(Vibizmedia-Kolom) Jerman menghentikan keterlibatannya dalam proyek pesawat tempur siluman bersama Prancis dan Spanyol yang selama ini mandek. Proyek tersebut telah menjadi simbol berbagai hambatan yang dihadapi Eropa dalam upayanya membangun kembali kekuatan militernya ketika Amerika Serikat mulai mengurangi kehadiran militernya di benua tersebut.
Berlin tidak lagi akan melanjutkan rencana pembangunan maupun pemesanan pesawat itu setelah gagal menyelesaikan perselisihan antara Airbus dan Dassault Aviation mengenai siapa yang harus memimpin pengembangannya, kata seorang pejabat senior pemerintah Jerman.
Keputusan Jerman untuk mundur mengejutkan para pejabat Prancis, menurut sejumlah sumber yang mengetahui persoalan tersebut. Selama ini Paris berpendapat bahwa pemerintah-pemerintah yang berada di balik proyek itu perlu memberikan tekanan lebih besar kepada perusahaan-perusahaan pertahanan agar bekerja sama dan mendorong proyek tersebut maju. Kantor Presiden Emmanuel Macron menyatakan bahwa Prancis akan terus mendorong militer dan industrinya untuk berkolaborasi dalam proyek-proyek Eropa yang ambisius dan mendukung kepentingan keamanan nasional negara itu.
Jerman memperkirakan Berlin dan Paris tetap akan bekerja sama dalam aspek lain proyek tersebut, termasuk apa yang disebut sebagai “combat cloud”, sebuah sistem berbasis kecerdasan buatan yang menghubungkan pesawat masa depan dengan kawanan drone dan berbagai sistem persenjataan lainnya.
Kementerian Pertahanan Prancis dan Jerman dijadwalkan bertemu pada Juli untuk menyusun peta jalan kerja sama pertahanan di masa depan yang berfokus pada sejumlah proyek yang dianggap lebih relevan dan realistis, tambah pejabat Jerman tersebut.
Future Combat Air System (FCAS) awalnya dirancang sebagai jawaban tiga negara tersebut terhadap generasi terbaru pesawat tempur siluman Amerika Serikat, China, dan Rusia. Program itu diharapkan dapat menutup kekurangan kemampuan pertahanan udara Eropa dan bahkan berpotensi melampaui kemampuan jet tempur F-35 buatan Amerika Serikat.
Namun, proyek tersebut justru menjadi contoh paling menonjol tentang bagaimana Eropa kerap kesulitan mengubah tingkat belanja militer yang sangat besar menjadi upaya bersama yang terkoordinasi dan menghasilkan kemampuan yang lebih besar daripada sekadar gabungan masing-masing negara.Masalah ini semakin mendesak bagi Eropa karena kawasan tersebut menghadapi kerentanan yang meningkat seiring mulai ditariknya sebagian aset militer Amerika Serikat dari wilayah tersebut.
Para pejabat keamanan di kawasan itu khawatir kondisi tersebut dapat mendorong Presiden Rusia Vladimir Putin mengambil langkah konfrontatif terhadap Organisasi Perjanjian Atlantik Utara (NATO) sebelum Eropa berhasil menutup kekosongan yang ditinggalkan Amerika Serikat.
Keputusan ini membuat Jerman, yang pernah menjadi salah satu pelopor awal industri kedirgantaraan, tidak lagi memiliki program pesawat tempur baru yang sedang dikembangkan. Perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam program saingan, Global Combat Air Program (GCAP), mengatakan bahwa proyek mereka sudah berkembang terlalu jauh sehingga akan sulit membagi ulang porsi pekerjaan jika ada anggota baru yang bergabung. Menurut seorang sumber yang mengetahui persoalan tersebut, saat ini tidak ada pembicaraan dengan Airbus mengenai kemungkinan bergabungnya perusahaan itu ke dalam proyek. Meski demikian, keputusan semacam itu pada akhirnya akan bersifat politis, dan Jerman sebelumnya pernah bekerja sama dengan Italia serta Inggris dalam berbagai proyek kedirgantaraan.
