Indonesia-India Bangun Kemitraan Telekomunikasi, Bidik 6G hingga Teknologi Kuantum

0
77
Foto: Kemkomdigi

(Vibizmedia – Jakarta) Indonesia dan India memperluas kemitraan di sektor teknologi dan telekomunikasi. Kedua negara menyepakati Memorandum of Understanding (MoU) atau Memorandum Saling Pengertian (MSP) yang menjadi pijakan untuk memperkuat pengembangan teknologi telekomunikasi, riset, sumber daya manusia, serta ekosistem digital di kedua negara.

Kesepakatan tersebut tidak hanya berorientasi pada penguatan jaringan dan layanan telekomunikasi yang telah digunakan saat ini. Kerja sama juga diarahkan untuk mempersiapkan penguasaan teknologi generasi mendatang, mulai dari pengembangan 4G dan 5G, penjajakan 6G, hingga teknologi kuantum dan komunikasi nirkabel mutakhir.

Menteri Komunikasi dan Digital RI Meutya Hafid bersama Menteri Komunikasi India Jyotiraditya M. Scindia menyepakati kerja sama tersebut sebagai bagian dari upaya membangun hubungan teknologi yang saling menguntungkan.

Menurut Meutya, transformasi digital Indonesia perlu diarahkan tidak hanya untuk memperluas penggunaan teknologi, tetapi juga meningkatkan kemampuan nasional dalam menguasai, mengembangkan, dan menciptakan teknologi masa depan.

“Indonesia ingin memastikan transformasi digital membuat masyarakat Indonesia semakin mampu menguasai, mengembangkan dan menciptakan teknologi masa depan. Kerja sama dengan India menjadi salah satu ruang strategis untuk memperkuat kapasitas tersebut,” ujar Meutya di Jakarta, Selasa (15/9/2026).

Dari 4G dan 5G Menuju 6G

Salah satu aspek penting dalam kesepakatan Indonesia-India adalah orientasi terhadap teknologi telekomunikasi generasi berikutnya.

Kedua negara membuka ruang untuk pengembangan dan riset bersama pada teknologi 4G dan 5G sekaligus menjajaki teknologi 6G, teknologi kuantum, serta berbagai inovasi komunikasi nirkabel mutakhir.

Bagi Indonesia, langkah tersebut penting karena perkembangan telekomunikasi berlangsung semakin cepat. Teknologi yang saat ini menjadi standar utama secara bertahap akan berkembang menuju sistem konektivitas yang lebih cepat, berkapasitas besar, rendah latensi, dan mampu menopang kebutuhan teknologi masa depan.

“Kita berbicara tentang 4G dan 5G, tetapi juga teknologi yang akan menentukan konektivitas dan daya saing digital pada masa mendatang. Karena itu, riset, pengembangan sumber daya manusia, dan kolaborasi industri harus kita siapkan sejak sekarang,” kata Meutya.

Dengan pendekatan tersebut, kerja sama Indonesia dan India diarahkan bukan sekadar menjadi hubungan pengguna teknologi dan penyedia teknologi. Ruang kolaborasi dibangun agar talenta, peneliti, akademisi, dan industri kedua negara dapat terlibat dalam proses pengembangan teknologi.

Konektivitas sebagai Infrastruktur Ketahanan

Kerja sama bilateral tersebut juga memiliki dimensi yang lebih luas, yakni memperkuat ketahanan komunikasi ketika terjadi bencana.

Indonesia dan India akan mengeksplorasi pengembangan sistem komunikasi darurat dan solusi pengurangan risiko bencana untuk menjaga keberlangsungan layanan telekomunikasi ketika terjadi krisis atau bencana alam.

Bagi Indonesia yang memiliki karakter geografis kepulauan dan menghadapi berbagai risiko bencana alam, keberlangsungan jaringan komunikasi memiliki arti strategis. Dalam kondisi darurat, jaringan telekomunikasi dibutuhkan untuk menyampaikan informasi, mengoordinasikan pemerintah dan petugas penyelamat, serta membantu masyarakat memperoleh layanan darurat.

