Pembersihan Ranjau Jadi Prioritas Azerbaijan

0
118

(Vibizmedia – Internasional) Azerbaijan saat ini menghadapi tantangan besar dalam membersihkan ranjau dan berbagai sisa bahan peledak di sejumlah wilayah. Persoalan ini tidak hanya berkaitan dengan keamanan, tetapi juga berdampak langsung pada pembangunan infrastruktur, aktivitas ekonomi, dan upaya menciptakan kondisi yang aman bagi masyarakat.

Menurut estimasi resmi dari pemerintah Azerbaijan, lebih dari satu juta ranjau darat serta sejumlah sisa bahan peledak masih tersebar di sekitar 12 persen wilayah negara tersebut. Besarnya skala kontaminasi ini menjadikan pembersihan ranjau sebagai salah satu agenda penting dalam proses pemulihan nasional.

Dampak kemanusiaan dari ranjau darat ini juga signifikan. Berdasarkan data yang disampaikan oleh pihak pemerintahan Azerbaijan, sejak November 2020 terdapat 427 korban akibat insiden ranjau, terdiri dari 73 korban meninggal dunia dan 354 korban luka-luka. Warga sipil disebut menjadi mayoritas korban. Jika dihitung sejak 1991, jumlah korban ranjau di Azerbaijan dilaporkan telah melampaui 3.500 orang, termasuk perempuan dan anak-anak.

Karena itu, pembersihan ranjau menjadi awal yang sangat penting bagi pemulihan wilayah terdampak. Azerbaijan menempatkan aksi ranjau sebagai salah satu prioritas nasional. Lebih dari 90 persen kegiatan pembersihan ranjau di negara tersebut dibiayai oleh pemerintah pusat. Langkah ini menunjukkan keseriusan pemerintah Azerbaijan dalam menangani dampak kemanusiaan dari ranjau dan sisa bahan peledak.

Upaya tersebut dipimpin oleh Azerbaijan National Agency for Mine Action atau ANAMA. Menurut data ANAMA, sepanjang 2025 tim pembersihan ranjau telah membersihkan lebih dari 69.000 hektare lahan. Dalam operasi tersebut, lebih dari 52.000 sisa bahan peledak, hampir 5.000 ranjau anti-personel, dan lebih dari 1.800 ranjau anti-tank berhasil ditemukan dan dinetralisasi.

Meski demikian, pekerjaan yang tersisa masih sangat besar. Para ahli internasional memperkirakan bahwa pembersihan penuh wilayah yang terkontaminasi dapat memerlukan waktu puluhan tahun. Hal ini disebabkan oleh luasnya area terdampak, kompleksitas medan, serta kebutuhan untuk memastikan setiap proses dilakukan dengan standar keselamatan tinggi.

Selain mengandalkan kapasitas nasional, Azerbaijan juga mendorong kerja sama internasional dalam bidang aksi ranjau. Pada 2–3 September 2026, Baku dijadwalkan menjadi tuan rumah dari 4th International Mine Action Conference yang diselenggarakan bersama oleh ANAMA dan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Forum ini diharapkan mempertemukan perwakilan pemerintah, organisasi internasional, lembaga donor, serta para pakar teknis dari berbagai negara.

Konferensi tersebut akan menjadi ruang untuk berbagi pengalaman, membahas teknologi baru, dan memperkuat kolaborasi dalam pembersihan ranjau kemanusiaan. Bagi negara-negara yang menghadapi persoalan serupa, kerja sama semacam ini penting karena aksi ranjau membutuhkan pendanaan, keahlian teknis, dan komitmen jangka panjang.

Dalam konteks kerja sama regional, Azerbaijan juga memperkuat hubungan dengan ASEAN Regional Mine Action Center atau ARMAC. Dalam beberapa tahun terakhir, ANAMA dan ARMAC telah melakukan pertukaran pengalaman mengenai pembersihan ranjau kemanusiaan dan penguatan kapasitas. Kerja sama ini mencakup komunikasi dan pertukaran pengetahuan dengan ARMAC di bawah kepemimpinan Executive Director Rothna Buth, khususnya terkait pemulihan dan pembangunan berkelanjutan di wilayah terdampak ranjau.

Pengalaman Azerbaijan menunjukkan bahwa ranjau darat bukan hanya persoalan keamanan, tetapi juga persoalan kemanusiaan dan pembangunan. Setiap lahan yang berhasil dibersihkan dapat membuka jalan bagi pembangunan infrastruktur, pemulihan ekonomi lokal, dan kehidupan masyarakat yang lebih aman.