Afrika Selatan Jadi Gerbang Baru Ekspor Makanan Indonesia

0
236
Foto: Kemendag

(Vibizmedia – Cape Town, Afrika Selatan) Kementerian Perdagangan terus memperluas penetrasi produk Indonesia ke pasar Afrika, salah satunya melalui fasilitasi pelaku usaha dalam ajang Africa Food Show (AFS) yang berlangsung di Cape Town, Afrika Selatan, pada 10–12 Juni 2026. Tahun ini menjadi penyelenggaraan kedua AFS setelah rebranding dari Africa’s Big 7 yang telah eksis lebih dari dua dekade.

Selama pameran, Paviliun Indonesia mencatatkan potensi transaksi sebesar USD 1,65 juta. Produk rempah menjadi komoditas unggulan yang paling diminati, diikuti oleh produk sanitasi, kopi instan, kakao, dan kacang mete. Paviliun Indonesia juga menarik perhatian pengunjung dari berbagai negara, termasuk Afrika Selatan, Tanzania, Zimbabwe, Zambia, Pakistan, dan Uni Emirat Arab.

Konsul Jenderal RI Cape Town, Tudiono, menyampaikan bahwa keikutsertaan Indonesia dalam AFS menjadi langkah strategis untuk memperluas akses produk makanan dan minuman (mamin) ke pasar Afrika Selatan. Ia menilai Afrika Selatan memiliki infrastruktur paling maju di kawasan Afrika dan dapat menjadi pintu masuk ke negara-negara Afrika bagian selatan lainnya. Meski masih terdapat tantangan, ia menekankan pentingnya optimisme dalam menangkap peluang pasar yang ada.

Tudiono juga menyoroti besarnya komunitas keturunan Indonesia di Cape Town yang dapat menjadi kekuatan tambahan dalam mempromosikan produk Indonesia di kawasan tersebut. Hal ini menjadi dasar penguatan sinergi antara Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Johannesburg dan Indonesia Business Community (INDBIZCO) dalam partisipasi Indonesia di AFS 2026.

Kepala ITPC Johannesburg, Efri Yenni, menyampaikan bahwa Afrika Selatan kini menjadi salah satu pasar strategis yang semakin diperhatikan pelaku usaha Indonesia. Menurutnya, kolaborasi ITPC dan INDBIZCO bertujuan memperluas promosi produk makanan dan minuman Indonesia agar semakin dikenal oleh konsumen dan pelaku bisnis di Afrika Selatan.

Melalui kerja sama tersebut, Paviliun Indonesia seluas 72 meter persegi menghadirkan 12 pelaku usaha sektor makanan dan minuman, yakni BC President, Alco Langit Semesta, Cahaya Sinar Terang, Daesang MAMASUKA, iClean, Kapal Api Group, Khong Guan, Kobumi, Konimex, Manohara Asri, PT Persatuone Komoditas Indonesia, dan T3 Premium Tea.

Efri menegaskan bahwa peserta Paviliun Indonesia tidak hanya berasal dari perusahaan besar, tetapi juga melibatkan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Hal ini menunjukkan bahwa produk UMKM Indonesia memiliki kualitas yang mampu bersaing di pasar Afrika, khususnya Afrika Selatan. Upaya ini juga sejalan dengan strategi Kemendag dalam meningkatkan ekspor nasional sekaligus memperluas akses UMKM ke pasar global.

Presiden Direktur Kobumi, Etik Mei Wati, menyampaikan apresiasi atas dukungan ITPC Johannesburg dan KJRI Cape Town dalam keikutsertaan mereka di pameran tersebut. Ia berharap kontak bisnis yang diperoleh dapat segera ditindaklanjuti sehingga produk rempah dari Indonesia Timur dapat segera memasuki pasar Afrika Selatan.

Senada dengan itu, General Manager International Business Khong Guan Group, Karyl Mulyadi, menyatakan optimisme bahwa produk biskuit mereka akan diterima dengan baik oleh pasar Afrika Selatan dan negara-negara sekitarnya, berkat pengalaman panjang serta kapasitas produksi perusahaan.

Sebagai penutup rangkaian partisipasi Indonesia di AFS 2026, ITPC Johannesburg bersama KJRI Cape Town juga menggelar business matching antara pelaku usaha Indonesia dan mitra bisnis dari Cape Town. Kegiatan ini turut menjadi ajang promosi Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 yang akan diselenggarakan pada 14–18 Oktober 2026.

Efri Yenni menjelaskan bahwa melalui TEI, para pelaku usaha Afrika Selatan akan memiliki kesempatan bertemu dengan ribuan pelaku usaha Indonesia dari berbagai sektor, mulai dari manufaktur, fesyen, hingga furnitur. Kehadiran mereka di TEI diharapkan dapat membuka peluang kerja sama dan investasi yang lebih luas antara kedua negara.

Dari sisi kinerja perdagangan, ekspor Indonesia ke Afrika Selatan pada periode Januari–April 2026 tercatat meningkat 23,17 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, mencapai USD 348,3 juta. Sementara itu, ekspor produk makanan olahan Indonesia pada 2025 mencapai USD 30,7 juta, dengan komoditas utama berupa mi instan, bubuk cokelat, biskuit, dan kacang-kacangan, serta tumbuh 43,46 persen dibanding tahun sebelumnya.

Tren positif ini menunjukkan potensi besar produk makanan dan minuman Indonesia di pasar Afrika Selatan dan kawasan sekitarnya untuk terus berkembang.