“Bagi Indonesia, konektivitas juga menyangkut ketahanan. Ketika bencana terjadi, jaringan komunikasi harus tetap menjadi penghubung masyarakat, pemerintah, dan layanan darurat,” ujar Meutya.

Karena itu, pengembangan teknologi telekomunikasi tidak hanya dilihat dari kecepatan dan kapasitas jaringan. Ketahanan infrastruktur ketika menghadapi gangguan juga menjadi bagian penting dari pembangunan ekosistem digital.

Memperkuat Talenta dan Riset

Implementasi kerja sama akan dilakukan melalui sejumlah program pengembangan kapasitas sumber daya manusia. Pelatihan, upskilling, dan reskilling menjadi bagian dari agenda untuk meningkatkan kemampuan tenaga kerja dalam menghadapi perubahan teknologi.

Kedua negara juga membuka peluang penelitian dan pengembangan bersama yang melibatkan akademisi serta industri. Pola ini memungkinkan hasil riset tidak berhenti di lingkungan akademik, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk, layanan, maupun solusi teknologi yang dapat digunakan masyarakat.

Kerja sama juga membuka peluang penguatan kemitraan pemerintah dan swasta melalui skema public-private partnership (PPP).

Di tingkat industri, perusahaan teknologi dan telekomunikasi Indonesia dan India dapat membangun hubungan business-to-business (B2B). Model tersebut memungkinkan kedua pihak mengembangkan proyek bersama sekaligus memanfaatkan kapasitas dan keunggulan masing-masing.

Dengan demikian, ekosistem kerja sama tidak hanya bertumpu pada pemerintah. Akademisi, lembaga riset, perusahaan teknologi, operator telekomunikasi, perusahaan rintisan, dan pelaku industri lainnya dapat menjadi bagian dari rantai kolaborasi.

Indonesian-Indian Telco Dialogue Menjadi Forum Tahunan

Untuk memastikan kesepakatan tidak berhenti pada penandatanganan dokumen, Indonesia dan India akan membentuk Indonesian-Indian Telco Dialogue sebagai forum dialog tahunan.

Forum tersebut akan menjadi mekanisme untuk menjaga kesinambungan kerja sama sekaligus melakukan evaluasi terhadap program yang telah dijalankan.

Indonesian-Indian Telco Dialogue akan dipimpin pejabat tingkat tinggi dari kedua negara dan diselenggarakan secara bergantian di Indonesia dan India. Agenda utamanya mencakup evaluasi perkembangan program, pembahasan berbagai tantangan, serta penyusunan rencana kerja berikutnya.

Keberadaan forum tahunan ini memiliki arti penting karena perkembangan teknologi telekomunikasi berlangsung sangat dinamis. Program yang disepakati hari ini dapat membutuhkan penyesuaian seiring munculnya teknologi, model bisnis, standar, maupun kebutuhan baru.

Dengan adanya forum reguler, kedua negara memiliki ruang kelembagaan untuk memantau implementasi MoU, membicarakan hambatan, serta menentukan prioritas kerja sama berikutnya.

Forum tersebut juga dapat menjadi titik temu bagi pemerintah, industri, akademisi, dan lembaga penelitian untuk mengidentifikasi peluang kolaborasi yang lebih konkret.

Kerja Sama Lima Tahun

MoU Indonesia dan India berlaku selama lima tahun sejak tanggal penandatanganan dan dapat diperpanjang berdasarkan kesepakatan tertulis kedua pihak.

Jangka waktu tersebut memberikan ruang bagi kedua negara untuk membangun kerja sama secara bertahap. Pengembangan teknologi seperti 6G maupun teknologi kuantum, misalnya, membutuhkan investasi riset, pengembangan talenta, pengujian, serta kolaborasi industri yang tidak dapat diselesaikan dalam waktu singkat.

Karena itu, keberadaan forum tahunan dapat berfungsi sebagai instrumen untuk menjaga agar kerja sama tetap memiliki arah dan menghasilkan program yang dapat dievaluasi.

