Minyak Naik, Pasar Global Tertekan Akibat Ketegangan Timur Tengah

0
56
harga minyak

(Vibizmedia – Kolom) Harga minyak dilaporkan meningkat sementara kontrak berjangka Amerika Serikat melemah setelah muncul sinyal yang saling bertentangan dari AS dan Iran menjelang tenggat gencatan senjata pekan ini, di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Dalam perkembangan yang sama, imbal hasil obligasi disebut mengalami kenaikan, sedangkan harga emas dilaporkan justru menurun.

Presiden Donald Trump pada hari Minggu menyatakan bahwa Amerika Serikat telah menyita sebuah kapal berbendera Iran di Teluk Oman yang berupaya melewati blokade yang diberlakukan AS. Meski demikian, Wakil Presiden JD Vance dilaporkan tetap akan melakukan perjalanan ke Pakistan untuk mengikuti putaran baru pembicaraan dengan Iran pada pekan ini, walaupun pihak Iran belum memberikan konfirmasi mengenai kehadiran mereka dalam pertemuan tersebut. Dalam unggahan di media sosial pada hari yang sama, Trump juga memperingatkan bahwa Amerika Serikat akan menghancurkan seluruh pembangkit listrik dan jembatan di Iran apabila Teheran tidak mencapai kesepakatan.

Di pasar keuangan, kontrak berjangka AS dilaporkan bergerak lebih rendah seiring meningkatnya ketegangan geopolitik tersebut, setelah sebelumnya ditutup menguat pada pekan lalu. Kontrak berjangka indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite disebut masing-masing turun sebesar 0,5% setelah keduanya mencatat rekor penutupan baru pada hari Jumat. Sementara itu, kontrak berjangka Dow Jones Industrial Average dilaporkan turun sebesar 0,6% setelah indeks tersebut mencatat kenaikan persentase mingguan terbesar sejak Juni. Para investor disebut akan mencermati pekan yang kembali padat dengan laporan kinerja perusahaan, serta data penjualan ritel bulan Maret yang dijadwalkan rilis pada hari Selasa, guna menilai sejauh mana kenaikan harga minyak akibat konflik Timur Tengah memengaruhi belanja konsumen.

Di kawasan Asia, pasar saham dilaporkan secara umum bergerak menguat pada hari Senin, seiring kenaikan harga minyak di tengah kembali meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Indeks Nikkei di Jepang disebut ditutup naik 0,6%, didorong oleh penguatan saham sektor teknologi dan mesin. Indeks Kospi di Korea Selatan dilaporkan naik 0,4%, sementara indeks Shanghai Composite di China bertambah sebesar 0,8%.

Sementara itu, pasar Eropa dilaporkan dibuka melemah setelah sebelumnya ditutup menguat pada pekan lalu, dengan tekanan berasal dari meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran menjelang pembicaraan yang diperkirakan berlangsung di Pakistan. Indeks FTSE 100 di London disebut turun sebesar 0,4%, meskipun saham perusahaan energi justru mengalami kenaikan seiring lonjakan harga minyak, di mana saham BP dilaporkan naik 2,5% dan Shell meningkat sekitar 2,35%. Di sisi lain, indeks DAX Jerman dilaporkan turun 1,1%, indeks Stoxx Europe 600 melemah 0,9%, dan indeks CAC 40 Prancis turun sebesar 1%.

Brent Last Day Financial

harga minyak
Sumber : Google Finance

Kenaikan harga minyak yang dipicu oleh penutupan Selat Hormuz selama akhir pekan disebut telah mendorong imbal hasil obligasi pemerintah Inggris lebih tinggi, sekaligus memicu kembali kekhawatiran terhadap inflasi. Gangguan terhadap pasokan minyak dinilai meningkatkan risiko inflasi berbasis energi serta potensi kenaikan suku bunga oleh bank-bank sentral utama dalam beberapa bulan ke depan. Imbal hasil obligasi pemerintah Inggris tenor 10 tahun dilaporkan naik sebesar 6,2 basis poin menjadi 4,813%, berdasarkan data Tradeweb.

