
(Vibizmedia-Nasional) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sejumlah kejadian bencana yang menimbulkan dampak signifikan di berbagai wilayah Indonesia hingga Senin (11/5) pukul 07.00 WIB. Bencana hidrometeorologi basah berupa banjir masih mendominasi, sementara kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai muncul seiring masuknya masa peralihan musim dari penghujan menuju kemarau.
Di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, banjir terjadi pada Jumat (8/5) sekitar pukul 10.00 WITA akibat meluapnya Sungai Balo-Balo. Luapan air merendam permukiman warga serta lahan pertanian di Desa Balo-Balo, Kecamatan Wotu.
Berdasarkan hasil kaji cepat BPBD setempat, sedikitnya enam kepala keluarga (KK) terdampak akibat rumah mereka terendam banjir. Selain itu, sekitar 80 hektare lahan persawahan, 10 hektare kebun sawit, dan 10 hektare tambak ikut terdampak.
Tim gabungan bersama BPBD langsung melakukan penanganan dan pemantauan tinggi muka air. Pada Minggu (10/5), kondisi banjir dilaporkan telah surut.
Sementara itu, banjir juga melanda Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, pada Jumat (8/5) pukul 14.15 WITA. Tinggi muka air dilaporkan mencapai satu meter dan berdampak pada 178 kepala keluarga atau 317 jiwa di Kelurahan Lepo-Lepo, Kecamatan Baruga.
Bencana tersebut menyebabkan sedikitnya 153 rumah warga terendam, termasuk satu fasilitas ibadah dan dua fasilitas pendidikan. BPBD Kota Kendari bergerak cepat dengan melakukan kaji cepat, pemantauan kondisi banjir, evakuasi warga terdampak, hingga distribusi air bersih bagi masyarakat.
Meski kondisi banjir di Kendari dilaporkan mulai berangsur surut pada Minggu (10/5), petugas masih bersiaga mengantisipasi potensi banjir susulan.
Di tengah ancaman banjir, kebakaran hutan dan lahan juga dilaporkan terjadi di Kelurahan Tanjung Harapan, Kecamatan Nunukan Selatan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, pada Minggu (10/5) sekitar pukul 15.56 WITA.
BPBD Kabupaten Nunukan mencatat luas lahan yang terbakar mencapai sekitar dua hektare. Penyebab kebakaran hingga kini masih dalam penyelidikan pihak berwenang. Beruntung, tim gabungan berhasil memadamkan api sepenuhnya pada hari yang sama sekitar pukul 18.33 WITA setelah mengerahkan personel, peralatan, dan kendaraan pendukung.
Menghadapi masa transisi musim, BNPB mengingatkan pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi maupun karhutla. Perubahan pola cuaca pada masa peralihan musim berpotensi memicu hujan intensitas tinggi berdurasi singkat yang dapat menyebabkan banjir, tanah longsor, hingga angin kencang.
Di sisi lain, mulai berkurangnya curah hujan di sejumlah wilayah juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, terutama di kawasan rawan kekeringan dan lahan gambut.
BNPB mengimbau masyarakat agar terus memantau informasi cuaca dan peringatan dini melalui kanal resmi pemerintah, menjaga kebersihan lingkungan serta saluran air, tidak membuka lahan dengan cara membakar, dan segera melakukan evakuasi mandiri bila muncul tanda-tanda bahaya di sekitar tempat tinggal.
Pemerintah daerah juga diminta memastikan sistem peringatan dini berjalan optimal, memperkuat kesiapsiagaan personel, menyiapkan jalur evakuasi dan logistik darurat, serta menggencarkan edukasi mitigasi bencana di wilayah rawan.








