(Vibizmedia-Nasional) Pemerintah resmi menggeber Program Bestari Saintek 2026 dengan total pendanaan mencapai Rp57 miliar untuk mendukung 122 riset kolaboratif. Program ini menjadi langkah strategis dalam menjembatani dunia akademik dengan industri, sekaligus menghadirkan solusi konkret bagi berbagai persoalan di masyarakat.
Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Kemendiktisaintek, Ahmad Najib Burhani, menegaskan bahwa sejak tahap awal, setiap proposal yang lolos seleksi memang diwajibkan melibatkan mitra industri. Hal ini dilakukan agar riset tidak lagi bersifat teoritis semata, melainkan langsung terhubung dengan kebutuhan lapangan.
“Riset tidak lagi berdiri sendiri di kampus, tetapi sejak awal sudah dirancang bersama industri dan pemerintah daerah agar hasilnya bisa langsung dimanfaatkan dan di-scale up,” ujar Najib di Jakarta, Rabu (29/4/2026).
Dari total 2.499 proposal yang masuk, hanya 122 riset yang berhasil lolos melalui proses seleksi ketat. Program ini melibatkan 854 dosen dan tenaga kependidikan, serta didukung oleh 341 mitra industri dari berbagai sektor.
Pendanaan program dikelola melalui LPDP dengan fokus utama pada hilirisasi riset, sehingga hasil penelitian tidak berhenti pada publikasi atau paten saja, tetapi dapat dikomersialkan dan memberi dampak nyata bagi perekonomian.
Pendekatan yang digunakan dalam Bestari Saintek dikenal sebagai living lab, yakni sebuah ekosistem kolaboratif yang mempertemukan kampus, industri, masyarakat, dan pemerintah dalam satu ruang inovasi terpadu.
Program ini juga menjadi bagian dari implementasi Tridharma perguruan tinggi. Alih-alih mengganggu aktivitas akademik, skema ini justru memperkuat keterlibatan mahasiswa dalam riset aplikatif yang relevan dengan kebutuhan dunia nyata.
Dari sisi bidang riset, sektor pangan dan pertanian mendominasi dengan 45 proposal. Disusul bidang sosial humaniora, seni budaya, dan pendidikan sebanyak 30 proposal. Sementara itu, kemaritiman mencatat 12 proposal, teknologi informasi dan komunikasi 9 tim, kesehatan dan obat 8 tim, kebencanaan 8 tim, energi baru terbarukan 6 tim, serta material maju 4 tim.
Secara kelembagaan, riset didominasi oleh perguruan tinggi negeri sebesar 57,8 persen, sedangkan perguruan tinggi swasta berkontribusi 42,2 persen.
Pemerintah menegaskan bahwa program ini tidak semata mengejar jumlah paten atau publikasi ilmiah, tetapi lebih jauh untuk memastikan riset benar-benar mampu menyelesaikan masalah, meningkatkan keterampilan sumber daya manusia, serta memperkuat daya saing industri nasional.