Di kawasan zona euro, imbal hasil obligasi pemerintah juga dilaporkan meningkat, sejalan dengan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS, di tengah ketidakpastian baru terkait situasi di Selat Hormuz. Francesco Maria Di Bella dari Investment Institute UniCredit menyatakan bahwa pasar Eropa memasuki pekan baru dalam kondisi rapuh karena kembali meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran, yang menyebabkan kapal-kapal tidak dapat melintasi selat tersebut selama akhir pekan. Imbal hasil obligasi Bund Jerman tenor 10 tahun dilaporkan naik 3,5 basis poin menjadi 2,994%. Sementara itu, imbal hasil obligasi 10 tahun negara-negara zona euro lainnya, termasuk Italia dan Prancis, disebut meningkat hampir lima basis poin.

Di pasar kripto, Bitcoin dilaporkan naik tipis setelah sebelumnya mengalami penurunan, meskipun ketidakpastian terkait konflik Iran masih tetap tinggi בעקבות perkembangan selama akhir pekan. Iran pada hari Sabtu menyatakan bahwa pihaknya membatalkan pembukaan kembali Selat Hormuz dan jalur tersebut akan tetap ditutup selama blokade AS terhadap pelabuhan Iran masih diberlakukan. Analis ING, Chris Turner, menyebut bahwa sentimen pasar mencerminkan kekhawatiran, namun juga adanya harapan terhadap kemajuan menuju penyelesaian konflik. Harga Bitcoin dilaporkan naik 0,1% menjadi 74.759 dolar AS, berdasarkan data LSEG.

Harga minyak dilaporkan melonjak lebih dari 5% karena pengiriman melalui Selat Hormuz masih terbatas, serta setelah tindakan penyitaan kapal berbendera Iran oleh AS selama akhir pekan yang dinilai melemahkan kepercayaan terhadap kemajuan diplomatik. Pada perdagangan awal Eropa, minyak Brent untuk pengiriman Juni disebut naik 5,5% menjadi 95,34 dolar AS per barel, sementara kontrak minyak WTI untuk Mei meningkat 6,1% menjadi 89 dolar AS per barel. Kedua acuan tersebut sebelumnya sempat anjlok pada hari Jumat setelah Iran menyatakan bahwa jalur selat dibuka untuk lalu lintas komersial. Analis ING menyebut bahwa harga minyak kembali bergejolak akibat perkembangan di Timur Tengah, di mana situasi yang sempat terlihat mereda dengan cepat berubah kembali menjadi eskalasi.

Sementara itu, harga emas dilaporkan turun setelah kabar penutupan kembali Selat Hormuz mendorong kenaikan harga minyak dan gas, yang kembali memicu kekhawatiran terhadap inflasi. Pada perdagangan awal di Eropa, kontrak berjangka emas di New York disebut turun 1,3% menjadi 4.815,30 dolar AS per troy ounce. Indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama, dilaporkan naik sebesar 0,1% menjadi 98,24. Di sisi lain, kontrak berjangka perak disebut turun 2,4% menjadi 79,90 dolar AS per ounce, sementara harga platinum melemah 2,3% menjadi 2.092 dolar AS per ounce.

Kenaikan harga minyak global akibat ketegangan di Timur Tengah berpotensi memberi tekanan langsung pada perekonomian Indonesia, terutama melalui jalur impor energi. Sebagai negara yang masih bergantung pada impor minyak, lonjakan harga akan meningkatkan biaya subsidi energi dan memperlebar defisit neraca perdagangan migas. Dampak lanjutannya bisa terlihat pada pelemahan nilai tukar rupiah karena permintaan dolar AS meningkat untuk membayar impor minyak. Selain itu, kenaikan harga energi berisiko mendorong inflasi domestik, terutama melalui kenaikan harga bahan bakar, transportasi, dan logistik, yang pada akhirnya dapat menekan daya beli masyarakat.

Ketidakpastian global juga dapat memicu arus keluar modal dari pasar keuangan Indonesia karena investor cenderung beralih ke aset aman seperti dolar AS dan obligasi negara maju. Hal ini dapat menekan pasar saham dan obligasi domestik serta meningkatkan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN). Namun, ada potensi sisi positif terbatas bagi Indonesia sebagai eksportir komoditas tertentu seperti batu bara dan minyak sawit, yang biasanya mendapat dorongan harga ketika energi global naik. Meski demikian, secara keseluruhan, risiko terhadap stabilitas makroekonomi tetap lebih dominan, terutama jika konflik berlangsung lama dan mengganggu rantai pasok energi global.