MSCI Pertahankan Status Indonesia sebagai Emerging Market, Investor Global Dinilai Tetap Percaya

0
79
Bursa Efek Indonesia
Bursa Efek Indonesia. FOTO: VIBIZMEDIA.COM/HERWANTORO

(Vibizmedia-Nasional) Morgan Stanley Capital International (MSCI) resmi mempertahankan Indonesia dalam kelompok Emerging Market dalam hasil Global Market Accessibility Review 2026. Keputusan tersebut menjadi kabar positif bagi pasar modal nasional sekaligus menegaskan bahwa Indonesia masih menjadi salah satu tujuan investasi penting bagi investor global.

Meski MSCI menurunkan peringkat Indonesia pada aspek information flow atau arus informasi pasar, status Indonesia sebagai pasar berkembang tetap tidak berubah. Hal ini menunjukkan bahwa berbagai indikator utama terkait aksesibilitas dan infrastruktur pasar masih dinilai memenuhi standar yang ditetapkan MSCI.

Ketua Umum Perkumpulan Analis Efek Indonesia (PAEI), David Sutyanto, menilai hasil tinjauan MSCI perlu disikapi secara proporsional dan tidak dianggap sebagai sinyal negatif bagi pasar modal nasional.

“Hasil ini bukan sinyal negatif terhadap pasar modal Indonesia, melainkan menjadi momentum untuk memperkuat kualitas pasar agar semakin kompetitif di mata investor global,” ujar David kepada media.

Menurut David, sejumlah indikator utama dalam penilaian MSCI masih mencerminkan fondasi pasar yang kuat. Indonesia dinilai tetap memiliki daya tarik yang tinggi berkat infrastruktur pasar yang memadai, keterbukaan, serta kemudahan akses bagi investor.

Ini menunjukkan bahwa dari sisi infrastruktur, keterbukaan, dan aksesibilitas pasar, Indonesia tetap berada dalam radar utama investor global sebagai salah satu pasar berkembang penting di kawasan Asia Pasifik,” katanya.

David mengakui masih terdapat pekerjaan rumah terkait kualitas arus informasi. Namun, catatan tersebut dinilai bukan kelemahan struktural yang sulit diperbaiki, melainkan masukan penting bagi regulator, Bursa Efek Indonesia, emiten, analis, dan seluruh pelaku pasar.

“Justru ini menjadi masukan yang sangat penting untuk meningkatkan kualitas keterbukaan informasi, konsistensi komunikasi, serta akses data yang lebih setara bagi investor domestik maupun asing,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kualitas informasi kini menjadi salah satu faktor utama yang diperhatikan investor global. Selain ukuran dan likuiditas pasar, investor juga mempertimbangkan kemudahan memperoleh informasi yang kredibel, transparan, tepat waktu, dan sesuai standar internasional.

Karena itu, agenda perbaikan arus informasi perlu menjadi prioritas guna meningkatkan daya saing pasar modal Indonesia sekaligus memperkuat kepercayaan investor.

Pandangan serupa disampaikan Samuel Sekuritas Indonesia. Dalam riset terbarunya, perusahaan sekuritas tersebut menilai penurunan peringkat pada kriteria Information Flow belum cukup kuat untuk mengubah status Indonesia sebagai pasar berkembang.

Samuel Sekuritas menyoroti sejumlah faktor yang masih menjadi penopang utama posisi Indonesia di kelompok Emerging Market, antara lain kewajiban pengungkapan pemegang saham dengan kepemilikan minimal 1 persen, keberadaan kerangka kerja HSC, serta peta jalan peningkatan free float hingga 15 persen.

“Faktor-faktor itu cukup untuk mempertahankan status Indonesia sebagai Emerging Market,” tulis Samuel Sekuritas dalam risetnya.

Dengan tetap dipertahankannya status tersebut, Indonesia dinilai masih memiliki peluang besar untuk terus menarik aliran modal asing, sekaligus memperkuat posisinya sebagai salah satu pasar modal terbesar dan paling prospektif di kawasan Asia Tenggara.