Pejabat Jerman tersebut mengatakan bahwa Berlin masih belum memutuskan apakah akan bergabung dengan proyek pesawat tempur multinasional lain yang saat ini sudah berjalan.Eropa juga perlu mengembangkan lebih banyak jenis persenjataannya sendiri dan mengurangi ketergantungan pada Amerika Serikat dalam hal perlindungan keamanan.
Presiden Donald Trump telah beberapa kali mempertanyakan komitmen Amerika Serikat terhadap pertahanan Eropa. Pada saat yang sama, industri pertahanan Amerika juga mengalami kesulitan memenuhi permintaan produksi yang cukup besar untuk memasok Eropa dengan sistem pertahanan rudal, rudal, jet tempur F-35, dan berbagai persenjataan lainnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, Amerika Serikat mengalihkan pesanan Eropa untuk rudal pencegat Patriot, sistem roket artileri bergerak tinggi HIMARS, dan berbagai persenjataan lain untuk kebutuhan domestiknya sendiri, Ukraina, serta kemungkinan untuk sekutu-sekutunya di Timur Tengah. Sementara itu, negara-negara Eropa, termasuk Jerman, harus menghadapi waktu tunggu yang panjang untuk memperoleh pesawat F-35.
Para anggota parlemen dan pakar pertahanan Eropa juga mempertimbangkan bagaimana nasib armada F-35 jika Amerika Serikat menghentikan dukungannya. Semua pesawat tempur membutuhkan suku cadang, pembaruan perangkat lunak, dan dukungan teknis dari produsennya. F-35 buatan Lockheed Martin pun telah menjadi simbol ketergantungan Eropa terhadap Amerika Serikat dalam beberapa aspek penting pertahanannya.
Situasi tersebut meningkatkan keinginan Eropa untuk memproduksi lebih banyak persenjataan secara mandiri. Inggris, Jerman, Polandia, dan sejumlah negara lainnya, misalnya, sedang mengembangkan berbagai proyek rudal dengan jangkauan lebih dari 1.600 kilometer, sebuah kemampuan yang relatif minim dimiliki kawasan itu selama beberapa dekade terakhir.
Eropa sebenarnya sudah mandiri dalam sejumlah sistem persenjataan. Kapal perang buatan Eropa bahkan mencatat penjualan yang lebih tinggi dibandingkan produk sejenis dari Amerika Serikat di pasar global.Eropa meningkatkan pengadaan militernya setelah invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina pada 2022. Namun berbagai upaya tersebut sering kali berjalan tanpa koordinasi yang memadai sehingga menimbulkan tumpang tindih proyek, inefisiensi, kurangnya skala ekonomi, dan terkadang ketidakcocokan antarsistem.
Proyek lintas negara besar seperti FCAS awalnya diharapkan mampu mengatasi keterbatasan tersebut. Namun dalam praktiknya, kerja sama antara pemerintah dan kontraktor pertahanan dari berbagai negara sering kali terbukti sulit diwujudkan.Proyek ini telah mengalami berbagai perubahan selama dua dekade terakhir, tetapi mulai menghadapi hambatan serius tahun lalu ketika Chief Executive Dassault, Eric Trappier, bersikeras bahwa perusahaannya harus memimpin proyek karena rekam jejaknya dalam membangun pesawat tempur. Airbus, yang sebagian besar bisnis pertahanannya berada di Jerman, menolak pandangan tersebut.
Setelah berbagai pembahasan mengenai isu itu sepanjang tahun lalu, Kanselir Jerman Friedrich Merz dan Presiden Prancis Emmanuel Macron menyadari bahwa kedua perusahaan tersebut tidak dapat dipaksa untuk bekerja sama, kata pejabat Jerman itu. Dalam percakapan terakhirnya dengan Trappier, Merz mengusulkan agar Prancis melanjutkan sendiri pengembangan pesawat tempur dalam proyek tersebut.
Meskipun keputusan ini menjadi kemunduran bagi upaya membangun kemandirian pertahanan Eropa, Berlin berharap langkah tersebut dapat menghilangkan salah satu sumber ketegangan dengan Paris. Kedua negara saat ini sedang melaksanakan kesepakatan untuk memulai proses perluasan payung pencegahan nuklir Prancis kepada Jerman dan negara-negara Eropa lainnya.









