Serangkaian Pengeboman Berdampak Pada Ekonomi Kolombia

0
44
Kolombia

(Vibizmedia-Kolom) Serangkaian pengeboman yang diduga dilakukan oleh kelompok perdagangan narkoba di Kolombia selatan dilaporkan menewaskan sedikitnya 20 orang, menurut otoritas pada hari Minggu. Peristiwa tersebut disebut sebagai gelombang serangan paling mematikan terhadap warga sipil dalam beberapa tahun terakhir sekaligus meningkatkan kekhawatiran keamanan menjelang pemilihan presiden yang akan berlangsung sekitar sebulan lagi.

Pejabat militer dan keamanan negara menyatakan bahwa sekitar 26 serangan terjadi di komunitas pedesaan sepanjang akhir pekan, termasuk pengeboman sebuah bus di jalan raya pada hari Sabtu yang menyebabkan korban jiwa serta puluhan orang lainnya mengalami luka-luka. Video yang diunggah di media sosial oleh Octavio Guzmán memperlihatkan kendaraan-kendaraan terbalik dan hancur akibat ledakan di wilayah Departemen Cauca, yang menjadi pusat dari sebagian besar kekerasan tersebut.

Guzmán menyampaikan bahwa aksi terorisme di Cauca bertujuan menimbulkan ketakutan dan kepanikan untuk menggoyahkan stabilitas. Ia juga menjelaskan bahwa kelompok bersenjata memasang blokade di jalur utama Pan-Amerika sebelum meledakkan bahan peledak di berbagai titik, yang mengakibatkan korban secara acak. Menurutnya, pelaku serangan tersebut merupakan musuh masyarakat.

Para pemimpin militer senior mengutuk insiden tersebut dan menilai bahwa serangan itu dilakukan oleh salah satu tokoh buronan paling dicari di negara itu yang dikenal dengan alias Iván Mordisco. Sosok tersebut, yang merupakan mantan komandan gerilya dan menolak perjanjian damai Kolombia tahun 2016 dengan kelompok pemberontak Marxis, dilaporkan masih aktif bersama organisasinya. Aparat kepolisian menyebut kelompok ini memperoleh pendanaan dari praktik pemerasan, penambangan ilegal, serta peningkatan produksi koka sebagai bahan baku kokain.

Serangan-serangan tersebut terjadi di wilayah barat daya Kolombia, yang selama ini dikenal sebagai area strategis dalam jalur perdagangan narkoba. Wilayah tersebut berada di antara kawasan perbukitan tempat tanaman koka dibudidayakan dan pelabuhan-pelabuhan di pesisir Pasifik yang menjadi jalur utama distribusi narkotika.

Pengeboman bus tersebut juga disebut sebagai bagian dari rangkaian serangan yang dalam beberapa hari terakhir menyasar aparat kepolisian, militer, serta infrastruktur sipil. Jenderal Hugo López, sebagai komandan angkatan bersenjata Kolombia, melaporkan bahwa dua kendaraan bermuatan bahan peledak sempat mengguncang pos militer di sekitar kota Cali pada hari Jumat. Selain itu, otoritas juga mencatat adanya penembakan di kantor polisi di wilayah pedesaan di selatan kota, serta keberhasilan aparat menjatuhkan tiga drone yang menargetkan fasilitas radar milik otoritas sipil nasional pada hari Sabtu.

Presiden Gustavo Petro dilaporkan menilai bahwa para pelaku berupaya membangun kendali teritorial dan politik melalui serangan tersebut. Ia juga menyerukan agar aparat keamanan meningkatkan tindakan tegas terhadap kelompok tersebut, termasuk upaya pengejaran hingga ke luar negeri.

Menjelang pemilihan presiden pada 31 Mei, gelombang serangan ini kembali memicu kritik terhadap pemerintah. Sejumlah pihak menilai pemerintah terlalu lunak terhadap kelompok kriminal dan belum berhasil mendorong kemajuan signifikan dalam negosiasi melalui kebijakan yang dikenal sebagai “Total Peace,” yang telah diupayakan sejak Petro menjabat pada 2022.

Data dari Kepolisian Nasional menunjukkan bahwa jumlah serangan teroris yang tercatat meningkat menjadi lebih dari 300 dalam tiga bulan pertama masing-masing dari dua tahun terakhir, dibandingkan dengan kurang dari 200 pada periode yang sama pada tahun 2024.

Tiga kandidat utama yang bersaing dalam pemilihan presiden berikutnya dilaporkan segera mengutuk serangan tersebut serta menyampaikan komitmen untuk menekan tingkat kekerasan.

Paloma Valencia menyatakan bahwa situasi ini merupakan konsekuensi dari kebijakan Total Peace yang dinilai memberi ruang bagi kelompok ilegal untuk terus memperkaya diri melalui aktivitas tanaman terlarang. Ia juga mengindikasikan akan meningkatkan kerja sama dengan Amerika Serikat dalam upaya pemberantasan perdagangan narkoba.

Sementara itu, Abelardo de la Espriella menyampaikan rencana untuk mengerahkan militer guna memberantas kejahatan. Ia menilai bahwa Kolombia membutuhkan pendekatan yang lebih tegas dalam menghadapi kelompok kriminal.

Di sisi lain, Iván Cepeda, yang merupakan senator dari kubu kiri dan sekutu Presiden Petro serta disebut memimpin dalam jajak pendapat, menyerukan agar otoritas melakukan penyelidikan menyeluruh. Ia menduga bahwa serangan tersebut bertujuan menciptakan rasa takut di tengah masyarakat menjelang pelaksanaan pemilu.

