Badan Bahasa Libatkan Misionaris untuk Ekspansi Bahasa Indonesia Global

0
170
Para peserta menghadiri pertemuan antara Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), dan Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia di Kantor Badan Bahasa, Rawamangun, Jakarta, Kamis (7/5/2026). (Foto: KWI Pusat)

(Vibizmedia – Jakarta) Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) di bawah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah berencana menggandeng para misionaris Indonesia di berbagai negara untuk memperluas penyebaran Bahasa Indonesia di kancah global.

Gagasan tersebut disampaikan Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, saat menerima kunjungan Komisi Komunikasi Sosial Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) bersama Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI) di Kantor Badan Bahasa, Jakarta, sebagaimana keterangan pers pada Jumat (8/5/2026).

Hafidz menyatakan para misionaris Indonesia memiliki potensi besar untuk berperan sebagai duta bahasa di negara tempat mereka bertugas. “Kami berharap para misionaris dapat menjadi ujung tombak penyebaran Bahasa Indonesia di luar negeri,” ujarnya.

Ia menjelaskan, inisiatif ini merupakan tindak lanjut dari penggunaan resmi Bahasa Indonesia oleh Takhta Suci Vatikan melalui Vatican News, yang diawali dengan penandatanganan nota kesepahaman antara Komsos KWI dan Dikasteri Komunikasi Vatikan pada Maret 2026.

Dalam pertemuan tersebut, Hafidz didampingi Sekretaris Badan Bahasa Ganjar Harimansyah dan Kepala Pusat Pemberdayaan Bahasa dan Sastra Iwa Lukmana. Sementara itu, pihak KWI diwakili Petrus Noegroho Agoeng bersama jajaran pengurus serta perwakilan PWKI.

Petrus menyambut baik rencana tersebut, namun menekankan pentingnya pelibatan berbagai elemen gereja, mulai dari keuskupan hingga tarekat dan kongregasi. Menurutnya, kolaborasi ini berpotensi menciptakan pertukaran budaya yang kuat di tingkat akar rumput.

“Para misionaris bukan hanya menjalankan tugas keagamaan, tetapi juga menjadi jembatan budaya antara Indonesia dan negara tempat mereka melayani,” katanya.

Sementara itu, Founder PWKI, AM Putut Prabantoro, menilai langkah ini strategis mengingat Indonesia merupakan salah satu negara pengirim misionaris terbesar di dunia. Ia juga menyoroti pentingnya penggunaan Bahasa Indonesia di Vatican News dalam memperluas akses informasi bagi para misionaris terhadap dokumen resmi Vatikan.

“Ini bukan hanya soal keagamaan, tetapi juga bagian dari diplomasi lunak Indonesia,” ujarnya.

Hafidz menambahkan, kerja sama ini tidak hanya terbatas pada penerjemahan dokumen, tetapi dapat dikembangkan melalui berbagai platform seperti media, radio, dan podcast, serta fasilitasi Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) bagi para misionaris.

Di sisi lain, Ketua PWKI, Asni Ovier Dengen Paluin, mengungkapkan bahwa penguatan jejaring misionaris Indonesia telah dimulai melalui komunitas Sahabat Misionaris Indonesia (Samindo) yang dibentuk sejak masa pandemi COVID-19.

Komunitas tersebut, lanjut Yophiandi Kurniawan, menjadi wadah komunikasi dan koordinasi para misionaris Indonesia di berbagai negara. Samindo juga mendapat dukungan dari sejumlah tokoh gereja di Nusa Tenggara Timur, termasuk Budi Kleden.

Upaya memperluas penggunaan Bahasa Indonesia melalui jejaring misionaris ini dinilai selaras dengan agenda pembangunan nasional dalam memperkuat diplomasi budaya, memperluas pengaruh Indonesia di tingkat global, serta meneguhkan identitas bangsa melalui bahasa dan kebudayaan.