BNPB Hadirkan Sistem Peringatan Dini, Mitigasi Banjir Banda Aceh Makin Optimal

0
56
Salah satu perangkat sensor pemantau tinggi muka air dalam sistem Flood Early Warning System (EWS) yang terpasang di Pos Pantau Kampung Baru, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh. (Foto: BNPB)

(Vibizmedia – Jakarta) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus memperkuat upaya mitigasi banjir melalui pengembangan Sistem Peringatan Dini (Early Warning System/EWS) di Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh. Sistem ini dirancang untuk meningkatkan kemampuan pemerintah daerah dan masyarakat dalam memantau kondisi hidrologi secara real time serta menerima peringatan dini terhadap potensi banjir.

Penguatan tersebut ditandai dengan rampungnya pemasangan perangkat EWS pada akhir 2025. BNPB menghadirkan satu unit sirine array, lima sensor pemantauan banjir, serta dashboard monitoring terintegrasi guna mendukung pengambilan keputusan yang cepat dan akurat.

Sejumlah sensor ditempatkan di titik-titik strategis untuk memantau tinggi muka air, di antaranya kawasan Taman Putroe Phang, Keutapang, Indrapuri, dan KM 0. Sementara itu, sirine peringatan dini dipasang di Kantor Camat Baiturrahman, dengan dashboard monitoring berada di Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistika Kota Banda Aceh agar informasi dapat disampaikan secara cepat kepada masyarakat.

Sistem ini dilengkapi teknologi sensor tinggi muka air, kamera pengawas (CCTV), serta perangkat pemantauan lingkungan yang terhubung dengan dashboard visualisasi data. Seluruh data diproses secara otomatis sehingga potensi peningkatan risiko banjir dapat segera diidentifikasi oleh petugas.

Sebagai bagian dari peningkatan kesiapsiagaan, BNPB juga memanfaatkan sirine EWS dalam peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) 2026 melalui simulasi evakuasi mandiri pada Minggu (26/4/2026). Kegiatan ini diikuti sekitar 100 warga di Kantor Camat Baiturrahman yang juga berfungsi sebagai Tempat Evakuasi Sementara (TES).

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menegaskan bahwa teknologi EWS diharapkan mampu meminimalkan korban jiwa dan kerugian akibat bencana. Ia menekankan pentingnya pemahaman masyarakat dalam merespons peringatan dini secara tepat.

“Teknologi yang baik harus diimbangi dengan kesiapan masyarakat dalam memahami dan bertindak saat menerima peringatan,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal mengapresiasi dukungan BNPB. Menurutnya, kehadiran EWS menjadi bagian penting dalam mewujudkan kota yang tangguh terhadap bencana, melalui penguatan infrastruktur, integrasi dalam pendidikan, serta latihan evakuasi rutin.

Ia berharap sistem ini dapat dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana.

Sebagai penanda operasional, Kepala BNPB bersama Wali Kota Banda Aceh turut menandatangani prasasti peresmian EWS banjir.

Implementasi sistem ini juga diharapkan memperkuat koordinasi antarinstansi, mulai dari pemerintah daerah, BPBD, hingga aparat di tingkat kecamatan dan desa. Dukungan data yang akurat dan terintegrasi memungkinkan pengambilan keputusan dalam kondisi darurat dilakukan secara lebih cepat dan tepat.

Salah satu warga Gampong Peuniti, Desrina Intan Adillah, mengaku mendapat pengalaman baru dari simulasi tersebut. Ia kini memahami langkah-langkah evakuasi setelah mendengar langsung sirine peringatan dini.

Secara keseluruhan, pengembangan EWS banjir di Banda Aceh menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat sekaligus memperkuat upaya pengurangan risiko bencana di wilayah perkotaan. Selain di Banda Aceh, BNPB juga telah mengembangkan sistem serupa di Kota Bekasi, Jawa Barat, serta EWS banjir lahar dingin di Halmahera Barat, Maluku Utara.