Indonesia-Kanada Percepat Implementasi ICA-CEPA, Perkuat Akses Pasar dan Investasi

0
86
Foto: Kemenko Perekonomian

(Vibizmedia – Toronto, Kanada) Hubungan ekonomi Indonesia dan Kanada memasuki babak baru. Setelah melalui proses perundingan dan ratifikasi, kedua negara kini bersiap membawa Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA-CEPA) menuju tahap implementasi.

Momentum tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam pertemuan bilateral Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dengan Menteri Perdagangan Internasional Kanada The Honourable Maninder Sidhu di sela-sela rangkaian Canada Investment Summit di Toronto, Kanada, Senin (14/9).

Pertemuan kedua menteri berlangsung ketika hubungan perdagangan Indonesia dan Kanada menunjukkan tren pertumbuhan yang cukup konsisten. Sejak 2021, perdagangan bilateral kedua negara mencatat rata-rata pertumbuhan tahunan sebesar 9,13%.

Pada Semester I-2025, nilai perdagangan Indonesia-Kanada telah mencapai USD3,1 miliar. Angka tersebut meningkat 13% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Airlangga menyampaikan bahwa perkembangan perdagangan tersebut menjadi modal penting bagi kedua negara untuk memasuki fase baru melalui implementasi ICA-CEPA. Indonesia dan Kanada, kata dia, optimistis dapat menyelesaikan berbagai persiapan sehingga perjanjian tersebut dapat mulai diterapkan pada akhir tahun ini.

Membuka Akses Pasar yang Lebih Luas

ICA-CEPA memiliki arti strategis bagi hubungan ekonomi kedua negara. Perjanjian ini merupakan kemitraan ekonomi komprehensif pertama yang dimiliki Indonesia dengan negara di kawasan Amerika Utara.

Perjanjian tersebut telah ditandatangani oleh Menteri Perdagangan dan disaksikan oleh kepala negara kedua negara pada September 2025.

Dengan berlakunya ICA-CEPA, hubungan Indonesia dan Kanada diharapkan tidak lagi terbatas pada peningkatan volume perdagangan, tetapi berkembang menjadi kerja sama ekonomi yang lebih luas, termasuk investasi, rantai pasok, industri, dan pengembangan sektor-sektor strategis.

Salah satu manfaat utama yang diharapkan berasal dari pembukaan akses pasar melalui penurunan tarif.

Kanada akan menghapus atau menurunkan tarif untuk lebih dari 90% pos tarif produk Indonesia. Sebaliknya, Indonesia akan melakukan pengurangan atau penghapusan tarif terhadap hampir 86% pos tarif produk Kanada.

Pembukaan akses tersebut memberikan peluang bagi produk Indonesia untuk memperluas penetrasi di pasar Kanada. Dalam jangka menengah, ekspor Indonesia ke Kanada diproyeksikan dapat mencapai USD11,8 miliar pada 2030 apabila implementasi perjanjian berjalan secara penuh.

Potensi tersebut sekaligus membuka ruang bagi dunia usaha untuk memperkuat diversifikasi pasar ekspor Indonesia, khususnya di luar pasar tradisional.

Peluang di Sektor Strategis

Implementasi ICA-CEPA juga berpotensi memperluas kerja sama di sejumlah bidang yang memiliki nilai strategis bagi kedua negara.

Sektor hilirisasi mineral kritis menjadi salah satu area yang dapat dikembangkan. Indonesia memiliki sumber daya mineral yang dibutuhkan dalam pengembangan berbagai industri masa depan, sementara Kanada memiliki pengalaman, teknologi, modal, dan kapasitas industri yang dapat mendukung pengembangan rantai nilai.

Kerja sama juga dapat diarahkan pada energi bersih, mengingat transisi energi global mendorong kebutuhan terhadap teknologi, investasi, dan rantai pasok energi rendah karbon.

Selain itu, agripangan dan perikanan berkelanjutan, pembangunan infrastruktur, jasa keuangan, serta ekonomi digital menjadi bidang lain yang memiliki peluang untuk dikembangkan melalui kemitraan kedua negara.

Dengan demikian, ICA-CEPA tidak hanya dipandang sebagai instrumen untuk meningkatkan ekspor-impor, tetapi juga sebagai kerangka untuk memperluas keterhubungan ekonomi dan investasi.

Strategis bagi Hubungan Kanada dengan ASEAN

Bagi Indonesia, arti penting ICA-CEPA juga berkaitan dengan posisi negara sebagai ekonomi terbesar di ASEAN.

Indonesia memiliki peran strategis dalam membangun keterhubungan Kanada dengan kawasan Indo-Pasifik. Penguatan hubungan ekonomi Indonesia-Kanada dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk memperluas jejaring perdagangan dan investasi Kanada di Asia Tenggara.

Karena itu, efektivitas implementasi perjanjian menjadi perhatian penting bagi kedua negara. Semakin cepat berbagai ketentuan dapat diterapkan secara efektif, semakin cepat pula dunia usaha memperoleh kepastian dan dapat memanfaatkan peluang yang tersedia.

