(Vibizmedia-Nasional) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat program hilirisasi industri nasional dengan mendorong industri kecil dan menengah (IKM) pangan berbasis buah tropis khas Indonesia agar mampu menghasilkan produk bernilai tambah tinggi dan berdaya saing global.
Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari strategi pemerintah memperkuat struktur industri nasional melalui pengolahan bahan baku domestik menjadi produk modern yang memiliki nilai ekonomi lebih besar serta berorientasi ekspor.
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, mengatakan Indonesia memiliki kekayaan komoditas buah tropis yang sangat besar dan berpotensi dikembangkan menjadi berbagai produk pangan olahan yang diminati pasar internasional.
“Indonesia memiliki banyak sekali jenis buah khas negara tropis yang punya nilai jual tinggi di pasar dalam dan luar negeri. Ini saatnya lebih banyak pelaku industri, khususnya IKM di berbagai sentra penghasil buah, untuk mengambil peran dalam mengolah buah unggulan menjadi produk pangan yang lebih beragam, bernilai tambah, dan disukai pasar,” ujar Agus di Jakarta, Senin (11/5).
Menurut Agus, komoditas unggulan seperti pisang, durian, jeruk, mangga, nanas, hingga manggis memiliki peluang besar untuk diolah menjadi produk turunan yang mampu meningkatkan nilai ekonomi sekaligus memperluas pangsa ekspor Indonesia.
Ia menegaskan, Indonesia perlu mulai mengurangi ketergantungan pada ekspor buah segar dan lebih fokus pada pengembangan produk olahan yang memberikan keuntungan lebih besar bagi petani maupun industri pengolahan pangan.
“Sudah saatnya kita tidak hanya mengekspor buah segar, tetapi juga menikmati nilai tambah dari produk olahan buah tropis khas Indonesia. Pengembangan industri pengolahan buah akan memberikan manfaat yang lebih luas,” katanya.
Selain memperkuat hilirisasi, pemerintah juga menilai pengembangan industri pengolahan buah tropis dapat mendukung ketahanan pangan nasional, membuka lapangan kerja baru, dan meningkatkan kontribusi sektor manufaktur terhadap perekonomian.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Buku Statistik Hortikultura 2024 menunjukkan produksi pisang nasional mencapai 9,26 juta ton pada 2024. Jawa Timur, Lampung, dan Jawa Barat menjadi wilayah penghasil terbesar. Nilai ekspor pisang segar Indonesia juga meningkat menjadi US$10,52 juta atau naik 10,1 persen dibanding tahun sebelumnya, dengan negara tujuan utama Malaysia, Jepang, dan Singapura.
Sementara itu, produksi mangga nasional tercatat mencapai 3,3 juta ton dengan nilai ekspor buah mangga segar dan olahan sebesar US$1,75 juta. Adapun produksi nanas nasional mencapai 2,74 juta ton dengan nilai ekspor mencapai US$316,1 juta ke pasar utama seperti Amerika Serikat, Tiongkok, dan Belanda.
Untuk memperkuat peran IKM dalam hilirisasi, Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Ditjen IKMA) terus menjalankan berbagai program pembinaan dan pendampingan bagi pelaku usaha olahan buah tropis.
Direktur Jenderal IKMA, Reni Yanita, mengatakan industri olahan buah memiliki prospek cerah seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap konsumsi pangan sehat dan berkembangnya tren produk berbasis natural food.
“Industri olahan buah ini punya prospek yang bagus di tengah isu ketahanan pangan dan semakin besarnya kesadaran masyarakat terhadap olahan pangan sehat,” ujar Reni.
Reni menjelaskan, sektor IKM selama ini menjadi tulang punggung industri nasional. Dari total 4,44 juta unit usaha industri di Indonesia, sekitar 4,43 juta merupakan IKM, dengan hampir separuhnya bergerak di sektor pangan.
Ditjen IKMA, lanjut Reni, terus memberikan pendampingan berupa peningkatan teknologi produksi, kualitas kemasan, keamanan pangan berstandar internasional, hingga akses pasar melalui pameran dan temu bisnis.
Meski peluang pasar terbuka lebar, hilirisasi buah tropis masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti stabilitas pasokan bahan baku, keterbatasan teknologi pengolahan, hingga aspek branding dan pemasaran.
Karena itu, Kemenperin terus mendorong pelaku IKM memenuhi standar kualitas dan sertifikasi internasional seperti HACCP agar produk olahan buah Indonesia mampu bersaing di pasar domestik maupun global.
Di sisi lain, diversifikasi produk juga terus diperkuat. Direktur IKM Pangan, Furnitur dan Bahan Bangunan, Afrizal Haris, menyebut IKM didorong menghasilkan produk turunan seperti buah kaleng, selai, buah kering, hingga bahan baku untuk industri kosmetik.
Selain pendampingan teknis, Kemenperin juga membuka akses pembiayaan melalui Kredit Industri Padat Karya (KIPK). Salah satu penerimanya adalah CV Sahabat Pangan yang memperoleh pembiayaan Rp2 miliar untuk revitalisasi rumah produksi dan pengadaan mesin modern.
Dengan dukungan teknologi dan pembiayaan tersebut, pemerintah optimistis IKM olahan buah tropis Indonesia semakin siap memenuhi permintaan pasar ekspor sekaligus memperkuat daya saing industri pangan nasional.