Gelombang kekerasan seperti yang terjadi baru-baru ini tidak hanya berdampak pada keamanan, tetapi juga langsung tercermin dalam indikator ekonomi utama Kolombia. Data dari UNCTAD menunjukkan bahwa Foreign Direct Investment (FDI) ke Kolombia sempat mencapai sekitar US$17 miliar pada 2022, namun dalam periode ketidakpastian dan meningkatnya konflik, arus ini cenderung melambat dengan penurunan dua digit di beberapa kuartal berikutnya menurut laporan Bloomberg. Peningkatan lebih dari 300 serangan teroris dalam tiga bulan pertama dalam dua tahun terakhir (data Kepolisian Nasional Kolombia) memperkuat persepsi risiko, yang dalam model IMF sering dikaitkan dengan kenaikan premi risiko negara hingga 50–150 basis poin.

Dampak kedua terlihat pada sektor logistik dan perdagangan. Jalur Pan-Amerika, yang menjadi arteri utama distribusi barang, menangani sebagian besar arus logistik domestik Kolombia. Ketika terjadi gangguan seperti 26 serangan dalam satu akhir pekan, biaya logistik meningkat signifikan. Menurut World Bank Logistics Performance Index, biaya logistik di Kolombia sudah relatif tinggi, mencapai sekitar 13–14% dari PDB, dibanding rata-rata OECD sekitar 8–9%. Gangguan keamanan dapat mendorong biaya ini naik beberapa persen poin, yang pada akhirnya meningkatkan harga barang konsumsi dan menambah tekanan inflasi yang pada 2023 sempat berada di kisaran 10–11% (data bank sentral).

Di sektor pertanian, dampaknya juga terukur. Kolombia adalah salah satu produsen kopi terbesar dunia, dengan produksi sekitar 11–12 juta kantong per tahun menurut International Coffee Organization. Namun, wilayah konflik seperti Cauca dan Nariño juga merupakan pusat produksi koka. Data UNODC menunjukkan luas lahan koka Kolombia mencapai lebih dari 230.000 hektare pada 2022, meningkat tajam dari tahun-tahun sebelumnya. Ketika konflik meningkat, petani cenderung terdorong ke tanaman ilegal yang lebih “aman” secara finansial, yang menurut Bank Dunia dapat menurunkan produktivitas pertanian legal hingga 15–20% di wilayah terdampak konflik.

Tekanan juga muncul pada fiskal pemerintah. Anggaran pertahanan Kolombia secara historis berada di kisaran 3–3,5% dari PDB menurut SIPRI, salah satu yang tertinggi di Amerika Latin. Dengan meningkatnya kekerasan, kebutuhan belanja keamanan bisa bertambah miliaran dolar per tahun. Di sisi lain, defisit fiskal Kolombia tercatat sekitar 4–5% dari PDB dalam beberapa tahun terakhir (data IMF), sehingga peningkatan belanja keamanan berpotensi mempersempit ruang untuk investasi publik di infrastruktur dan program sosial.

Dari sisi stabilitas makro, nilai tukar peso Kolombia juga sensitif terhadap risiko keamanan. Data pasar menunjukkan bahwa dalam periode ketidakpastian tinggi, peso dapat melemah lebih dari 5–10% dalam hitungan bulan, terutama ketika dibarengi dengan arus keluar modal. Hal ini relevan karena sekitar 25–30% kepemilikan obligasi pemerintah Kolombia dipegang oleh investor asing (data Kementerian Keuangan Kolombia), sehingga perubahan sentimen dapat dengan cepat memicu volatilitas di pasar keuangan.

Sektor pariwisata, yang sempat pulih pasca pandemi, juga terkena dampak langsung. Kolombia mencatat sekitar 5 juta wisatawan internasional pada 2023 menurut UN Tourism, meningkat signifikan dari periode sebelumnya. Namun, laporan Reuters mencatat bahwa lonjakan kekerasan dapat menurunkan kunjungan wisata hingga 10–20% dalam jangka pendek, terutama ke wilayah yang terdampak konflik. Ini berdampak pada sektor hotel, restoran, dan transportasi yang menyumbang sekitar 6–7% terhadap PDB.

Dampak lain yang tidak kalah penting adalah pada kepercayaan bisnis. Indeks kepercayaan bisnis Kolombia yang dirilis oleh Fedesarrollo menunjukkan fluktuasi signifikan, dengan penurunan hingga lebih dari 10 poin indeks pada periode ketidakpastian tinggi. Hal ini berdampak langsung pada investasi domestik dan penciptaan lapangan kerja, padahal tingkat pengangguran Kolombia masih berada di kisaran 9–11% dalam beberapa tahun terakhir (data statistik nasional).

Dalam konteks kebijakan, pemerintahan Gustavo Petro mencoba mendorong strategi “Total Peace” sejak 2022. Namun, kritik muncul karena selama periode tersebut jumlah serangan justru meningkat menjadi lebih dari 300 insiden dalam tiga bulan pertama dalam dua tahun terakhir. Ketidakpastian arah kebijakan ini turut memengaruhi persepsi investor, yang menurut survei JP Morgan dan Goldman Sachs dapat menahan ekspansi bisnis hingga 20–30% dari rencana investasi awal dalam kondisi risiko tinggi.

Meski demikian, ekonomi Kolombia masih menunjukkan ketahanan relatif. Pertumbuhan PDB sempat mencapai sekitar 7,3% pada 2022 sebelum melambat ke kisaran 1–2% pada 2024–2025 (data IMF). Ini menunjukkan bahwa dampak konflik lebih banyak menekan potensi pertumbuhan daripada langsung memicu krisis. Namun, jika eskalasi kekerasan terus berlanjut, kombinasi antara penurunan investasi, gangguan logistik, dan tekanan fiskal dapat secara kumulatif memangkas pertumbuhan ekonomi hingga 1–1,5 poin persentase per tahun.