Implementasi juga akan menentukan apakah potensi yang tercantum dalam perjanjian dapat diterjemahkan menjadi transaksi perdagangan, investasi, penciptaan lapangan kerja, serta penguatan rantai pasok secara nyata.

Tantangan Implementasi

Dalam pertemuan tersebut, kedua menteri juga membahas berbagai tantangan yang perlu diselesaikan agar ICA-CEPA dapat memberikan manfaat secara optimal.

Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah penyesuaian terhadap persyaratan standardisasi. Pelaku usaha membutuhkan pemahaman yang jelas mengenai standar produk dan ketentuan teknis yang berlaku di masing-masing negara agar hambatan non-tarif dapat diminimalkan.

Aspek keberlanjutan dan ketenagakerjaan juga menjadi bagian penting dalam implementasi perjanjian. Perubahan standar perdagangan global membuat isu lingkungan, praktik produksi berkelanjutan, dan kondisi ketenagakerjaan semakin terkait dengan akses pasar.

Di sisi lain, kemampuan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memanfaatkan peluang pasar juga perlu diperkuat.

Pembukaan akses pasar tidak secara otomatis membuat seluruh pelaku usaha mampu melakukan ekspor. UMKM membutuhkan dukungan dalam hal standardisasi, sertifikasi, kapasitas produksi, pembiayaan, informasi pasar, hingga kemampuan memenuhi permintaan pembeli internasional.

Karena itu, penguatan kapasitas UMKM menjadi salah satu faktor penting agar manfaat ICA-CEPA tidak hanya dinikmati oleh perusahaan besar.

Logistik dan Fasilitasi Perdagangan

Aspek lain yang tidak kalah penting adalah infrastruktur logistik dan fasilitasi perdagangan.

Penurunan tarif akan memberikan manfaat lebih besar apabila biaya logistik, waktu pengiriman, prosedur kepabeanan, dan proses administrasi dapat dikelola secara efisien.

Indonesia perlu memastikan konektivitas perdagangan dengan Kanada mampu mendukung peningkatan volume ekspor. Di saat yang sama, penyederhanaan prosedur dan peningkatan kepastian layanan perdagangan dapat membantu produk Indonesia tetap kompetitif di pasar internasional.

Dengan kata lain, keberhasilan ICA-CEPA tidak hanya ditentukan oleh isi perjanjian, tetapi juga oleh kemampuan pemerintah dan dunia usaha menerjemahkan kesepakatan tersebut ke dalam proses perdagangan sehari-hari.

Fokus pada Implementasi Konkret

Untuk tahap selanjutnya, Indonesia dan Kanada sepakat memperkuat kerja sama yang bersifat konkret. Salah satu agenda yang akan didorong adalah percepatan dialog mengenai mineral kritis serta kerja sama teknis di bidang ekonomi.

Kerja sama tersebut dapat menjadi bagian dari upaya membangun hubungan ekonomi yang lebih berorientasi pada rantai nilai dan investasi jangka panjang.

Airlangga menegaskan bahwa kedua negara memiliki komitmen untuk memastikan ICA-CEPA tidak berhenti sebagai dokumen kesepakatan, tetapi benar-benar memberikan manfaat bagi pelaku usaha.

“Pertemuan hari ini menegaskan komitmen bersama Indonesia dan Kanada untuk memastikan ICA-CEPA benar-benar memberikan manfaat nyata bagi pelaku usaha di kedua negara,” ujar Airlangga.

Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan tantangan tahap berikutnya. Setelah kesepakatan tercapai, pekerjaan penting justru berada pada tahap pelaksanaan—memastikan aturan dipahami, prosedur berjalan, pelaku usaha siap, serta peluang pasar dapat dimanfaatkan.

Bagi Indonesia, ICA-CEPA dapat menjadi instrumen untuk memperluas diversifikasi pasar ekspor sekaligus memperkuat posisi dalam rantai pasok global. Bagi Kanada, hubungan dengan Indonesia menawarkan akses yang lebih kuat ke salah satu pusat pertumbuhan ekonomi di Asia Tenggara.

Jika berbagai tantangan implementasi dapat diatasi, kerja sama kedua negara berpotensi berkembang dari hubungan perdagangan menuju kemitraan ekonomi yang lebih luas, mencakup investasi, teknologi, mineral kritis, energi bersih, pangan, jasa, dan ekonomi digital.

Dalam konteks perdagangan global yang terus berubah, implementasi ICA-CEPA pada akhirnya akan menjadi ujian penting untuk menerjemahkan komitmen bilateral menjadi manfaat ekonomi yang dapat dirasakan secara lebih luas.

Pertemuan tersebut turut dihadiri Duta Besar Indonesia untuk Kanada Muhsin Syihab, Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso, Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi dan Investasi Edi Pambudi, serta Konsul Jenderal Indonesia di Toronto Vevie Damayanti.