indonesia Emas 2045: membangun manusia bukan hanya sebagai penerima manfaat pembangunan, tetapi sebagai modal utama yang menentukan arah dan keberhasilan Indonesia dalam beberapa dekade mendatang.