BNPB Turun Langsung ke Sigi, Bantuan Rumah Rusak dan Tempat Ibadah Sementara Disiapkan

0
42
Bantuan Gempa
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menyempatkan berdiskusi dengan warga terdampak dan memberikan bantuan di Gereja Bala Keselamatan Korps 1, Desa Komarora, Kecamatan Nokilalaki, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Jumat, 19 Juni 2026. FOTO: BNPB

(Vibizmedia-Nasional) Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto, meninjau langsung wilayah terdampak gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 di Provinsi Sulawesi Tengah, Jumat (19/6). Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan penanganan darurat berjalan optimal sekaligus memperkuat koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah dalam percepatan pemulihan pascabencana.

Dalam kunjungannya, Suharyanto menyampaikan bahwa kehadiran BNPB di lokasi juga membawa pesan Presiden Prabowo Subianto yang menyampaikan duka cita mendalam kepada masyarakat terdampak.

“Kami ingin memastikan penanganan darurat pascagempa berjalan optimal serta kebutuhan masyarakat terdampak dapat terpenuhi dengan baik,” ujar Suharyanto.

Di Posko Lapangan Kecamatan Nokilalaki, Kabupaten Sigi, Kepala BNPB memimpin rapat koordinasi bersama pemerintah daerah, TNI, Polri, BPBD, dan unsur Forkopimda. Rapat membahas perkembangan situasi terkini, percepatan pendataan kerusakan, kebutuhan masyarakat, hingga langkah-langkah pemulihan yang harus segera dilakukan.

Menurut Suharyanto, penanganan pada hari keempat pascagempa menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Berbagai tenda pengungsian telah didirikan di dekat rumah warga sebagai langkah antisipasi apabila terjadi gempa susulan.

Selain dampak gempa, BNPB juga mewaspadai potensi bencana lanjutan berupa banjir bandang. Hasil pemantauan menggunakan drone menemukan sedikitnya 24 titik longsoran di kawasan perbukitan, dengan empat titik di antaranya mengalami penyumbatan aliran air akibat material longsor.

Kondisi tersebut berpotensi memicu penumpukan air saat hujan deras yang dapat menyebabkan banjir bandang ke wilayah permukiman. Sebagai langkah darurat, BNPB menginstruksikan pemantauan berkala dan pembukaan saluran air menggunakan pompa alkon pada titik-titik yang tersumbat.

“Apabila curah hujan meningkat, air yang tertahan berpotensi menimbulkan banjir bandang. Karena itu kami sepakat segera membuka bagian yang tersumbat,” kata Suharyanto.

Dalam kunjungan lapangan ke Desa Sejahtera, Kecamatan Palolo dan Desa Kamarora, Kecamatan Nokilalaki, Suharyanto meninjau langsung kerusakan rumah warga, fasilitas umum, serta tempat ibadah yang terdampak. Menjelang pelaksanaan ibadah Minggu, BNPB memastikan akan membangun gereja sementara bagi jemaat yang bangunan gerejanya mengalami kerusakan berat. Langkah serupa juga akan dilakukan terhadap masjid yang terdampak gempa.

“Gereja sementara akan segera kami bangun dengan tenda yang lebih besar agar masyarakat tetap dapat beribadah dengan nyaman. Untuk masjid juga akan mendapat perlakuan yang sama,” ujarnya.

Kehadiran BNPB mendapat apresiasi dari masyarakat. Salah seorang warga Desa Kamarora, Yansen, mengaku bantuan tenda pengungsian sangat membantu keluarganya bertahan di tengah cuaca dingin dan ancaman gempa susulan. Pemerintah juga memastikan warga yang rumahnya mengalami kerusakan akan memperoleh bantuan stimulan sesuai tingkat kerusakan bangunan.

Bantuan yang diberikan meliputi:

Rumah rusak ringan: Rp15 juta

Rumah rusak sedang: Rp30 juta

Rumah rusak berat: Rp60 juta

Selain itu, bagi warga dengan rumah rusak berat, BNPB akan menyalurkan Dana Tunggu Hunian (DTH) hingga hunian tetap selesai dibangun. Program tersebut memungkinkan warga menyewa rumah atau tinggal sementara bersama kerabat sambil menunggu pembangunan hunian permanen.

Berdasarkan hasil kaji cepat BPBD, Kabupaten Sigi menjadi wilayah yang mengalami dampak paling signifikan. Hingga Jumat (19/6), jumlah korban meninggal dunia tercatat tiga orang. Korban pertama meninggal akibat serangan jantung yang dipicu situasi darurat saat gempa terjadi. Korban kedua meninggal saat menjalani perawatan di RSUD Torabelo Sigi, sedangkan korban ketiga meninggal dunia di Rumah Sakit Bala Keselamatan Palu akibat luka yang diderita pascagempa.

Gempa utama berkekuatan magnitudo 6,7 mengguncang wilayah Sulawesi Tengah pada Selasa (16/6) pukul 11.27 WITA. Pusat gempa berada sekitar 42 kilometer tenggara Kota Palu, di wilayah Kabupaten Parigi Moutong dengan kedalaman 10 kilometer. Meski tidak berpotensi tsunami, guncangan kuat menyebabkan kerusakan bangunan dan kepanikan masyarakat.

Hingga Kamis (18/6), Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika mencatat sebanyak 703 gempa susulan telah terjadi. Gempa susulan terbesar mencapai magnitudo 5,2 dan terkecil magnitudo 1,3, dengan 25 kali guncangan masih dirasakan masyarakat. Kondisi tersebut membuat sebagian warga memilih tetap bertahan di tenda pengungsian karena khawatir terhadap potensi gempa susulan.

Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah telah menetapkan status tanggap darurat selama tujuh hari, mulai 17 hingga 23 Juni 2026, guna mempercepat mobilisasi sumber daya dan bantuan. BNPB juga telah menyalurkan berbagai bantuan logistik, termasuk ratusan paket sembako, tenda keluarga, matras, selimut, kasur lipat, perlengkapan anak, serta tenda untuk tempat ibadah sementara.

Di lapangan, personel TNI, Polri, relawan, dan berbagai unsur terkait terus bekerja membersihkan puing bangunan, mendistribusikan bantuan, serta mendukung operasional penanganan darurat. Melalui kunjungan ini, BNPB menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi pemerintah daerah dan masyarakat hingga proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana dapat berjalan tuntas, sehingga kehidupan warga terdampak dapat kembali pulih secara bertahap.