(Vibizmedia – Jakarta) Di tengah perubahan global yang berlangsung cepat dan sarat ketidakpastian, peningkatan kapasitas serta penguasaan ilmu pengetahuan menjadi kebutuhan yang tidak terelakkan. Hal ini disampaikan Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung, dalam acara puncak Kemenkeu Learning Festival di Jakarta, Selasa (28/04).
Ia menekankan pentingnya pembelajaran berkelanjutan, mengingat perkembangan dunia yang sangat dinamis. Menurutnya, disrupsi yang terjadi membuat pengetahuan yang dimiliki saat ini dapat dengan cepat menjadi usang jika tidak terus diperbarui.
Dalam konteks tersebut, Juda Agung menguraikan tiga hal utama yang perlu dipersiapkan oleh pengelola fiskal Indonesia ke depan. Pertama, kemampuan membaca tren dan memetakan masa depan. Pengelola fiskal dituntut mampu memahami perkembangan global, seperti transisi menuju ekonomi hijau dan berkelanjutan, perubahan demografi termasuk penuaan penduduk, hingga dinamika geopolitik yang berpengaruh terhadap kebijakan ekonomi.
Kedua, penguasaan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dan big data. Pemanfaatan data dalam skala besar melalui analitik dinilai dapat memperkuat proses pengambilan keputusan, sekaligus meningkatkan efektivitas dan ketepatan kebijakan fiskal.
Ketiga, penerapan kepemimpinan yang lincah (agile leadership). Dalam situasi yang penuh ketidakpastian, pemimpin dituntut mampu beradaptasi dengan cepat serta mengambil keputusan meskipun informasi yang tersedia terbatas. Pendekatan berbasis skenario dan probabilitas menjadi penting untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan, termasuk dampak geopolitik global terhadap perekonomian nasional.
Ia menegaskan bahwa kemampuan mengambil keputusan di tengah ketidakpastian menjadi kunci, dengan mempertimbangkan berbagai skenario serta peluang yang mungkin terjadi di masa depan.









