Menkeu: Pelemahan Ekonomi Global Berlanjut, Pemerintah Luncurkan Stimulus Ekonomi Tahap Kedua

0
186
Menteri Keuangan Sri Mulyani (Foto: Kemenkeu)

(Vibizmedia – Jakarta) Menjelang berakhirnya Triwulan II-2025, sejumlah indikator global menunjukkan pelemahan aktivitas manufaktur dunia. Hal ini disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta, Kamis (4/7).

Menurut Menkeu, indeks PMI global menunjukkan tren kontraksi, sementara harga komoditas mengalami fluktuasi dengan kecenderungan melemah. Konflik geopolitik, khususnya eskalasi antara Iran dan Israel yang didukung Amerika Serikat, turut mendorong lonjakan harga minyak global hingga 8% sebelum kembali stabil.

Selain itu, volume perdagangan dan investasi global diperkirakan tumbuh sangat tipis, bahkan mendekati stagnasi. Lembaga internasional seperti IMF dan Bank Dunia pun telah menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global untuk tahun 2025.

“Situasi global tidak menunjukkan perbaikan. IMF dan Bank Dunia semuanya menurunkan proyeksi pertumbuhan untuk tahun ini,” ujar Sri Mulyani.

Ekonomi Domestik Masih Resilien, Namun Dampak Global Mulai Terasa

Meski situasi global memburuk, ekonomi Indonesia dinilai masih cukup tangguh. Inflasi inti tetap terkendali di angka 1,9%, dan neraca perdagangan mengalami surplus pada Mei 2025. Ekspor juga relatif stabil meskipun sempat terdampak oleh pengumuman tarif sepihak oleh Presiden Trump dalam kebijakan “Tariff Liberation Day” pada April.

Namun, dampak tekanan global mulai terasa pada sektor domestik. Aktivitas manufaktur nasional memasuki zona kontraksi, penjualan semen yang sempat meningkat di April mengalami penurunan pada Mei, begitu pula dengan penjualan mobil. Volatilitas di sektor keuangan meningkat, seiring kebijakan dagang AS dan konflik yang kian memanas di Timur Tengah.

“Ini mulai menunjukkan bahwa tekanan global mulai memengaruhi komponen pertumbuhan ekonomi Indonesia,” lanjutnya.

Stimulus Ekonomi Tahap Kedua Diluncurkan

Sebagai respons atas kondisi tersebut, pemerintah meluncurkan paket stimulus ekonomi tahap kedua pada Triwulan II-2025, yang diarahkan untuk menjaga daya beli dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Beberapa kebijakan utama dalam paket ini meliputi:

  • Diskon transportasi selama libur sekolah Juni–Juli 2025, mencakup kereta api, pesawat, dan angkutan laut, dengan anggaran Rp940 miliar.
  • Diskon tarif tol, juga selama liburan sekolah, dengan pendanaan non-APBN sebesar Rp650 miliar.
  • Penebalan bantuan sosial, berupa tambahan Kartu Sembako sebesar Rp200 ribu/bulan selama dua bulan dan bantuan beras pangan 10 kg/bulan, dengan total anggaran Rp11,93 triliun.
  • Subsidi upah Rp300 ribu untuk 17,3 juta pekerja dengan gaji di bawah Rp3,5 juta, termasuk 288 ribu guru Kemendikdasmen dan 277 ribu guru Kemenag, dianggarkan Rp10,72 triliun.
  • Diskon iuran jaminan kecelakaan kerja untuk pekerja di sektor padat karya, sebesar Rp200 miliar (non-APBN).

“Melalui stimulus ini, kita berharap dapat mengimbangi tekanan global terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. IMF dan Bank Dunia memperkirakan dampak kebijakan tarif Presiden Trump dapat menurunkan proyeksi pertumbuhan Indonesia ke 4,7%,” tutup Menkeu.