Teknologi Baru Pengolahan Air Limbah Siap Diuji di 5 Kawasan Industri

0
136
Instalasi Pengelolaan Air Limbah
Instalasi Pengelolaan Air Limbah. DOK: PUPR

(Vibizmedia-Nasional) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mempercepat pembangunan industri nasional yang kompetitif dan berkelanjutan melalui penguatan teknologi ramah lingkungan, khususnya di sektor pengelolaan air bersih dan air limbah industri. Langkah ini menjadi bagian penting dalam mendukung percepatan dekarbonisasi industri dan pencapaian target industri hijau menuju net zero emission (NZE) di Indonesia.

Di tengah pertumbuhan kawasan industri yang semakin pesat, kebutuhan terhadap sistem pengelolaan air baku dan limbah yang modern menjadi tantangan sekaligus peluang besar bagi pengembangan industri berkelanjutan. Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Kemenperin menggandeng perusahaan asal Tiongkok, Qiaoyin City Management Co., Ltd., bersama Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) proyek percontohan teknologi pengolahan air di Jakarta, Senin (11/5).

Menteri Perindustrian Republik Indonesia, Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa kawasan industri memiliki peran strategis dalam menopang investasi, membuka lapangan kerja, sekaligus mempercepat transformasi industri nasional. Karena itu, infrastruktur pendukung seperti pengolahan air bersih dan air limbah menjadi prioritas penting dalam pembangunan kawasan industri hijau.

“Kawasan industri memainkan peran penting dalam mendukung investasi, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat transformasi industri Indonesia. Karena itu, penguatan infrastruktur pendukung, khususnya pengolahan air baku dan air limbah, menjadi prioritas penting dalam pengembangan kawasan industri hijau,” ujar Agus di Jakarta, Senin (12/5).

Kerja sama tersebut akan mengembangkan proyek percontohan penggunaan teknologi pengolahan air baku dan limbah secara terpadu dan sirkular di kawasan industri. Teknologi yang diperkenalkan bernama Efficient Denitrogenation Integrated Airlift Loop Bioreactor (DIAB), yang diklaim mampu menghadirkan sistem pengolahan limbah industri dengan efisiensi biaya dan penggunaan lahan yang lebih tinggi dibanding metode konvensional.

Perwakilan Qiaoyin City Management Co., Ltd., Wan Yiming menjelaskan, teknologi DIAB dapat memangkas biaya pembangunan hingga 20 persen dan menghemat kebutuhan lahan sampai 60 persen. Selain itu, penggunaan sistem prefabrikasi atau komponen siap pasang memungkinkan fasilitas pengolahan limbah dapat beroperasi empat kali lebih cepat.

“Melalui teknologi DIAB, kami menghadirkan cara baru dalam mengolah air limbah pabrik yang jauh lebih hemat. Solusi ini mampu memangkas biaya pembangunan hingga 20 persen dan menghemat kebutuhan lahan sampai 60 persen dibandingkan metode konvensional,” ujar Wan.

Berdasarkan data Kemenperin, hingga tahun 2025 terdapat 176 kawasan industri di Indonesia dengan luas mencapai 98.291,68 hektare. Kawasan tersebut menampung sekitar 11.970 tenant industri dengan total realisasi investasi mencapai Rp6.744,58 triliun dan menyerap 2,35 juta tenaga kerja. Dalam lima tahun terakhir, pertumbuhan kawasan industri mencapai 49,15 persen, sehingga kebutuhan terhadap sistem pengelolaan air dan limbah yang andal semakin mendesak.

Sebagai tahap awal, proyek ini akan diterapkan di lima kawasan industri dengan target implementasi selama enam bulan setelah penandatanganan kerja sama dan periode operasional hingga tiga tahun.

Menurut Agus, proyek ini bukan hanya mencari teknologi pengolahan air terbaik, tetapi juga merumuskan model pengelolaan yang efektif, efisien, dan mudah direplikasi di berbagai kawasan industri lain di Indonesia.

Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI), Akhmad Ma’ruf Maulana menyambut positif kolaborasi tersebut. Ia menilai penerapan teknologi pengolahan air modern akan meningkatkan daya saing kawasan industri nasional sekaligus menjawab tuntutan pasar global yang semakin mengedepankan prinsip keberlanjutan lingkungan.

Sementara itu, Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional Kemenperin, Tri Supondy berharap kerja sama ini tidak berhenti pada tahap proyek percontohan semata, tetapi juga menjadi pintu masuk transfer teknologi, peningkatan kualitas SDM, serta penguatan industri berbasis inovasi di Indonesia.

“Kolaborasi ini diharapkan menjadi fondasi kemitraan jangka panjang yang memberikan manfaat nyata bagi industri nasional dan masyarakat luas,” tutupnya.