India sebagai Mitra Pengembangan Teknologi

Bagi Indonesia, hubungan dengan India membuka peluang untuk memperluas jaringan kerja sama teknologi di luar pola perdagangan dan investasi konvensional.

India memiliki ekosistem teknologi dan sumber daya manusia digital yang besar, sementara Indonesia memiliki pasar digital domestik yang luas serta kebutuhan pengembangan infrastruktur dan talenta teknologi yang terus meningkat.

Pertemuan kedua kekuatan digital tersebut dapat membuka ruang bagi kerja sama dalam riset, pengembangan aplikasi, infrastruktur telekomunikasi, keamanan komunikasi, hingga teknologi generasi berikutnya.

Namun, manfaat kerja sama akan sangat bergantung pada implementasi konkret. Transfer pengetahuan, pengembangan kemampuan talenta lokal, proyek bersama, serta keterlibatan industri nasional menjadi elemen penting agar kemitraan memberikan nilai tambah bagi Indonesia.

Dari Pengguna Menjadi Pengembang Teknologi

Arah kerja sama Indonesia-India tersebut memperlihatkan perubahan orientasi dalam pembangunan ekonomi digital. Transformasi digital tidak cukup hanya diukur dari jumlah pengguna internet, penetrasi perangkat, atau luas cakupan jaringan.

Kemampuan menciptakan teknologi, mengembangkan standar, menghasilkan inovasi, serta memiliki sumber daya manusia yang mampu menguasai teknologi menjadi bagian yang semakin penting.

Karena itu, penjajakan 6G dan teknologi kuantum memiliki arti strategis. Meski teknologi tersebut masih berada pada tahap pengembangan, persiapan sejak dini dapat membantu Indonesia memahami arah perubahan teknologi dan menyiapkan talenta serta ekosistem industri yang dibutuhkan.

Pada saat yang sama, pengembangan komunikasi darurat menunjukkan bahwa teknologi harus memberikan manfaat yang konkret bagi masyarakat, termasuk ketika menghadapi situasi krisis.

Menjadikan Transformasi Digital Lebih Inklusif

Pada akhirnya, kemitraan Indonesia dan India diarahkan agar perkembangan teknologi tidak hanya menghasilkan jaringan dan perangkat yang semakin canggih, tetapi juga memperluas manfaat ekonomi dan sosial.

Talenta Indonesia diharapkan memperoleh lebih banyak kesempatan untuk belajar dan berkolaborasi. Peneliti mendapatkan ruang untuk mengembangkan riset bersama. Industri dapat membuka proyek dan pasar baru. Sementara masyarakat memperoleh manfaat melalui konektivitas yang lebih kuat dan layanan digital yang semakin berkembang.

“Kemitraan Indonesia dan India harus memberikan manfaat yang konkret bagi masyarakat. Kita ingin kerja sama ini membuka lebih banyak ruang bagi talenta, peneliti, dan industri Indonesia untuk terlibat dalam pengembangan teknologi, sehingga manfaat transformasi digital dapat semakin kuat dirasakan masyarakat dan perekonomian nasional,” tutur Meutya.

Melalui MoU yang ditopang Indonesian-Indian Telco Dialogue, kerja sama Indonesia dan India memiliki kerangka untuk bergerak dari pertukaran kebijakan menuju kolaborasi teknologi yang lebih terstruktur.

Dari penguatan 4G dan 5G, penjajakan 6G, teknologi kuantum, pengembangan talenta, riset bersama hingga komunikasi darurat, kemitraan ini mencakup berbagai lapisan ekosistem telekomunikasi.

Tantangan berikutnya adalah memastikan seluruh agenda tersebut diterjemahkan menjadi program yang terukur dan memberikan manfaat nyata. Dengan demikian, kerja sama teknologi Indonesia-India tidak berhenti pada dokumen kesepahaman, tetapi berkembang menjadi kemitraan jangka panjang dalam membangun kapasitas digital kedua negara.