Dorong Industri Kreatif Naik Kelas, Pelaku Fesyen dan Kriya Diajak Pahami Perilaku Konsumen

0
92
Industri fesyen
Industri fesyen di Indonesia. FOTO: KOMDIGI

(Vibizmedia-Nasional) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat daya saing industri kreatif nasional dengan mendorong pelaku industri kecil dan menengah (IKM) sektor fesyen dan kriya untuk lebih memahami perilaku konsumen. Langkah ini dinilai penting agar produk yang dihasilkan tidak hanya kreatif dan inovatif, tetapi juga sesuai dengan kebutuhan pasar yang terus berkembang.

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, mengatakan bahwa pemahaman terhadap perilaku konsumen menjadi fondasi utama dalam memenangkan persaingan bisnis di era yang semakin dinamis.

“Pelaku industri kreatif perlu memiliki pondasi pengetahuan dan riset pasar yang kuat untuk dapat memenangkan persaingan bisnis pada masa mendatang. Karena itu, Kemenperin melalui Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) secara rutin menyelenggarakan workshop Creative Talk sebagai upaya memperkuat ekosistem industri kreatif dan meningkatkan daya saing pelaku usaha,” ujar Agus di Jakarta, Jumat (19/6).

Menurutnya, kreativitas dan inovasi harus berjalan beriringan dengan kemampuan membaca tren serta kebutuhan konsumen. Dengan demikian, produk yang dihasilkan tidak hanya menarik dari sisi desain, tetapi juga memiliki nilai jual yang tinggi karena sesuai dengan preferensi pasar.

Agus menegaskan, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadikan produk kreatif dalam negeri sebagai pemain utama di pasar domestik.

“Sudah saatnya produk kreatif Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Kita memiliki banyak perancang dan pelaku industri yang kreatif, inovatif, serta harus adaptif dalam memahami produk yang relevan untuk target pasar yang disasar,” katanya.

Sebagai bagian dari upaya pembinaan industri kreatif, BPIFK menggelar workshop Creative Talk bertajuk “Consumer Behavior: Memahami Konsumen untuk Mengembangkan Bisnis Kreatif” pada 11 Juni 2026 di Badung, Bali. Kegiatan tersebut menghadirkan akademisi dari Universitas Mahasaraswati Denpasar dan diikuti oleh para pelaku industri kreatif, khususnya sektor fesyen dan kriya.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA), Reni Yanita, menekankan bahwa keberhasilan sebuah produk sangat ditentukan oleh kemampuan pelaku usaha dalam memahami kebutuhan serta preferensi konsumen.

“Keberhasilan suatu produk tidak hanya ditentukan oleh kualitas dan kreativitas perancangnya, tetapi juga oleh kemampuan menjawab kebutuhan serta preferensi konsumen. Oleh karena itu, pelaku IKM perlu memahami perubahan perilaku pasar agar dapat menghasilkan produk yang tepat sasaran,” ujarnya.

Dalam workshop tersebut, peserta memperoleh berbagai materi terkait riset perilaku konsumen, mulai dari identifikasi kebutuhan dan kebiasaan pelanggan, faktor yang memengaruhi keputusan pembelian, penyusunan nilai tambah produk, hingga strategi pemasaran yang efektif sesuai target pasar.

Sementara itu, Kepala BPIFK, Dickie Sulistya Aprilyanto, menegaskan komitmen pihaknya untuk terus menghadirkan program pembinaan yang berorientasi pada peningkatan kapasitas bisnis dan pemasaran bagi pelaku industri kreatif.

“Memahami perilaku konsumen merupakan langkah awal yang sangat penting dalam membangun strategi bisnis yang tepat. BPIFK berkomitmen menjadi mitra bagi pelaku industri kreatif untuk meningkatkan kapasitasnya, mulai dari pengembangan produk hingga penyusunan strategi pemasaran yang sesuai dengan kebutuhan pasar,” ungkapnya.

Melalui program pembinaan yang berkelanjutan, Kemenperin berharap industri kreatif nasional semakin adaptif terhadap perubahan pasar, mampu meningkatkan nilai tambah produk, memperluas akses pasar, serta memperkuat kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.