Logistik RI Tumbuh Positif, Arus Kontainer Tembus 6,42 Juta TEUs

0
43
Foto: Kemenhub

(Vibizmedia – Jakarta) Kinerja logistik dan perdagangan nasional menunjukkan tren positif pada awal 2026. Hingga April 2026, arus peti kemas yang dilayani PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo tercatat mencapai 6,42 juta Twenty-foot Equivalent Units (TEUs), meningkat sekitar 7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 5,99 juta TEUs.

Peningkatan ini mencerminkan penguatan aktivitas ekonomi nasional, terutama pada sektor perdagangan internasional, industri pengolahan, konsumsi domestik, serta distribusi barang antardaerah.

Direktur Utama Pelindo, Achmad Muchtasyar, menyampaikan bahwa pertumbuhan tertinggi berasal dari segmen internasional yang naik sekitar 11 persen. Ekspor tercatat meningkat 10 persen, sedangkan impor tumbuh 12 persen. Di sisi lain, arus peti kemas domestik juga mengalami kenaikan sekitar 4 persen, dengan aktivitas bongkar naik 5 persen dan muat meningkat 4 persen.

“Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa rantai pasok nasional tetap bergerak stabil di tengah tekanan ekonomi global, termasuk perlambatan di sejumlah negara dan dinamika geopolitik,” ujar Achmad.

Ketahanan tersebut turut ditopang oleh struktur perdagangan Indonesia yang kuat di kawasan intra-Asia. Kawasan Tiongkok dan ASEAN masih menjadi mitra utama dengan kontribusi sekitar 46,2 persen terhadap ekspor dan 56,5 persen terhadap impor nasional.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sejumlah komoditas ekspor berbasis peti kemas mencatat pertumbuhan positif, antara lain lemak dan minyak hewan/nabati yang tumbuh 7,95 persen, mesin dan peralatan mekanis 9,26 persen, mesin dan perlengkapan elektrik 4,9 persen, serta produk kimia sebesar 12,27 persen. Hal ini menandakan aktivitas manufaktur dan hilirisasi industri nasional tetap berjalan aktif.

Di sisi impor, peningkatan terbesar terjadi pada mesin dan peralatan mekanis sebesar 22,1 persen, mesin dan perlengkapan elektrik 17,91 persen, instrumen optik 20,8 persen, serta produk kimia yang melonjak 36,31 persen. Kenaikan ini mengindikasikan tingginya kebutuhan investasi dan ekspansi kapasitas produksi industri dalam negeri.

Aktivitas logistik juga meningkat di sejumlah pelabuhan utama, seperti Tanjung Priok Jakarta, Tanjung Mas Semarang, dan Tanjung Perak Surabaya, yang menjadi tulang punggung arus ekspor-impor sekaligus distribusi antarpulau.

Pada sektor domestik, peningkatan distribusi ke kawasan timur Indonesia menjadi sinyal penguatan pemerataan ekonomi. Pelabuhan Tanjung Priok mencatat pertumbuhan domestik sekitar 8 persen, sementara Tanjung Perak tumbuh sekitar 2 persen melalui penguatan rute ke Makassar, Kendari, dan Berau. Pelabuhan Makassar sendiri mencatat pertumbuhan sekitar 7 persen, didorong distribusi komoditas pertanian seperti beras, jagung, dan palawija.

Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan, Muhammad Masyhud, menegaskan bahwa pemerintah terus memperkuat kapasitas dan layanan pelabuhan guna mengantisipasi peningkatan arus logistik.

Salah satu langkah strategis adalah penetapan terminal peti kemas baru dari fasilitas multipurpose. Hingga April 2026, pemerintah telah menetapkan 12 lokasi terminal baru, termasuk di Pelabuhan Banten dan Tanjung Emas Semarang.

Selain itu, modernisasi infrastruktur pelabuhan juga dipercepat melalui pengembangan terminal, pendalaman alur pelayaran, peningkatan kapasitas tambatan dan lapangan penumpukan, modernisasi peralatan bongkar muat, serta digitalisasi layanan.

Sepanjang 2025–2026, pembangunan dan rehabilitasi fasilitas pelabuhan telah dilakukan di 74 lokasi di seluruh Indonesia. Upaya ini mendukung penguatan jaringan logistik nasional, hilirisasi industri, serta peningkatan perdagangan intra-Asia.

Dengan kapasitas dan kualitas layanan yang terus meningkat, pelabuhan Indonesia diharapkan mampu mengimbangi pertumbuhan arus logistik, sekaligus memperkuat daya saing ekonomi nasional dan mendukung pemerataan pembangunan antarwilayah.