Wamenkomdigi: Tantangan AI Kini pada Regulasi Etika, Bukan Lagi Teknologi

0
84
Foto: Kemenkomdigi

(Vibizmedia – Jakarta) Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria, menegaskan bahwa tantangan utama dalam tata kelola kecerdasan artifisial (AI) saat ini bukan lagi pada perkembangan teknologinya, melainkan pada bagaimana nilai dan etika dapat diterjemahkan menjadi regulasi yang mengikat.

Menurut Nezar, etika pada dasarnya tidak memiliki kekuatan hukum, sehingga perlu dituangkan dalam bentuk regulasi yang disertai sanksi dan konsekuensi yang jelas. “Tantangannya adalah bagaimana etika bisa menjadi dasar dalam penyusunan regulasi. Tanpa kekuatan hukum, etika tidak cukup efektif karena tidak memiliki daya paksa, berbeda dengan regulasi yang memiliki sanksi,” ujarnya saat menerima audiensi Globethics di Kantor Kemkomdigi, Jakarta Pusat, Rabu (13/5/2026).

Ia juga menilai bahwa selama ini tidak semua perusahaan teknologi menjadikan aspek etika sebagai prioritas dalam pengembangan produk digital. Namun, kesadaran tersebut mulai meningkat di tingkat global.

Hal ini terlihat dari mulai dilibatkannya lulusan bidang humaniora dan filsafat di perusahaan teknologi untuk membantu menilai dampak produk terhadap manusia. “Risiko etis kini mulai masuk dalam kategori risiko di perusahaan teknologi, yang sebelumnya tidak diperhitungkan. Ini menunjukkan adanya peningkatan kepedulian terhadap etika,” kata Nezar.

Menurutnya, aspek etika menjadi semakin krusial dalam pengembangan AI karena teknologi ini berpotensi memunculkan konflik nilai, norma, dan visi di tengah masyarakat.

Nezar juga menjelaskan bahwa sebagian besar model AI generatif berbasis Large Language Model (LLM) dikembangkan di negara-negara Barat, sehingga nilai-nilai yang tertanam di dalamnya belum tentu selaras dengan budaya dan nilai masyarakat Indonesia.

“Kondisi ini membuka kemungkinan terjadinya konflik nilai dalam proses pengolahan data maupun pengambilan keputusan oleh AI,” jelasnya.

Karena itu, Nezar mendukung rencana penyelenggaraan Global Ethics Forum di Indonesia pada Oktober mendatang. Ia berharap forum tersebut dapat menghasilkan kesepakatan global yang menempatkan etika sebagai fondasi penting dalam pengembangan dan tata kelola AI ke depan.