Kemenperin Perkuat Industri Perhiasan, Ekspor Tembus USD 9,1 Miliar

0
266
Foto: Kemenperin

(Vibizmedia – Jakarta) Kementerian Perindustrian terus mendorong pengembangan industri perhiasan nasional sebagai salah satu subsektor manufaktur bernilai tambah tinggi yang berkontribusi signifikan terhadap ekspor Indonesia. Upaya ini dilakukan melalui berbagai program pembinaan, peningkatan kapasitas industri, transformasi teknologi, serta perluasan akses pasar dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan.

Salah satu langkah strategis yang ditempuh adalah dukungan terhadap penyelenggaraan Bandung Jewellery Fair (BJF) 2026 yang berlangsung pada 11–14 Juni 2026. Pameran yang memasuki tahun kedua ini menjadi ajang bagi pelaku industri untuk mempromosikan produk unggulan, memperluas jejaring bisnis, menghadirkan inovasi terbaru, sekaligus memperkuat posisi industri perhiasan Indonesia di pasar global.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan bahwa industri perhiasan memiliki karakteristik unik karena memadukan kreativitas, keterampilan, budaya, dan teknologi dalam menghasilkan produk bernilai tinggi. Selain berperan sebagai penyumbang devisa, sektor ini juga menjadi sarana pelestarian nilai budaya sekaligus pencipta lapangan kerja di berbagai daerah.

Kinerja industri perhiasan nasional menunjukkan tren positif. Sepanjang Januari–Desember 2025, nilai ekspor perhiasan dan barang berharga mencapai USD 9,1 miliar, meningkat 64,73 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar USD 5,5 miliar. Capaian ini menegaskan daya saing produk perhiasan Indonesia yang semakin kuat di pasar internasional.

Untuk menjaga momentum tersebut, penguatan kualitas produk, inovasi desain, keberlanjutan usaha, serta kemampuan merespons tren global terus didorong. Pemerintah menilai ekosistem industri perlu diperkuat agar mampu meningkatkan produktivitas dan daya saing secara berkelanjutan.

Meski prospeknya cerah, industri perhiasan masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti ketidakpastian ekonomi global, fluktuasi harga bahan baku, perubahan preferensi konsumen, serta tuntutan transformasi digital yang semakin cepat. Oleh karena itu, diperlukan sinergi erat antara pemerintah, asosiasi, dan pelaku usaha.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA), Reni Yanita, menegaskan bahwa transformasi digital dan implementasi Industri 4.0 menjadi kunci dalam meningkatkan daya saing industri perhiasan. Pemanfaatan teknologi dinilai mampu meningkatkan efisiensi, mempercepat inovasi, serta menghasilkan produk yang lebih presisi dan sesuai kebutuhan pasar.

Sebagai bagian dari transformasi tersebut, Kemenperin telah melakukan penilaian Indonesia Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0) terhadap sejumlah pelaku industri, termasuk sektor logam mulia dan perhiasan. Hasilnya menunjukkan tingkat kematangan yang baik dalam penerapan teknologi digital, mulai dari digitalisasi sistem manajemen hingga integrasi teknologi cerdas dalam proses produksi.

Direktur Industri Aneka, Reny Meilany, menambahkan bahwa BJF 2026 menghadirkan beragam produk, mulai dari perhiasan emas, perak, mutiara, berlian, hingga batu alam dan kerajinan bernilai tinggi. Menurutnya, pameran menjadi instrumen strategis untuk memperkuat ekosistem industri melalui promosi, kolaborasi, serta pembukaan peluang investasi.

“Pameran seperti Bandung Jewellery Fair tidak hanya mempertemukan produsen dan pembeli, tetapi juga menjadi ruang bertemunya ide, inovasi, dan peluang kerja sama yang dapat memperkuat daya saing industri perhiasan Indonesia,” ujarnya.

Dengan berbagai langkah tersebut, Kementerian Perindustrian optimistis industri perhiasan nasional akan terus tumbuh, semakin kompetitif di pasar global, serta memberikan kontribusi yang lebih besar bagi perekonomian nasional.